PR NU Simbangwetan Adakan Sunnah Qurban di Dukuh Pulosari Ds Wonosido Kec Lebakbarang


 

Nahdlatul Ulama Ranting Simbangwetan kembali menggelar kegiatan Sunnah Qurban sebagai bentuk kepedulian sosial dan syiar keagamaan kepada masyarakat. Kegiatan tersebut dilaksanakan di Dukuh Pulosari, Desa Wonosido, Kecamatan Lebakbarang, dengan melibatkan jajaran pengurus ranting, badan otonom (Banom), serta masyarakat setempat.

Program Sunnah Qurban ini merupakan agenda rutin yang setiap tahun dilaksanakan oleh PR NU Simbangwetan sebagai wujud pengamalan nilai-nilai keikhlasan, kebersamaan, dan kepedulian terhadap sesama. Selain penyembelihan dan pendistribusian daging qurban, kegiatan juga menjadi sarana mempererat tali silaturahmi antara warga Nahdliyin dan masyarakat di daerah yang menjadi lokasi pelaksanaan. �

Ketua panitia menyampaikan bahwa kegiatan tersebut terlaksana berkat dukungan para donatur, pengurus NU, Banom NU, serta masyarakat yang turut berpartisipasi dalam menyukseskan pelaksanaan qurban. Ia berharap kegiatan ini dapat memberikan manfaat bagi masyarakat penerima serta menjadi sarana memperkuat ukhuwah Islamiyah di tengah kehidupan bermasyarakat.

Masyarakat Dukuh Pulosari menyambut antusias kegiatan tersebut. Selain menerima daging qurban, warga juga turut bergotong royong dalam proses pelaksanaan kegiatan sejak persiapan hingga pendistribusian. Semangat kebersamaan dan kekeluargaan tampak mewarnai seluruh rangkaian acara. �

Melalui kegiatan Sunnah Qurban ini, PR NU Simbangwetan berharap dapat terus menebarkan manfaat, memperkuat nilai-nilai sosial keagamaan, serta menghadirkan keberkahan bagi masyarakat, khususnya di wilayah Dukuh Pulosari, Desa Wonosido, Kecamatan Lebakbarang.

Agama Mawa

       

 
        Sang Kyai pernah dhawuh, "Mengamalkan dan memperjuangkan syariat Islam ing jaman akhir iku ibarat nggegem mowo. Senajan panas kudu tetep digenggem kenceng. Ngrasakke panas sitik ng ndonyo orapopolah tinimbang ngrasakke panas suwe ng akhirat." 

        Aku mencoba mengulang sedikit kalam beliau yang belum aku paham sampai sekarang. Lalu aku bertanya pada diriku sendiri; Dimana tempat mencari mowo? Bolehkah mowo ini ditaruh sebentar saja untuk leren dari rasa panas dan kembali lagi setelah siap menggenggam? Atau bolehkah kalau menggenggam mowonya memakai sarung tangan anti panas?

#ngenyang

Kontributor : Sanjoku

PR GP Ansor Simbang Wetan Gelar Rutinan Rijalul Ansor di Mushola Al Mujahidin

 


Simbang Wetan – Pimpinan Ranting (PR) GP Ansor Simbang Wetan kembali mengadakan kegiatan rutin Majelis Dzikir & Sholawat Rijalul Ansor yang berlangsung pada Rabu malam, 28 April 2026, bertempat di Musholla Al Mujahiddin, Simbang Wetan.

Kegiatan yang dimulai pukul 19.30 WIB ini diikuti oleh kader Ansor, Banser, serta masyarakat sekitar. Rangkaian acara meliputi pembacaan Maulid Al-Barzanji dan kajian kitab I’yanatul Ibad, yang bertujuan memperdalam pemahaman keagamaan sekaligus memperkuat kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW.

Suasana berlangsung dengan penuh kekhusyukan, di mana para jamaah larut dalam lantunan dzikir dan sholawat. Kegiatan ini juga menjadi sarana silaturahmi antar pemuda serta masyarakat, sekaligus mempererat ukhuwah islamiyah di lingkungan Desa Simbang Wetan.

Pengurus PR GP Ansor Simbang Wetan menyampaikan bahwa rutinan ini merupakan bagian dari komitmen organisasi dalam menjaga tradisi keagamaan Ahlussunnah wal Jama’ah. “Melalui Rijalul Ansor, kami berharap para kader semakin solid, berakhlak, dan aktif dalam kegiatan sosial keagamaan di masyarakat,” ujarnya.

Dengan terselenggaranya kegiatan ini secara rutin, diharapkan nilai-nilai spiritual dan kebersamaan terus terjaga, serta mampu menjadi benteng moral bagi generasi muda di tengah perkembangan zaman.

PAC GP ANSOR KECAMATAN BUARAN GELAR RUTINAN RIJALUL ANSOR, HALAL BI HALAL, DAN PERINGATAN HARLAH KE-92

 


Buaran – Pimpinan Anak Cabang (PAC) GP Ansor Kecamatan Buaran kembali menggelar kegiatan rutin Rijalul Ansor yang dirangkaikan dengan acara Halal bi Halal serta peringatan Hari Lahir (Harlah) GP Ansor ke-92. Kegiatan tersebut berlangsung khidmat di Mushola Roudhotul Huda, Watusalam Gang 4.

Acara ini dihadiri oleh jajaran pengurus PAC GP Ansor, anggota Banser, serta para kader Ansor dari berbagai ranting di wilayah Kecamatan Buaran. Kegiatan diawali dengan pembacaan Sholawat Albarzanji, dilanjutkan dengan sholawat dan pembacaan dzikir bersama khas Rijalul Ansor yang dipimpin oleh para pengurus,Mauidhoh Hasanah diisi oleh Gus Zimam dari Rijalul ansor PC GP Ansor kabubaten Pekalongan.

