Sabtu, 28 Februari 2026

Hikmah Memperbanyak Bacaan Al-Qur’an dan Khatamnya


 

Al-Qur’an adalah kalam Allah yang menjadi petunjuk hidup bagi umat manusia. Para ulama dan orang-orang saleh sejak dahulu memberikan perhatian besar terhadap bacaan Al-Qur’an, baik dalam memperbanyak tilawah maupun mengkhatamkannya dalam waktu-waktu tertentu. Riwayat-riwayat yang disebutkan dalam kitab ini menunjukkan kesungguhan mereka dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an.

Tradisi Para Salaf dalam Mengkhatamkan Al-Qur’an

Diriwayatkan bahwa sebagian ulama terdahulu memiliki kebiasaan mengkhatamkan Al-Qur’an dalam rentang waktu yang berbeda-beda. Ada yang mengkhatamkan dalam sebulan, sepuluh hari, tujuh hari, bahkan tiga hari. Sebagian lagi mampu mengkhatamkan dalam satu atau dua hari, terutama pada bulan Ramadan.

Pada bulan Ramadan, semangat membaca Al-Qur’an semakin meningkat. Hal ini meneladani Rasulullah ﷺ yang setiap Ramadan bertadarus bersama Malaikat Jibril. Karena itu, para ulama memperbanyak tilawah pada bulan yang penuh berkah tersebut.

Disebutkan pula bahwa ada di antara mereka yang membagi waktu siang dan malam untuk membaca, bahkan ada yang mengkhatamkan beberapa kali dalam sehari. Ini menunjukkan tingginya kedudukan Al-Qur’an dalam hati mereka serta kuatnya kecintaan terhadap firman Allah.

Keseimbangan Antara Kuantitas dan Tadabbur

Walaupun memperbanyak bacaan merupakan amalan yang utama, para ulama juga menegaskan pentingnya menjaga kualitas bacaan. Membaca dengan tartil, memahami makna, serta menghadirkan hati lebih utama daripada sekadar cepat menyelesaikan khatam tanpa perenungan.

Al-Qur’an bukan hanya untuk dibaca, tetapi juga untuk ditadabburi dan diamalkan. Maka yang terbaik adalah menggabungkan antara banyaknya bacaan dan kedalaman pemahaman sesuai kemampuan masing-masing.

Keutamaan Mengkhatamkan Al-Qur’an

Mengkhatamkan Al-Qur’an merupakan ibadah yang agung. Dalam banyak riwayat disebutkan bahwa doa setelah khatam memiliki keutamaan tersendiri. Selain itu, memperbanyak bacaan menjadi sebab bertambahnya pahala, karena setiap huruf yang dibaca bernilai kebaikan yang dilipatgandakan.

Namun demikian, kitab ini juga mengingatkan agar tidak menjadikan kebiasaan mempercepat bacaan sebagai ajang kebanggaan atau perlombaan tanpa adab. Bacaan hendaknya tetap dijaga dengan tajwid dan kekhusyukan.

Pelajaran yang Dapat Diambil

Menjadikan Al-Qur’an sebagai bacaan harian.

Memperbanyak tilawah di bulan Ramadan.

Menjaga keseimbangan antara kuantitas dan kualitas bacaan.

Menghidupkan malam dengan membaca Al-Qur’an.

Mengikuti teladan para ulama dalam kecintaan terhadap firman Allah.

Pada akhirnya, yang menjadi tujuan utama bukan sekadar banyaknya khatam, tetapi bagaimana Al-Qur’an membentuk akhlak dan kehidupan seorang Muslim. Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang senantiasa dekat dengan Al-Qur’an, membacanya, memahami maknanya, dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Aamiin.

Rabu, 25 Februari 2026

Shalat Tarawih: Sejarah, Hukum, dan Jumlah Rakaatnya

 


1. Hikmah Disyariatkannya Tarawih

Shalat tarawih merupakan ibadah sunnah yang sangat dianjurkan pada bulan Ramadhan. Ia termasuk qiyam Ramadhan yang memiliki keutamaan besar, sebagaimana sabda Nabi ﷺ bahwa siapa yang menghidupkan Ramadhan dengan iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.

Pada masa Rasulullah ﷺ, beliau pernah melaksanakan shalat tarawih secara berjamaah bersama para sahabat di masjid. Namun kemudian beliau tidak melanjutkannya secara rutin berjamaah karena khawatir akan diwajibkan atas umatnya. Hal ini menunjukkan kasih sayang Nabi ﷺ kepada umatnya agar tidak terbebani.

2. Praktik Tarawih di Masa Sahabat

Setelah wafatnya Rasulullah ﷺ, kaum muslimin pada masa khalifah Umar bin Khattab رضي الله عنه melaksanakan tarawih secara berjamaah. Pada awalnya, mereka shalat sendiri-sendiri atau dalam kelompok kecil di masjid.

Melihat kondisi tersebut, Umar رضي الله عنه berinisiatif mengumpulkan mereka di bawah satu imam, yaitu Ubay bin Ka‘ab رضي الله عنه. Beliau berkata, “Sebaik-baik bid‘ah adalah ini,” maksudnya adalah pembaruan dalam bentuk pengaturan teknis pelaksanaan, bukan bid‘ah dalam arti menyimpang dari syariat. Karena hakikatnya, tarawih berjamaah telah dilakukan sebelumnya oleh Rasulullah ﷺ.

Sejak saat itu, shalat tarawih berjamaah menjadi tradisi kaum muslimin dan terus diamalkan hingga sekarang.

3. Jumlah Rakaat Shalat Tarawih

Dalam kitab tersebut dijelaskan bahwa riwayat tentang jumlah rakaat tarawih memang beragam.

Sebagian riwayat menyebutkan 11 rakaat atau 13 rakaat, sebagaimana diriwayatkan dari Aisyah رضي الله عنها tentang qiyam Rasulullah ﷺ.

Pada masa Umar bin Khattab رضي الله عنه, kaum muslimin melaksanakan tarawih sebanyak 20 rakaat.

Mayoritas ulama dari empat mazhab (Hanafi, Maliki, Syafi‘i, dan Hanbali) berpendapat bahwa tarawih adalah 20 rakaat, ditambah witir.

Perbedaan ini menunjukkan keluasan syariat Islam. Jumlah rakaat bukanlah inti utama, melainkan kekhusyukan, keikhlasan, dan kesungguhan dalam menghidupkan malam Ramadhan.

4. Bacaan dalam Shalat Tarawih

Pada masa sahabat dan tabi‘in, para imam membaca ayat-ayat yang panjang dalam tarawih. Bahkan diriwayatkan bahwa ada yang mengkhatamkan Al-Qur’an dalam shalat tarawih selama bulan Ramadhan.

Hal ini menunjukkan bahwa tarawih bukan sekadar shalat tambahan, tetapi momentum untuk memperbanyak interaksi dengan Al-Qur’an, memperdalam tadabbur, dan menghidupkan malam dengan ibadah.

5. Tarawih Berjamaah atau Sendiri?

Para ulama menjelaskan bahwa shalat tarawih boleh dilakukan sendiri maupun berjamaah. Namun berjamaah di masjid lebih utama karena:

Menghidupkan syiar Islam.

Menguatkan ukhuwah.

Mengikuti praktik para sahabat.

Lebih memotivasi dalam menjaga konsistensi ibadah.

Akan tetapi, jika seseorang lebih khusyuk shalat di rumah, maka itu pun dibolehkan.

Penutup

Shalat tarawih adalah warisan sunnah yang agung. Ia telah dipraktikkan oleh Rasulullah ﷺ, dihidupkan kembali secara berjamaah oleh Umar bin Khattab رضي الله عنه, dan diteruskan oleh generasi setelahnya.

