ZDIRY-TUFWT-EBONM-EYJ00-IDBLANTER.COM
ZDIRY-TUFWT-EBONM-EYJ00
BLANTERWISDOM105

Hikmah Puasa dan Bahaya Berlebihan Saat Berbuka

Senin, 23 Februari 2026

 



Puasa disyariatkan bukan sekadar menahan lapar dan haus, tetapi sebagai jalan penyucian jiwa dan penguatan ruhani. Dalam penjelasan para ulama disebutkan bahwa pada awalnya umat terdahulu juga diwajibkan berpuasa, kemudian Allah meringankan dan menyempurnakan syariat ini bagi umat Nabi Muhammad ﷺ sebagai bentuk rahmat dan kemuliaan.

Puasa mengandung hikmah besar. Ia mendidik manusia untuk mengendalikan nafsu makan, minum, dan syahwat. Dengan berpuasa, seorang hamba belajar menahan diri dari hal-hal yang sebenarnya halal pada waktu tertentu, demi ketaatan kepada Allah. Inilah latihan pengendalian diri yang sangat berharga. Ketika seseorang mampu menahan yang halal, maka seharusnya ia lebih mampu menjauhi yang haram.

Hikmah dalam Berbuka

Dalam kitab tersebut dijelaskan bahwa faedah puasa tidak akan sempurna jika seseorang justru berlebihan ketika berbuka. Tujuan puasa adalah melemahkan dorongan hawa nafsu, bukan malah menguatkannya kembali dengan makan dan minum secara berlebihan. Jika sepanjang hari menahan lapar, lalu saat berbuka melampiaskan dengan aneka hidangan, maka hikmah puasa menjadi berkurang.

Berlebih-lebihan dalam makan saat berbuka dan sahur dapat mengeraskan hati dan melemahkan semangat ibadah. Perut yang terlalu kenyang seringkali membuat seseorang malas untuk shalat malam, berdzikir, dan membaca Al-Qur’an. Padahal Ramadhan adalah bulan peningkatan ibadah, bukan bulan pesta makanan.

Karena itu, para salafus shalih dahulu sangat menjaga diri ketika berbuka. Mereka makan secukupnya, sekadar untuk menguatkan badan agar tetap semangat beribadah. Fokus utama mereka adalah meraih keberkahan dan ampunan, bukan kenikmatan duniawi.

Teladan Rasulullah ﷺ

Dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa Nabi ﷺ memiliki kekhususan yang Allah berikan, sebagaimana sabda beliau bahwa beliau “diberi makan dan minum oleh Allah.” Para ulama menjelaskan bahwa hal ini merupakan kemuliaan khusus bagi beliau, bukan untuk ditiru secara harfiah oleh umatnya. Intinya, Rasulullah ﷺ menunjukkan bahwa kekuatan ruhani jauh lebih utama daripada sekadar kekuatan jasmani.

Beliau juga mencontohkan kesederhanaan dalam berbuka. Cukup dengan beberapa butir kurma atau air, lalu dilanjutkan dengan shalat. Ini menunjukkan keseimbangan antara kebutuhan tubuh dan kepentingan ibadah.

Peringatan dari Para Ulama

Dalam kitab tersebut juga dikutip nasihat seorang ulama besar yang mengingatkan bahwa puasa akan menjadi sia-sia jika diiringi dengan sikap berlebihan dalam makanan dan minuman. Jika seseorang berpuasa namun saat berbuka justru menumpuk makanan dan mengikuti hawa nafsu, maka ia kehilangan esensi puasa itu sendiri.

Puasa seharusnya melembutkan hati, menumbuhkan rasa empati kepada fakir miskin, dan menguatkan kesabaran. Namun jika yang terjadi adalah sebaliknya—lalai, malas ibadah, dan sibuk dengan hidangan—maka yang tersisa hanya lapar dan haus tanpa nilai spiritual yang mendalam.

Menjadikan Puasa sebagai Ibadah Sejati

Puasa yang ideal adalah puasa yang menjaga lahir dan batin. Lahirnya menahan makan dan minum, batinnya menahan diri dari dosa dan maksiat. Berbuka dilakukan dengan sederhana dan penuh syukur, bukan dengan sikap berlebihan.

Dengan demikian, Ramadhan benar-benar menjadi bulan pembinaan diri. Ia melatih disiplin, kesederhanaan, dan keikhlasan. Jika dijalani dengan benar, puasa akan melahirkan pribadi yang lebih sabar, lebih lembut hatinya, dan lebih dekat kepada Allah.

Semoga kita termasuk orang-orang yang tidak hanya berpuasa secara fisik, tetapi juga meraih hikmah dan rahasia besar di balik ibadah yang mulia ini.

Share This :

0 Comments