Dalam suasana penuh kebersamaan, momen Halal bi Halal dimanfaatkan untuk saling bermaafan antar anggota, mempererat tali silaturahmi pasca Hari Raya Idul Fitri. Kehangatan dan kekompakan tampak jelas dari para peserta yang hadir dengan penuh semangat.

Ketua PAC GP Ansor Kecamatan Buaran dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan ini tidak hanya menjadi rutinitas spiritual, tetapi juga sebagai sarana memperkuat soliditas organisasi serta meningkatkan kecintaan terhadap Nahdlatul Ulama dan ajaran Ahlussunnah wal Jamaah.

“Melalui kegiatan Rijalul Ansor ini, kita berharap para kader tetap istiqomah dalam menjaga tradisi keagamaan, serta terus berkontribusi dalam menjaga keutuhan bangsa dan agama,” ujarnya.



Peringatan Harlah GP Ansor ke-92 juga menjadi momentum refleksi perjalanan panjang organisasi dalam mengawal nilai-nilai keislaman dan kebangsaan. Para kader diharapkan mampu meneruskan perjuangan dengan semangat yang lebih kuat, adaptif, dan tetap berpegang pada nilai-nilai luhur.

Acara ditutup dengan doa bersama, memohon keberkahan serta kekuatan bagi seluruh kader GP Ansor agar senantiasa diberi keistiqomahan dalam berkhidmat kepada agama, bangsa, dan masyarakat.

Dengan terselenggaranya kegiatan ini, PAC GP Ansor Kecamatan Buaran menunjukkan komitmennya dalam menjaga tradisi, mempererat ukhuwah, serta memperkuat peran pemuda dalam kehidupan sosial keagamaan di tengah masyarakat.

Musik pada Masa Dinasti Umayyah dan Abbasiyah

 

Ilustrasi ini dibuat menggunakan AI

Musik merupakan salah satu bagian penting dalam perkembangan kebudayaan Islam klasik. Pada masa Dinasti Umayyah (661–750 M) dan Dinasti Abbasiyah (750–1258 M), seni musik mengalami perkembangan yang cukup pesat. Musik tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga menjadi bagian dari kehidupan sosial, budaya, dan intelektual masyarakat pada masa tersebut.

Musik pada Masa Dinasti Umayyah

Pada masa Dinasti Umayyah, pusat pemerintahan berada di Damaskus. Pada periode ini, musik mulai berkembang dengan pengaruh dari berbagai budaya seperti Persia, Bizantium, dan Arab pra-Islam.

Beberapa ciri perkembangan musik pada masa ini antara lain:

Munculnya penyanyi dan musisi profesional

Para penyanyi dan pemain musik mulai dikenal di lingkungan istana maupun masyarakat umum. Mereka sering diundang untuk menghibur para khalifah dan pejabat kerajaan.

Pengembangan gaya musik Arab

Musik Arab mulai mengalami penyempurnaan, terutama dalam teknik vokal dan penggunaan alat musik.

Tokoh musisi terkenal

Salah satu musisi terkenal pada masa ini adalah Ibn Misjah, yang dikenal sebagai pelopor pengembangan musik Arab dengan memadukan unsur musik Persia dan Bizantium.

Peran perempuan dalam musik

Banyak penyanyi perempuan yang terkenal pada masa ini dan sering tampil di lingkungan istana.

Secara umum, musik pada masa Umayyah masih berada pada tahap awal perkembangan namun sudah menunjukkan kemajuan yang signifikan.

Musik pada Masa Dinasti Abbasiyah

Perkembangan musik mencapai puncaknya pada masa Dinasti Abbasiyah, terutama ketika ibu kota berada di Baghdad. Kota ini menjadi pusat ilmu pengetahuan, seni, dan kebudayaan dunia Islam.

Beberapa perkembangan penting musik pada masa Abbasiyah antara lain:

Musik menjadi bagian dari budaya istana

Para khalifah Abbasiyah, seperti Harun al-Rasyid, sangat menghargai seni musik. Istana sering menjadi tempat pertunjukan musik dan puisi.

Munculnya teori musik

Pada masa ini, musik tidak hanya dipraktikkan tetapi juga dipelajari secara ilmiah. Para ilmuwan mulai menulis teori tentang harmoni, nada, dan alat musik.

Tokoh musisi dan ilmuwan musik

Salah satu tokoh paling terkenal adalah Ishaq al-Mawsili, seorang penyanyi dan komposer besar yang berpengaruh dalam perkembangan musik di Baghdad.

Pengaruh budaya yang luas

Musik Abbasiyah dipengaruhi oleh budaya Persia, Yunani, dan India. Hal ini membuat musik pada masa ini lebih kompleks dan kaya.

Alat Musik yang Digunakan

Beberapa alat musik yang populer pada masa Umayyah dan Abbasiyah antara lain:

Oud (alat musik petik mirip gitar)

Rebab (alat musik gesek)

Nay (seruling)

Daf (rebana)

Alat-alat musik ini banyak digunakan dalam pertunjukan istana maupun acara sosial.

Kesimpulan

Musik pada masa Dinasti Umayyah dan Dinasti Abbasiyah mengalami perkembangan yang cukup pesat. Pada masa Umayyah, musik mulai berkembang dan mendapatkan tempat di masyarakat. Sementara pada masa Abbasiyah, musik mencapai masa keemasan dengan dukungan para khalifah, munculnya musisi terkenal, serta berkembangnya teori musik. Perkembangan ini menunjukkan bahwa seni musik memiliki peran penting dalam sejarah kebudayaan Islam.