Perbedaan jumlah rakaat tidak seharusnya menjadi sebab perpecahan, karena semuanya memiliki dasar riwayat. Yang terpenting adalah menghidupkan malam Ramadhan dengan iman, harap akan pahala, dan hati yang khusyuk.

Selasa, 24 Februari 2026

Hukum dan Hikmah Seputar Puasa Ramadhan


 

Bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh rahmat, ampunan, dan pembebasan dari api neraka. Dalam kitab yang ditampilkan, dibahas beberapa hukum penting terkait puasa, khususnya tentang hubungan suami istri di malam hari Ramadhan, serta kafarah (denda) bagi yang melanggar larangan puasa di siang hari.

Keringanan di Malam Ramadhan

Pada awal diwajibkannya puasa, kaum muslimin memiliki ketentuan yang cukup berat. Jika seseorang telah tidur setelah berbuka, maka ia tidak lagi diperbolehkan makan, minum, atau berhubungan dengan istrinya hingga malam berikutnya. Ketentuan ini kemudian diringankan dengan turunnya firman Allah dalam Surah Al-Baqarah ayat 187 yang membolehkan hubungan suami istri di malam hari Ramadhan.

Allah berfirman bahwa Dia mengetahui sebagian kaum muslimin “mengkhianati diri mereka sendiri”, yakni melanggar aturan tersebut secara sembunyi-sembunyi. Maka Allah menerima taubat mereka dan memberikan keringanan. Ayat ini menunjukkan kasih sayang Allah kepada hamba-Nya serta bahwa syariat Islam dibangun di atas kemudahan, bukan kesulitan.

Kisah Sahabat dan Turunnya Ayat

Dalam kitab tersebut juga disebutkan riwayat tentang beberapa sahabat yang merasa berat dengan aturan awal tersebut. Di antaranya ada yang tertidur sebelum sempat makan, sehingga keesokan harinya ia tetap berpuasa dalam keadaan lemah. Ada pula yang melakukan hubungan suami istri setelah tidur dan merasa bersalah, lalu mengadukan hal itu kepada Rasulullah ﷺ. Maka turunlah ayat yang memberikan keringanan tersebut.

Peristiwa ini menjadi pelajaran bahwa Islam sangat memperhatikan kondisi manusia dan tidak membebani di luar kemampuan.

Kafarah bagi yang Berjima’ di Siang Hari

Kitab ini juga membahas hukum bagi orang yang dengan sengaja berhubungan suami istri di siang hari Ramadhan. Perbuatan ini termasuk pelanggaran berat dan mewajibkan:

Mengqadha puasa hari tersebut.

Membayar kafarah secara berurutan:

Memerdekakan budak (jika ada dan mampu),

Jika tidak mampu, berpuasa dua bulan berturut-turut,

Jika tidak mampu juga, memberi makan enam puluh orang miskin.

Hal ini berdasarkan hadis sahih tentang seorang laki-laki yang datang kepada Rasulullah ﷺ mengaku telah berhubungan dengan istrinya di siang Ramadhan. Nabi ﷺ menuntunnya melalui tahapan kafarah sesuai kemampuannya. Ketika ia tidak mampu melaksanakan semuanya, Rasulullah ﷺ menunjukkan kelembutan dan kasih sayang dalam menyelesaikan masalahnya.

Dari kisah ini tampak bahwa syariat tetap tegas dalam hukum, namun penuh rahmat dalam penerapan.

Pendapat Ulama tentang Kafarah

Dalam kitab tersebut juga disinggung perbedaan pendapat ulama tentang rincian kafarah, terutama apakah boleh memilih di antara tiga pilihan atau harus berurutan. Mayoritas ulama berpendapat bahwa kafarah dilakukan secara tertib (berurutan), sebagaimana urutan dalam hadis.

Selain itu, kafarah ini khusus bagi yang melakukan jima’ (hubungan suami istri) secara sengaja di siang hari Ramadhan. Adapun pelanggaran lain seperti makan dan minum dengan sengaja tetap berdosa dan wajib qadha, namun tidak sampai pada kafarah besar menurut pendapat yang kuat.

Hikmah dan Pelajaran

Beberapa hikmah yang dapat diambil:

Syariat Islam bersifat bertahap dan penuh kasih sayang.

Allah mengetahui kelemahan hamba-Nya dan membuka pintu taubat.

Puasa bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menjaga hawa nafsu.

Pelanggaran terhadap kesucian Ramadhan memiliki konsekuensi serius.

Taubat dan kejujuran kepada Allah dan Rasul-Nya adalah jalan keselamatan.

Ramadhan adalah madrasah kesabaran dan pengendalian diri. Dengan memahami hukum-hukum yang berkaitan dengannya, seorang muslim akan lebih berhati-hati dalam menjaga puasanya serta lebih bersyukur atas kemudahan yang Allah berikan.

Semoga kita termasuk hamba-hamba yang mampu menjaga kesucian Ramadhan dan meraih keberkahannya. Aamiin.

Senin, 23 Februari 2026

Hikmah Puasa dan Bahaya Berlebihan Saat Berbuka

 



Puasa disyariatkan bukan sekadar menahan lapar dan haus, tetapi sebagai jalan penyucian jiwa dan penguatan ruhani. Dalam penjelasan para ulama disebutkan bahwa pada awalnya umat terdahulu juga diwajibkan berpuasa, kemudian Allah meringankan dan menyempurnakan syariat ini bagi umat Nabi Muhammad ﷺ sebagai bentuk rahmat dan kemuliaan.

Puasa mengandung hikmah besar. Ia mendidik manusia untuk mengendalikan nafsu makan, minum, dan syahwat. Dengan berpuasa, seorang hamba belajar menahan diri dari hal-hal yang sebenarnya halal pada waktu tertentu, demi ketaatan kepada Allah. Inilah latihan pengendalian diri yang sangat berharga. Ketika seseorang mampu menahan yang halal, maka seharusnya ia lebih mampu menjauhi yang haram.

Hikmah dalam Berbuka

Dalam kitab tersebut dijelaskan bahwa faedah puasa tidak akan sempurna jika seseorang justru berlebihan ketika berbuka. Tujuan puasa adalah melemahkan dorongan hawa nafsu, bukan malah menguatkannya kembali dengan makan dan minum secara berlebihan. Jika sepanjang hari menahan lapar, lalu saat berbuka melampiaskan dengan aneka hidangan, maka hikmah puasa menjadi berkurang.

Berlebih-lebihan dalam makan saat berbuka dan sahur dapat mengeraskan hati dan melemahkan semangat ibadah. Perut yang terlalu kenyang seringkali membuat seseorang malas untuk shalat malam, berdzikir, dan membaca Al-Qur’an. Padahal Ramadhan adalah bulan peningkatan ibadah, bukan bulan pesta makanan.

Karena itu, para salafus shalih dahulu sangat menjaga diri ketika berbuka. Mereka makan secukupnya, sekadar untuk menguatkan badan agar tetap semangat beribadah. Fokus utama mereka adalah meraih keberkahan dan ampunan, bukan kenikmatan duniawi.

Teladan Rasulullah ﷺ

Dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa Nabi ﷺ memiliki kekhususan yang Allah berikan, sebagaimana sabda beliau bahwa beliau “diberi makan dan minum oleh Allah.” Para ulama menjelaskan bahwa hal ini merupakan kemuliaan khusus bagi beliau, bukan untuk ditiru secara harfiah oleh umatnya. Intinya, Rasulullah ﷺ menunjukkan bahwa kekuatan ruhani jauh lebih utama daripada sekadar kekuatan jasmani.

