Gambar Hanya ilustrasi.
Wonoyoso – Suasana bulan suci Ramadhan di Desa Wonoyoso selalu terasa berbeda dengan adanya tradisi memukul bedug di Masjid Jami’. Tradisi ini rutin dilakukan setiap malam tepat pukul 12.00 WIB sebagai tanda semangat ibadah dan kebersamaan warga dalam menyambut Ramadhan.
Kegiatan memukul bedug ini dilakukan oleh para remaja masjid setelah mereka selesai melaksanakan tadarus Al-Qur’an. Setelah lantunan ayat suci Al-Qur’an menggema di dalam masjid, bunyi bedug kemudian dipukul dengan penuh semangat sebagai simbol syiar Islam dan pelestarian budaya religi yang telah berlangsung turun-temurun.
Menurut warga setempat, tradisi ini bukan hanya sekadar kegiatan rutin, tetapi juga menjadi bagian penting dalam menjaga kekompakan generasi muda agar tetap aktif dalam kegiatan keagamaan.
“Setelah tadarus, anak-anak remaja masjid memukul bedug sebagai tanda bahwa malam Ramadhan masih hidup dengan ibadah,” ujar salah satu tokoh masyarakat.
Tradisi ini pun mendapat dukungan penuh dari masyarakat Desa Wonoyoso. Selain menjadi ciri khas Ramadhan di desa tersebut, kegiatan ini juga menjadi sarana mempererat ukhuwah islamiyah dan menumbuhkan rasa cinta remaja terhadap masjid.
Dengan terus dijaga dan dilestarikan, tradisi memukul bedug tengah malam di Masjid Jami’ Desa Wonoyoso diharapkan tetap menjadi warisan budaya islami yang terus hidup dari generasi ke generasi.
Share This :

0 Comments