Al-Qur’an adalah kalam Allah yang menjadi petunjuk hidup bagi umat manusia. Para ulama dan orang-orang saleh sejak dahulu memberikan perhatian besar terhadap bacaan Al-Qur’an, baik dalam memperbanyak tilawah maupun mengkhatamkannya dalam waktu-waktu tertentu. Riwayat-riwayat yang disebutkan dalam kitab ini menunjukkan kesungguhan mereka dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an.
Tradisi Para Salaf dalam Mengkhatamkan Al-Qur’an
Diriwayatkan bahwa sebagian ulama terdahulu memiliki kebiasaan mengkhatamkan Al-Qur’an dalam rentang waktu yang berbeda-beda. Ada yang mengkhatamkan dalam sebulan, sepuluh hari, tujuh hari, bahkan tiga hari. Sebagian lagi mampu mengkhatamkan dalam satu atau dua hari, terutama pada bulan Ramadan.
Pada bulan Ramadan, semangat membaca Al-Qur’an semakin meningkat. Hal ini meneladani Rasulullah ﷺ yang setiap Ramadan bertadarus bersama Malaikat Jibril. Karena itu, para ulama memperbanyak tilawah pada bulan yang penuh berkah tersebut.
Disebutkan pula bahwa ada di antara mereka yang membagi waktu siang dan malam untuk membaca, bahkan ada yang mengkhatamkan beberapa kali dalam sehari. Ini menunjukkan tingginya kedudukan Al-Qur’an dalam hati mereka serta kuatnya kecintaan terhadap firman Allah.
Keseimbangan Antara Kuantitas dan Tadabbur
Walaupun memperbanyak bacaan merupakan amalan yang utama, para ulama juga menegaskan pentingnya menjaga kualitas bacaan. Membaca dengan tartil, memahami makna, serta menghadirkan hati lebih utama daripada sekadar cepat menyelesaikan khatam tanpa perenungan.
Al-Qur’an bukan hanya untuk dibaca, tetapi juga untuk ditadabburi dan diamalkan. Maka yang terbaik adalah menggabungkan antara banyaknya bacaan dan kedalaman pemahaman sesuai kemampuan masing-masing.
Keutamaan Mengkhatamkan Al-Qur’an
Mengkhatamkan Al-Qur’an merupakan ibadah yang agung. Dalam banyak riwayat disebutkan bahwa doa setelah khatam memiliki keutamaan tersendiri. Selain itu, memperbanyak bacaan menjadi sebab bertambahnya pahala, karena setiap huruf yang dibaca bernilai kebaikan yang dilipatgandakan.
Namun demikian, kitab ini juga mengingatkan agar tidak menjadikan kebiasaan mempercepat bacaan sebagai ajang kebanggaan atau perlombaan tanpa adab. Bacaan hendaknya tetap dijaga dengan tajwid dan kekhusyukan.
Pelajaran yang Dapat Diambil
Menjadikan Al-Qur’an sebagai bacaan harian.
Memperbanyak tilawah di bulan Ramadan.
Menjaga keseimbangan antara kuantitas dan kualitas bacaan.
Menghidupkan malam dengan membaca Al-Qur’an.
Mengikuti teladan para ulama dalam kecintaan terhadap firman Allah.
Pada akhirnya, yang menjadi tujuan utama bukan sekadar banyaknya khatam, tetapi bagaimana Al-Qur’an membentuk akhlak dan kehidupan seorang Muslim. Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang senantiasa dekat dengan Al-Qur’an, membacanya, memahami maknanya, dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Aamiin.

0 Comments