Beliau juga mencontohkan kesederhanaan dalam berbuka. Cukup dengan beberapa butir kurma atau air, lalu dilanjutkan dengan shalat. Ini menunjukkan keseimbangan antara kebutuhan tubuh dan kepentingan ibadah.

Peringatan dari Para Ulama

Dalam kitab tersebut juga dikutip nasihat seorang ulama besar yang mengingatkan bahwa puasa akan menjadi sia-sia jika diiringi dengan sikap berlebihan dalam makanan dan minuman. Jika seseorang berpuasa namun saat berbuka justru menumpuk makanan dan mengikuti hawa nafsu, maka ia kehilangan esensi puasa itu sendiri.

Puasa seharusnya melembutkan hati, menumbuhkan rasa empati kepada fakir miskin, dan menguatkan kesabaran. Namun jika yang terjadi adalah sebaliknya—lalai, malas ibadah, dan sibuk dengan hidangan—maka yang tersisa hanya lapar dan haus tanpa nilai spiritual yang mendalam.

Menjadikan Puasa sebagai Ibadah Sejati

Puasa yang ideal adalah puasa yang menjaga lahir dan batin. Lahirnya menahan makan dan minum, batinnya menahan diri dari dosa dan maksiat. Berbuka dilakukan dengan sederhana dan penuh syukur, bukan dengan sikap berlebihan.

Dengan demikian, Ramadhan benar-benar menjadi bulan pembinaan diri. Ia melatih disiplin, kesederhanaan, dan keikhlasan. Jika dijalani dengan benar, puasa akan melahirkan pribadi yang lebih sabar, lebih lembut hatinya, dan lebih dekat kepada Allah.

Semoga kita termasuk orang-orang yang tidak hanya berpuasa secara fisik, tetapi juga meraih hikmah dan rahasia besar di balik ibadah yang mulia ini.

Minggu, 22 Februari 2026

Hikmah dan Keutamaan Puasa Ramadhan Part 3

 


Puasa Ramadhan merupakan ibadah yang memiliki kekhususan dibandingkan puasa pada waktu-waktu lainnya. Ia bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi sebuah ibadah yang sarat makna, rahasia, dan hikmah yang dalam. Dalam kitab tersebut dijelaskan bahwa kewajiban puasa Ramadhan adalah perintah Allah yang penuh kasih sayang, sebagai sarana pensucian jiwa dan pendekatan diri kepada-Nya.

Allah Ta‘ala berfirman bahwa puasa diwajibkan sebagaimana telah diwajibkan kepada umat-umat terdahulu. Ini menunjukkan bahwa puasa bukan hanya syariat umat Nabi Muhammad ﷺ, melainkan ibadah universal yang telah dikenal dalam ajaran para nabi sebelumnya. Namun, bentuk dan ketentuannya berbeda-beda sesuai dengan hikmah dan kondisi masing-masing umat.

Dalam penjelasan kitab, disebutkan bahwa pada sebagian umat terdahulu, puasa memiliki aturan yang lebih berat. Ada yang berpuasa dengan tambahan hari tertentu, bahkan ada yang mengubah waktu pelaksanaannya. Hal ini terjadi karena campur tangan manusia dalam syariat, sehingga ketentuannya tidak lagi murni sebagaimana diperintahkan. Berbeda dengan umat Islam, Allah menjaga syariat puasa Ramadhan tetap utuh dan jelas, dengan batasan waktu yang tegas: satu bulan penuh pada bulan Ramadhan.

Dijelaskan pula tentang hikmah penetapan puasa selama tiga puluh hari. Ada riwayat yang mengaitkannya dengan kisah Nabi Adam ‘alaihis salam, ketika beliau memohon ampun kepada Allah dan berpuasa selama tiga puluh hari sebagai bentuk taubat. Riwayat ini menggambarkan bahwa puasa memiliki hubungan erat dengan penyucian diri dan penghapusan dosa.

Puasa juga menjadi sarana untuk menundukkan hawa nafsu. Empat kenikmatan dunia—makan, minum, hubungan suami-istri, dan tidur—apabila berlebihan dapat melalaikan manusia dari Allah. Dengan puasa, seorang hamba belajar mengendalikan diri, menahan syahwat, serta melatih kesabaran. Pada siang hari ia menahan diri, dan pada malam hari Allah memberikan keringanan untuk makan dan minum sebagai bentuk rahmat dan kemudahan bagi umat ini.

Selain itu, penentuan Ramadhan berdasarkan peredaran bulan (hilal) menunjukkan kemudahan dalam syariat Islam. Umat tidak dibebani dengan perhitungan yang rumit; cukup dengan rukyat atau penyempurnaan bilangan bulan. Hal ini mencerminkan bahwa Islam adalah agama yang sesuai dengan fitrah dan dapat dijalankan oleh seluruh lapisan masyarakat.

Keistimewaan Ramadhan semakin sempurna karena di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia. Bukan hanya Al-Qur’an, kitab-kitab sebelumnya seperti Taurat, Zabur, dan Injil juga disebutkan diturunkan pada bulan yang mulia ini. Puncak kemuliaannya adalah adanya Lailatul Qadar, malam yang lebih baik dari seribu bulan.

Dengan demikian, puasa Ramadhan bukan sekadar kewajiban tahunan, melainkan momentum besar untuk memperbaiki diri. Ia adalah madrasah ruhani yang melatih kesabaran, keikhlasan, dan ketakwaan. Siapa yang menjalankannya dengan iman dan penuh pengharapan kepada Allah, maka ia akan meraih ampunan serta peningkatan derajat di sisi-Nya.

Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang mampu memahami hikmah puasa dan mengamalkannya dengan sebaik-baiknya.

Sabtu, 21 Februari 2026

Keutamaan Bulan Ramadhan: Bulan Penuh Berkah dan Ampunan Part 2

 


Bulan Ramadhan adalah bulan yang sangat mulia dalam Islam. Ia bukan sekadar bulan puasa, tetapi juga bulan yang dipenuhi rahmat, ampunan, dan kesempatan besar bagi setiap muslim untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Dalam berbagai hikayat dan riwayat yang terdapat dalam kitab tersebut, dijelaskan bahwa Ramadhan merupakan bulan yang istimewa, di mana pintu-pintu kebaikan dibuka lebar, sementara pintu keburukan ditutup.

Ramadhan Bulan yang Lebih Baik dari Seribu Bulan

Di antara keistimewaan terbesar Ramadhan adalah adanya malam yang lebih baik daripada seribu bulan, yaitu Lailatul Qadar. Malam ini merupakan malam penuh kemuliaan, di mana amal ibadah seorang hamba bernilai lebih tinggi daripada ibadah selama ribuan bulan.

Karena itulah, kaum muslimin dianjurkan memperbanyak ibadah, doa, dan munajat kepada Allah, terutama pada malam-malam terakhir Ramadhan.

Pintu Surga Dibuka dan Setan Dibelenggu

Kitab tersebut juga menjelaskan hadis Rasulullah SAW bahwa ketika Ramadhan datang:

Pintu-pintu surga dibuka

Pintu-pintu neraka ditutup

Setan-setan dibelenggu

Ini menjadi tanda bahwa Ramadhan adalah momentum besar untuk memperbaiki diri. Allah memberikan kemudahan bagi hamba-Nya untuk melakukan kebaikan, menjauhi maksiat, dan memperbanyak amal saleh.

Amal Utama di Bulan Ramadhan

Dalam kisah-kisah yang disebutkan, terdapat beberapa amalan yang sangat ditekankan selama Ramadhan:

1. Tilawah Al-Qur’an

Ramadhan disebut sebagai bulan Al-Qur’an. Orang-orang saleh terdahulu memperbanyak membaca dan mentadabburi Al-Qur’an sepanjang bulan ini.

2. Menjaga Lisan dan Akhlak

Puasa bukan hanya menahan lapar dan haus, tetapi juga menahan diri dari ucapan yang buruk, ghibah, dan perbuatan sia-sia.

3. Qiyamul Lail dan Tarawih

Ramadhan adalah bulan di mana kaum muslimin dianjurkan menghidupkan malam dengan shalat, doa, dan istighfar.

4. Sedekah dan Kebaikan Sosial

Bulan ini juga menjadi waktu terbaik untuk berbagi kepada sesama, membantu orang miskin, dan memperbanyak amal sosial.

Teladan Orang-Orang Saleh dalam Memuliakan Ramadhan

Kitab tersebut memuat hikayat tentang bagaimana para ulama dan orang-orang saleh sangat memuliakan bulan Ramadhan. Mereka menyambutnya dengan kegembiraan, memperbanyak ibadah, serta menjadikan Ramadhan sebagai kesempatan memperbaiki kehidupan rohani.

Bahkan disebutkan bahwa mereka merasa sedih ketika Ramadhan akan berakhir, karena bulan tersebut adalah ladang pahala yang sangat luas.

Ramadhan Bulan Ampunan bagi Umat Islam

Di akhir pembahasan, kitab tersebut menegaskan bahwa Ramadhan adalah bulan pengampunan. Siapa yang bersungguh-sungguh beribadah dan memohon ampun kepada Allah, maka Allah akan menghapus dosa-dosanya.

Rasulullah SAW juga mengingatkan bahwa orang yang melewati Ramadhan tanpa mendapatkan ampunan adalah orang yang merugi.

Penutup

Ramadhan adalah bulan yang penuh keberkahan, rahmat, dan ampunan. Bulan ini adalah kesempatan besar bagi setiap muslim untuk memperbaiki diri, memperbanyak amal, dan mendekatkan hati kepada Allah SWT.

Semoga kita semua termasuk orang-orang yang mampu memuliakan Ramadhan dengan ibadah terbaik, menjaga akhlak, memperbanyak Al-Qur’an, dan meraih ampunan serta ridha Allah.

Kamis, 19 Februari 2026

Keutamaan Bulan Ramadhan: Bulan Penuh Berkah dan Ampunan

Bulan Ramadhan adalah bulan yang sangat mulia dalam Islam. Ia bukan sekadar bulan puasa, tetapi juga bulan yang dipenuhi rahmat, ampunan, dan kesempatan besar bagi setiap muslim untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Dalam berbagai hikayat dan riwayat yang terdapat dalam kitab tersebut, dijelaskan bahwa Ramadhan merupakan bulan yang istimewa, di mana pintu-pintu kebaikan dibuka lebar, sementara pintu keburukan ditutup.

Ramadhan Bulan yang Lebih Baik dari Seribu Bulan

Di antara keistimewaan terbesar Ramadhan adalah adanya malam yang lebih baik daripada seribu bulan, yaitu Lailatul Qadar. Malam ini merupakan malam penuh kemuliaan, di mana amal ibadah seorang hamba bernilai lebih tinggi daripada ibadah selama ribuan bulan.

Karena itulah, kaum muslimin dianjurkan memperbanyak ibadah, doa, dan munajat kepada Allah, terutama pada malam-malam terakhir Ramadhan.

Pintu Surga Dibuka dan Setan Dibelenggu

Kitab tersebut juga menjelaskan hadis Rasulullah SAW bahwa ketika Ramadhan datang:

Pintu-pintu surga dibuka

Pintu-pintu neraka ditutup

Setan-setan dibelenggu

Ini menjadi tanda bahwa Ramadhan adalah momentum besar untuk memperbaiki diri. Allah memberikan kemudahan bagi hamba-Nya untuk melakukan kebaikan, menjauhi maksiat, dan memperbanyak amal saleh.

Amal Utama di Bulan Ramadhan

Dalam kisah-kisah yang disebutkan, terdapat beberapa amalan yang sangat ditekankan selama Ramadhan:

1. Tilawah Al-Qur’an

Ramadhan disebut sebagai bulan Al-Qur’an. Orang-orang saleh terdahulu memperbanyak membaca dan mentadabburi Al-Qur’an sepanjang bulan ini.

2. Menjaga Lisan dan Akhlak

Puasa bukan hanya menahan lapar dan haus, tetapi juga menahan diri dari ucapan yang buruk, ghibah, dan perbuatan sia-sia.

3. Qiyamul Lail dan Tarawih

Ramadhan adalah bulan di mana kaum muslimin dianjurkan menghidupkan malam dengan shalat, doa, dan istighfar.

4. Sedekah dan Kebaikan Sosial

Bulan ini juga menjadi waktu terbaik untuk berbagi kepada sesama, membantu orang miskin, dan memperbanyak amal sosial.

Teladan Orang-Orang Saleh dalam Memuliakan Ramadhan

Kitab tersebut memuat hikayat tentang bagaimana para ulama dan orang-orang saleh sangat memuliakan bulan Ramadhan. Mereka menyambutnya dengan kegembiraan, memperbanyak ibadah, serta menjadikan Ramadhan sebagai kesempatan memperbaiki kehidupan rohani.

Bahkan disebutkan bahwa mereka merasa sedih ketika Ramadhan akan berakhir, karena bulan tersebut adalah ladang pahala yang sangat luas.

Ramadhan Bulan Ampunan bagi Umat Islam

Di akhir pembahasan, kitab tersebut menegaskan bahwa Ramadhan adalah bulan pengampunan. Siapa yang bersungguh-sungguh beribadah dan memohon ampun kepada Allah, maka Allah akan menghapus dosa-dosanya.

Rasulullah SAW juga mengingatkan bahwa orang yang melewati Ramadhan tanpa mendapatkan ampunan adalah orang yang merugi.

Penutup

Ramadhan adalah bulan yang penuh keberkahan, rahmat, dan ampunan. Bulan ini adalah kesempatan besar bagi setiap muslim untuk memperbaiki diri, memperbanyak amal, dan mendekatkan hati kepada Allah SWT.

Semoga kita semua termasuk orang-orang yang mampu memuliakan Ramadhan dengan ibadah terbaik, menjaga akhlak, memperbanyak Al-Qur’an, dan meraih ampunan serta ridha Allah.

Jumat, 12 Desember 2025

Gerakan Bersih Sungai Warnai Pelaksanaan RKTL PKD dan Diklatsar Ansor–Banser Kecamatan Buaran

 


Buaran — Rangkaian Kegiatan Tindak Lanjut (RKTL) Pelatihan Kepemimpinan Dasar (PKD) dan Pendidikan Latihan Dasar (Diklatsar) Ansor–Banser Kecamatan Buaran diwarnai aksi nyata peduli lingkungan melalui Gerakan Bersih Sungai yang dilaksanakan pada Jum'at pagi 12/12/2025

Kegiatan ini melibatkan puluhan peserta PKD dan Diklatsar bersama para pengurus PAC GP Ansor Buaran. Mereka bergerak serentak membersihkan aliran sungai di wilayah Buaran dengan memungut sampah, mengangkat sedimen, serta menata bantaran agar lebih rapi dan aman.

Ketua PAC GP Ansor Buaran, Sahabat Hilman, menyampaikan bahwa aksi bersih sungai ini merupakan implementasi langsung nilai-nilai sosial, kemasyarakatan, dan kepemimpinan yang diajarkan selama pelatihan.

“Ansor–Banser tidak hanya hadir dalam kegiatan keamanan dan keagamaan, tetapi juga wajib memberi manfaat nyata bagi lingkungan dan masyarakat. Gerakan bersih sungai ini adalah bentuk kepedulian kita terhadap alam sekitar,” ujarnya.

Peserta PKD dan Diklatsar terlihat antusias mengikuti kegiatan. Selain sebagai ajang pengabdian, kegiatan ini juga menjadi sarana penguatan kebersamaan, kedisiplinan, dan jiwa gotong royong.

Warga sekitar pun menyambut baik kegiatan ini dan berharap aksi seperti ini dapat menjadi agenda rutin. Lingkungan sungai yang bersih diharapkan dapat mencegah banjir, menjaga kesehatan, sekaligus memperindah kawasan.

Melalui Gerakan Bersih Sungai ini, Ansor–Banser Kecamatan Buaran menegaskan komitmennya untuk hadir sebagai garda depan dalam menjaga alam dan lingkungan, sejalan dengan semangat “Khidmah Tanpa Batas”.

Jumat, 17 Oktober 2025

PAC GP Ansor Buaran Gelar Rutinan Rijalul Ansor di Aula Masjid Al-Uswah

 


Buaran, Pekalongan – Pimpinan Anak Cabang (PAC) Gerakan Pemuda Ansor Kecamatan Buaran kembali menggelar kegiatan Rutinan Rijalul Ansor di Aula Masjid Al-Uswah, pada [Jum'at/17  Oktober 2025].

Kegiatan yang diikuti oleh para kader Ansor dan Banser dari berbagai ranting di wilayah Buaran ini berlangsung khidmat dan penuh semangat kebersamaan. Acara diawali dengan pembacaan sholawat nariyah, dilanjutkan dengan tawassul, pembacaan maulid simtudduror, serta tausiyah keagamaan.

Dalam sambutannya, Ketua PAC GP Ansor Buaran, Adrik Hilman, menyampaikan bahwa kegiatan rutinan ini menjadi ajang memperkuat spiritualitas kader sekaligus mempererat tali silaturahmi antaranggota.

> “Rijalul Ansor bukan hanya majelis dzikir, tetapi juga ruang pembinaan rohani agar kader Ansor dan Banser tetap teguh dalam perjuangan, berakhlak, dan cinta kepada Rasulullah SAW,” ujarnya.

Acara ditutup dengan doa bersama untuk keselamatan bangsa, organisasi, serta para masyayikh Nahdlatul Ulama.

Dengan adanya kegiatan rutin seperti ini, diharapkan semangat keagamaan dan militansi kader Ansor Buaran semakin kokoh dalam mengabdi kepada agama, bangsa, dan organisasi.

Selasa, 14 Oktober 2025

Tiga Orang Tua yang Harus Dimuliakan Menurut Ajaran Islam

Dalam ajaran Islam, setiap individu tidak hanya memiliki dua orang tua yang harus dihormati, melainkan tiga sosok “orang tua” yang wajib dimuliakan. Ketiganya memiliki peran besar dalam membentuk kehidupan, karakter, dan jalan kebahagiaan seseorang.

1. Orang Tua yang Melahirkan

Mereka adalah ayah dan ibu kandung yang memiliki jasa paling besar dalam hidup kita. Terutama seorang ibu yang dengan penuh pengorbanan mengandung, melahirkan, dan merawat anaknya dengan kasih sayang tanpa batas — bahkan rela bertaruh nyawa demi kehidupan buah hatinya.


Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

> وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

"Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan 'ah' dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik."

(QS. Al-Isra’: 23)

> وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا

"Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah: 'Wahai Tuhanku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil.'"

(QS. Al-Isra’: 24)

Dari merekalah kita belajar tentang cinta, kesabaran, dan pengorbanan sejati. Mereka menanam benih keimanan (akidah tauhid), menumbuhkan ketaatan (syariah), serta memetik buah kebajikan (akhlak karimah). Maka, keberhasilan seorang anak sejatinya tidak pernah lepas dari doa dan peran orang tuanya.

2. Orang Tua yang Mengajarkan

Sosok ini adalah para guru — mereka yang dengan tulus mengajarkan ilmu, menanamkan nilai, dan menumbuhkan potensi dalam diri kita. Jika orang tua kandung melahirkan dan membesarkan, maka guru melatih dan menumbuhkan agar anak menjadi insan yang berilmu dan berakhlak.


Guru bukan sekadar penyampai pengetahuan (transfer of knowledge), tetapi juga penanam nilai-nilai kemuliaan (transfer of value), pengembang keterampilan dan kemandirian (transfer of skill), serta pengajar kebijaksanaan (transfer of wisdom).

Murid yang hebat tidak lahir begitu saja, melainkan dari tangan dan bimbingan guru yang tulus dan berilmu. Rasulullah SAW bersabda:

> لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يُجِلَّ كَبِيرَنَا، وَيَرْحَمْ صَغِيرَنَا، وَيَعْرِفْ لِعَالِمِنَا حَقَّهُ

“Tidak termasuk golongan kami orang yang tidak memuliakan yang lebih tua, tidak menyayangi yang lebih muda, dan tidak mengetahui hak orang berilmu (agar diutamakan pandangannya).”

(HR. Ahmad)

Guru adalah pencerah kehidupan, penerus tugas para nabi dalam menuntun manusia menuju jalan kebenaran.

3. Orang Tua yang Menikahkan

Sosok ketiga yang patut dimuliakan adalah mertua, yaitu orang tua dari pasangan hidup kita. Jika orang tua kandung melahirkan dan membesarkan, guru mendidik dan mengajarkan, maka mertua menyerahkan putra atau putrinya kepada kita dengan penuh keikhlasan dan harapan.

Mereka mempercayakan anak yang telah mereka rawat dan didik dengan penuh cinta, agar menjadi pendamping hidup yang membawa kebahagiaan dan keberkahan.

Rasulullah SAW bersabda:


> "Yang paling berhak atas seorang wanita adalah suaminya, dan yang paling berhak atas seorang lelaki adalah ibunya."

(HR. Tirmidzi)

Hadis ini mengajarkan agar seorang menantu menghormati dan memuliakan orang tua dari pasangan hidupnya. Sebab, pasangan yang baik dan saleh adalah hasil didikan dari kedua orang tuanya.

Jumat, 12 September 2025

Pendaftaran PKD dan Diklatsar Buaran Resmi Dibuka, Segera Isi Formulirnya

Buaran – Panitia resmi mengumumkan bahwa pendaftaran Pelatihan Kader Dasar (PKD) dan Pendidikan Latihan Dasar (Diklatsar) di Buaran telah dibuka. Kegiatan ini menjadi bagian penting dalam proses pengkaderan dan pembekalan anggota agar memiliki wawasan kebangsaan, kedisiplinan, serta jiwa kepemimpinan yang kuat.

Bagi calon peserta yang ingin bergabung, panitia telah menyiapkan formulir pendaftaran yang dapat diakses secara online melalui tautan resmi berikut:

Formulir Pendaftaran PKD dan Diklatsar Buaran

Tujuan Kegiatan

Kegiatan PKD dan Diklatsar ini bertujuan untuk:

Membentuk kader yang militan, berkarakter, serta berwawasan kebangsaan.

Melatih kedisiplinan dan kepemimpinan sejak dini.

Menjadi wadah pembelajaran serta pengabdian bagi generasi muda.

Informasi Tambahan

Panitia mengimbau kepada seluruh calon peserta agar segera mengakses formulir, melengkapi data dengan benar, serta mengikuti petunjuk pendaftaran yang telah ditetapkan.

Dengan adanya kegiatan ini, diharapkan akan lahir kader-kader tangguh yang siap berkontribusi untuk organisasi, masyarakat, bangsa, dan negara.

Minggu, 07 September 2025

Gerhana "Bulan Darah" Akan Terjadi Malam Ini, NU Ajak Nahdliyin Gelar Sholat Gerhana

Pekalongan– Fenomena langka gerhana bulan total atau yang dikenal sebagai "Bulan Darah" diperkirakan akan terjadi pada malam ini, Minggu (7/9/2025). Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebutkan bahwa masyarakat di sebagian besar wilayah Indonesia dapat menyaksikan langsung fenomena tersebut, selama kondisi langit cerah.

Gerhana bulan total terjadi ketika posisi bumi berada di antara matahari dan bulan, sehingga bayangan bumi menutupi bulan sepenuhnya. Warna kemerahan pada bulan disebabkan oleh pembiasan cahaya matahari oleh atmosfer bumi.

Menanggapi fenomena ini, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengajak warga Nahdliyin untuk melaksanakan sholat gerhana sebagai bentuk syukur sekaligus mempertebal keimanan.

“Gerhana adalah tanda kebesaran Allah SWT, bukan sekadar fenomena astronomi. Karena itu, umat Islam dianjurkan untuk mengerjakan sholat gerhana, memperbanyak doa, serta sedekah,” ujar Ketua Lembaga Falakiyah PBNU dalam keterangan resminya.

NU juga mengimbau agar pelaksanaan sholat gerhana dilakukan secara berjamaah di masjid maupun mushala, sembari mengingatkan jamaah untuk tidak sekadar menyaksikan fenomena ini secara ilmiah, tetapi juga menjadikannya momentum mendekatkan diri kepada Allah.

Fenomena Bulan Darah kali ini diperkirakan akan berlangsung selama lebih dari satu jam, dengan puncak gerhana terjadi sekitar pukul 20.15 WIB.


Kontributor : Hafidh Muhammad

Jumat, 18 Juli 2025

Rutinan Semaan Al-Qur’an PAC GP Ansor Kecamatan Buaran: Menyatukan Hati dalam Cahaya Al-Qur’an


Buaran, 18 Juli 2025 — Pimpinan Anak Cabang Gerakan Pemuda Ansor (PAC GP Ansor) Kecamatan Buaran kembali melaksanakan kegiatan rutin bulanan Semaan Al-Qur’an, yang digelar setiap bulan sebagai bentuk komitmen spiritual dan dakwah kader Ansor di tengah masyarakat.

Pada kesempatan bulan ini, kegiatan Semaan Al-Qur’an dilaksanakan di kediaman sahabat Ustadz Khairul Umam, salah satu tokoh muda NU yang aktif dalam pembinaan keagamaan di lingkungan Kecamatan Buaran. Kegiatan dimulai sejak pagi dan diikuti oleh para kader GP Ansor serta masyarakat sekitar dengan penuh kekhusyukan.

Semaan Al-Qur’an merupakan agenda rutin yang bertujuan untuk:

Menjaga semangat keislaman dan ukhuwah di antara kader dan masyarakat,

Menguatkan budaya literasi Al-Qur’an sebagai sumber utama pedoman hidup umat Islam,

Menumbuhkan ketenangan batin serta semangat dakwah yang berlandaskan rahmatan lil ‘alamin.


Dalam suasana yang penuh kekeluargaan dan semangat kebersamaan, para peserta secara bergantian membaca ayat-ayat suci Al-Qur’an hingga khatam. Kegiatan ini juga diisi dengan doa bersama, tausiyah singkat, serta ramah tamah sebagai sarana mempererat tali silaturahmi antar anggota.

Ketua PAC GP Ansor Kecamatan Buaran, dalam sambutannya, menyampaikan bahwa kegiatan ini tidak hanya menjadi sarana ibadah, tetapi juga bentuk nyata kaderisasi ruhani yang perlu dijaga dan dilestarikan. “InsyaAllah, lewat kegiatan seperti ini, kita tidak hanya memperkuat diri secara pribadi, tapi juga membangun peradaban Islam yang damai dan berkeadaban,” ujarnya.

Rutinan Semaan Al-Qur’an GP Ansor Buaran ini akan terus dilanjutkan setiap bulan dengan lokasi bergilir di rumah para kader dan tokoh masyarakat, sebagai bentuk syiar dan penguatan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jama’ah di tengah kehidupan bermasyarakat.

Kamis, 17 Juli 2025

6 Dampak Negatif Sekolah 5 Hari: Benarkah Solusi atau Tambah Masalah?



Belakangan ini wacana penerapan 5 hari sekolah (Full Day School) kembali mencuat. Bagi sebagian pihak, gagasan ini mungkin terdengar keren dan modern. Tapi, jangan buru-buru setuju sebelum melihat dampak negatifnya secara lebih jernih.

Berikut adalah 6 dampak yang patut jadi pertimbangan sebelum FDS diterapkan secara luas:

1. Pendidikan Keagamaan Nonformal Terancam Hilang
Anak-anak yang pulang sekolah menjelang sore otomatis kehilangan waktu untuk ikut Madrasah Diniyah atau kegiatan keagamaan lainnya.

Padahal, madrasah diniyah selama ini bukan sekadar tempat belajar doa atau hafalan. Di sana anak-anak belajar akhlak, adab, dan pemahaman keislaman yang tak selalu diajarkan di sekolah formal. Jika kegiatan ini hilang, jangan heran kalau nanti muncul krisis karakter spiritual dan moral di generasi muda.

2. Anak Makin Lelah, Stres Mengintai
Belajar seharian penuh jelas bikin fisik dan mental anak terkuras. Apalagi bagi anak-anak di desa yang harus berangkat subuh dan pulang saat adzan maghrib berkumandang.

Akibatnya? Stres, kelelahan, dan konsentrasi belajar menurun. Bukannya makin pintar, bisa-bisa malah makin letih.

3. Kehilangan Waktu Bersosialisasi
Dulu, sepulang sekolah anak-anak bisa bermain dengan teman sebaya, membantu orang tua di ladang, atau ikut TPQ dan kegiatan remaja masjid.

Jika sekolah berlangsung seharian penuh, waktu untuk berinteraksi di luar sekolah jadi hilang. Anak-anak berpotensi tumbuh menjadi pribadi yang terasing dari lingkungan dan kehilangan jati diri sosial.

4. Sulit Diterapkan di Daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, Terluar)
Full Day School mungkin cocok untuk kota besar dengan fasilitas lengkap. Tapi bagaimana dengan sekolah di pelosok?

Banyak sekolah di desa belum punya kantin, ruang istirahat, atau air bersih yang memadai.

Transportasi juga sering jadi masalah, apalagi kalau pulang sore hari.

Ini justru bisa menambah beban fisik dan ekonomi bagi siswa dan orang tua di daerah terpencil.

5. Peran Orang Tua dalam Pendidikan Anak Menyusut
Jika anak terlalu lama di sekolah, otomatis waktu berkualitas bersama keluarga berkurang. Orang tua makin sulit memantau perkembangan perilaku dan sikap anak di rumah.

Lama-lama, pendidikan karakter yang seharusnya ditanamkan di rumah pun makin pudar.

6. Kesenjangan Sosial di Dunia Pendidikan
Sekolah-sekolah besar dengan fasilitas lengkap mungkin mampu menjalankan Full Day School dengan baik. Tapi sekolah kecil atau swasta bisa saja keteteran.

Ini berisiko melahirkan kesenjangan pendidikan yang makin lebar. Yang kaya makin maju, yang kecil dan miskin makin tertinggal.

Senin, 19 Mei 2025

Wayang Golek: Budaya yang Harus Dilestarikan di Kecamatan Buaran

 


Wayang golek adalah salah satu warisan budaya Indonesia yang sangat kaya akan nilai seni, sejarah, dan filosofi kehidupan. Seni pertunjukan ini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya masyarakat Sunda, khususnya di Jawa Barat. Di Kecamatan Buaran, upaya pelestarian wayang golek menjadi penting untuk menjaga identitas budaya sekaligus memperkaya kehidupan masyarakat setempat.

Sejarah Wayang Golek

Wayang golek berasal dari tradisi Sunda yang telah berkembang selama berabad-abad. Pertunjukan ini biasanya menggunakan boneka kayu yang diukir dengan indah dan dimainkan oleh seorang dalang. Dalang tidak hanya menggerakkan boneka, tetapi juga menceritakan kisah, menyanyikan lagu, dan berinteraksi dengan penonton. Cerita yang disampaikan sering kali diambil dari kisah epik seperti Ramayana dan Mahabharata, namun dengan sentuhan lokal yang khas.

Makna Budaya Wayang Golek

Wayang golek bukan sekadar hiburan, melainkan juga sarana pendidikan dan refleksi moral. Dalam setiap pertunjukan, terdapat pesan-pesan yang mengajarkan nilai-nilai seperti kejujuran, keberanian, dan tanggung jawab. Selain itu, wayang golek juga mencerminkan kehidupan sehari-hari masyarakat dan menjadi cermin dinamika sosial serta politik.

Kondisi di Kecamatan Buaran

Di Kecamatan Buaran, seni wayang golek mulai menghadapi tantangan seperti menurunnya minat generasi muda, keterbatasan dalang yang aktif, dan kurangnya dukungan infrastruktur budaya. Namun, potensi untuk menghidupkan kembali seni ini masih sangat besar. Kecamatan Buaran memiliki komunitas budaya yang aktif dan masyarakat yang peduli terhadap warisan leluhur.

Upaya Pelestarian Wayang Golek

Untuk memastikan wayang golek tetap hidup dan relevan, berbagai langkah dapat dilakukan:

  1. Pendidikan Budaya Mengintegrasikan wayang golek dalam kurikulum sekolah melalui kegiatan ekstrakurikuler atau pelajaran seni budaya. Ini dapat memperkenalkan anak-anak pada kekayaan budaya mereka sejak dini.

  2. Pelatihan Dalang Muda Menyelenggarakan pelatihan untuk generasi muda yang berminat menjadi dalang. Dengan demikian, regenerasi pelaku seni wayang golek dapat terjaga.

  3. Pertunjukan Rutin Mengadakan pertunjukan wayang golek secara rutin di ruang-ruang publik, seperti balai desa atau alun-alun, untuk mendekatkan seni ini kepada masyarakat.

  4. Festival Budaya Menyelenggarakan festival wayang golek yang melibatkan komunitas lokal, seniman, dan pelajar. Festival ini tidak hanya mempromosikan seni wayang golek tetapi juga menjadi ajang silaturahmi budaya.

  5. Dukungan Pemerintah Pemerintah Kecamatan Buaran dapat memberikan dukungan berupa dana, fasilitas, atau promosi untuk kegiatan pelestarian wayang golek.

Penutup

Wayang golek adalah harta budaya yang tak ternilai. Di tengah arus modernisasi, Kecamatan Buaran memiliki tanggung jawab moral untuk melestarikan seni ini sebagai warisan leluhur. Dengan semangat gotong royong dan komitmen bersama, wayang golek dapat terus menjadi bagian hidup masyarakat, memberikan inspirasi, dan menjaga identitas budaya lokal. Mari kita lestarikan wayang golek, karena budaya adalah jiwa bangsa.

Media Ansor Buaran: Menjadi Tolak Ukur Media GP Ansor di Kabupaten Pekalongan

 


Di tengah dinamika organisasi kepemudaan, Media Ansor Buaran telah muncul sebagai pionir dalam pengelolaan informasi dan komunikasi di lingkungan Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kabupaten Pekalongan. Sebagai platform resmi dari Pimpinan Anak Cabang (PAC) GP Ansor Kecamatan Buaran, media ini tidak hanya menyajikan berita kegiatan, tetapi juga menjadi pusat edukasi dan dakwah digital yang inspiratif.

Media Ansor Buaran dikenal dengan konsistensinya dalam menyajikan berbagai konten yang mencakup kegiatan keagamaan, sosial, dan kepemudaan. Mulai dari liputan kegiatan seperti khitanan massal di Desa Wonoyoso hingga penyelenggaraan turnamen olahraga seperti Sorban Cup Badminton di Paweden , media ini berhasil mendokumentasikan aktivitas GP Ansor secara menyeluruh.

Selain itu, Media Ansor Buaran juga aktif dalam menyajikan artikel keislaman yang mendalam, seperti pembahasan fiqih tentang wudhu dan puasa . Kehadiran konten-konten ini menunjukkan komitmen media dalam memperkuat pemahaman keagamaan di kalangan kader dan masyarakat umum.

Keberhasilan Media Ansor Buaran dalam mengelola informasi telah menjadikannya sebagai acuan bagi media-media GP Ansor di ranting lain. Dengan tampilan situs yang profesional dan update konten yang rutin, media ini memberikan inspirasi bagi pengurus GP Ansor di berbagai kecamatan untuk mengembangkan platform komunikasi yang serupa.

Langkah ini sejalan dengan upaya Pimpinan Cabang GP Ansor Kabupaten Pekalongan dalam meningkatkan kapasitas kader melalui pemanfaatan teknologi digital, sebagaimana tercermin dalam program akreditasi yang menilai keberadaan dan pengelolaan media sosial resmi di tingkat anak cabang dan Ranting.

Keberadaan Media Ansor Buaran juga mendapat dukungan dari pimpinan organisasi dan pemerintah daerah. Dalam Konferensi Cabang ke-14 GP Ansor Kabupaten Pekalongan, Bupati Fadia Arafiq mengapresiasi kinerja GP Ansor yang kompak dan profesional, yang tentunya tidak terlepas dari peran media dalam mendokumentasikan dan menyebarluaskan informasi kegiatan organisasi .

Media Ansor Buaran telah membuktikan dirinya sebagai tolak ukur dalam pengelolaan media di lingkungan GP Ansor Kabupaten Pekalongan. Dengan inovasi, konsistensi, dan dukungan yang kuat, media ini tidak hanya menjadi sarana informasi, tetapi juga alat dakwah dan pemberdayaan yang efektif. Keberhasilannya menjadi inspirasi bagi ranting-ranting lain untuk mengembangkan media yang serupa, demi kemajuan organisasi dan masyarakat secara keseluruhan.

Kontributor : Maspik

Minggu, 18 Mei 2025

Pelantikan GP Ansor Kabupaten Pekalongan Digelar di Hotel Howard Johnson

 


Pekalongan – Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kabupaten Pekalongan resmi dilantik dalam sebuah acara khidmat yang digelar di Hotel Howard Johnson, Pekalongan, pada Minggu , 18 Mei 2025

Acara pelantikan tersebut dihadiri oleh sejumlah tokoh penting, termasuk perwakilan dari Pengurus Wilayah GP Ansor Jawa Tengah, unsur Forkopimda Kabupaten Pekalongan, tokoh agama, serta organisasi kemasyarakatan dan kepemudaan lainnya.

Ketua terpilih GP Ansor Kabupaten Pekalongan, Ahmad Fawaid, secara resmi dilantik bersama jajaran pengurus masa khidmat 2025 - 2029 Dalam sambutannya, ia menyampaikan komitmennya untuk memperkuat peran GP Ansor dalam membina generasi muda, menjaga nilai-nilai kebangsaan, serta meningkatkan kontribusi nyata bagi masyarakat.

"GP Ansor akan terus menjadi garda terdepan dalam menjaga keutuhan NKRI, memperkuat moderasi beragama, dan memberdayakan pemuda, khususnya di Kabupaten Pekalongan," tegasnya.

Sementara itu, perwakilan dari PW GP Ansor Jawa Tengah menekankan pentingnya sinergi antara pengurus baru dengan seluruh elemen masyarakat, serta mendorong kaderisasi yang kuat dan berkelanjutan.

Acara pelantikan ditutup dengan doa bersama dan ramah tamah. Momentum ini sekaligus menjadi awal baru bagi GP Ansor Kabupaten Pekalongan untuk terus bergerak dan mengabdi demi kepentingan umat dan bangsa.

Kontributor : Maspik

Pelantikan dan Halal Bihalal PAC GP Ansor Kecamatan Buaran Digelar Meriah di GOR Simbang Wetan

 


Buaran – Pengurus Anak Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kecamatan Buaran, Kabupaten Pekalongan, resmi dilantik dalam sebuah acara pelantikan dan halal bihalal yang digelar pada Sabtu malam, 26 April 2025, bertempat di GOR Simbang Wetan. Acara yang dimulai pukul 20.00 WIB ini menandai dimulainya masa khidmah kepengurusan baru PAC GP Ansor Kecamatan Buaran periode 2025–2028.


Pelantikan berlangsung khidmat dan dihadiri oleh jajaran pengurus, anggota, serta tokoh masyarakat setempat. Dalam sambutan perdananya, Ketua PAC GP Ansor Buaran yang baru, M. Adrik Hilman, mengajak seluruh pengurus dan anggota untuk terus semangat dalam berkhidmah. Ia menegaskan bahwa tidak semua orang mendapat kesempatan untuk berkhidmah, sehingga kesempatan yang ada harus dimanfaatkan sebaik mungkin.


"Kesempatan berkhidmah adalah anugerah. Maka dari itu, mari kita manfaatkan momen ini untuk membangun Ansor dan negeri yang kita cintai ini," ujarnya dengan penuh semangat.


Acara ini tidak hanya menjadi momentum penyegaran kepengurusan, namun juga mempererat silaturahmi di antara kader Ansor pasca hari raya idul fitri melalui kegiatan halal bihalal yang hangat dan penuh kebersamaan.

Jumat, 07 Maret 2025

Rijalul Ansor PAC GP Ansor Kecamatan Buaran Gelar Ngaji Online di Bulan Ramadhan

Buaran, 7 Maret 2025

Dalam rangka memperingati bulan suci Ramadhan, Rijalul Ansor PAC GP Ansor Kecamatan Buaran menggelar acara ngaji online setiap malam sejak tanggal 2 hingga tanggal 14 Romadhon. Acara ini dilaksanakan di Rumah Hijau Bligo dan diikuti oleh Puluhan peserta dari berbagai kalangan.

Pemateri dalam acara ngaji online ini adalah ketua Rijalul Ansor dari setiap ranting di Kecamatan Buaran. Mereka akan mengkaji Kitab Fadhoilu Syahri Romadhon, karya KH Ahmad Yasin Asyimuni, membahas keutamaan Ramadhan .

Tujuan dari acara ngaji online ini adalah untuk memperkuat keimanan dan kesabaran masyarakat di bulan suci Ramadhan. Selain itu, acara ini juga dimaksudkan untuk meningkatkan kesadaran dan kepedulian masyarakat terhadap nilai-nilai keagamaan.

"Kami sangat senang dengan kesuksesan acara ini. Ngaji online ini merupakan salah satu upaya kami untuk memperkuat keimanan dan kesabaran masyarakat di bulan suci Ramadhan," ujar Ketua Rijalul Ansor PAC GP Ansor Kecamatan Buaran.

Kontributor Ana syafi'


Jumat, 28 Februari 2025

Gus Shidqon Prabowo Terpilih Sebagai Ketua PW Ansor Jateng 2025-2029: Ini Profil dan Perjalanan Kaderisasinya

 
Rabu, 26 Februari 2025 | 22:00 WIB
Banjarnegara, NU Online Jateng
Konferensi Wilayah (Konferwil) Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda (PW GP) Ansor Jawa Tengah telah menetapkan Muchammad Shidqon Prabowo sebagai ketua baru untuk periode 2025-2029. 
Pemilihan yang sempat tertunda akhirnya berlangsung di Pondok Pesantren Yaqutun Nafis, Banjarnegara, pada Rabu (26/2/2025).
Tiga kandidat maju dalam kontestasi ini, yaitu Shidqon Prabowo, Mochamad Hanies Cholil Barro’ dan Muhammad Hanif Mahfud. 
Hasil pemungutan suara menunjukkan Shidqon unggul dengan perolehan 322 suara, diikuti Hanies dengan 213 suara, sementara Hanif hanya mendapatkan 2 suara. Dari total 542 suara, terdapat 5 suara tidak sah.
Profil Gus Shidqon Prabowo
Muchammad Shidqon Prabowo, atau yang akrab disapa Gus Shidqon, lahir di Semarang pada 27 Juni 1985. Ia dikenal sebagai pengasuh Pondok Pesantren Asshodiqiyah Semarang serta berprofesi sebagai dosen dan Wakil Dekan di Fakultas Hukum Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) Semarang. Selain itu, ia juga aktif sebagai pengusaha.
Dalam dunia akademik, Gus Shidqon menempuh pendidikan sarjana dan magister di Program Studi Ilmu Hukum Universitas Islam Indonesia (UII). 
Sementara pendidikan doktoralnya ia selesaikan di Program Studi Ilmu Hukum Universitas Diponegoro (Undip) Semarang.
Keaktifannya dalam berbagai organisasi akademik dan profesi juga cukup luas, di antaranya:
- Asosiasi Dosen Indonesia (ADI) (2022-2023)
- Indonesian Society of International Law Lecturers (2020-2022)
- Asosiasi Pengajar Hukum Keperdataan (2023-sekarang)
Perjalanan Kaderisasi di Ansor dan Banser
Dalam struktur PW Ansor Jawa Tengah, Gus Shidqon telah menjabat sebagai:
- Wakil Kepala Satuan Koordinasi Wilayah (Wakasatkorwil) Banser Jateng (2017-2024)
- Wakil Sekretaris PW Ansor Jateng (2017-2024)
- Pengurus PC GP Ansor Semarang (2017)
Sedang di tingkat PWNU Jawa Tengah, dirinya menjabat sebagai Wakil Sekretaris Tanfidziyah 2024-2029.
Selain itu, ia juga telah menempuh berbagai jenjang kaderisasi di Ansor dan Banser, di antaranya:
- Pelatihan Kepemimpinan Dasar (PKD) di Semarang
- Pelatihan Kepemimpinan Lanjutan (PKL) Khusus Dosen di UIN SATU Tulungagung
- Kursus Banser Lanjutan (Susbalan) di PC GP Ansor Kabupaten Semarang
- Pelatihan Kepemimpinan Nasional (PKN) di Leteh, Rembang
Dengan rekam jejak kaderisasi dan kepemimpinan yang panjang, Gus Shidqon diharapkan mampu membawa Ansor Jawa Tengah ke arah yang lebih maju selama masa kepemimpinannya hingga tahun 2029.
Sumber : NU online