BANSER JAGA GEREJA, BAGAIMANA HUKUMNYA ?

 

Menginjak bulan Desember, sudah bisa dipastikan publik akan ramai kembali memperdebatkan persoalan sikap salah satu ormas yang diminta oleh aparat terlibat dalam pengamanan gereja. Persoalan ini bisa disebut sebagai perdebatan tahunan yang tak akan ada habisnya.

Menjaga gereja pada saat natal atau perayaan-perayaan hari raya non-Muslim sebenarnya sangat tidak elok jika hanya menilai dari satu sudut pandang saja

Daripada kita ikut tergerus arus dengan mengkritik atau mendukung keputusan ormas ini hanya dengan pandangan pribadi, alangkah baiknya jika kita mengetahui dalil dasar tentang bagaimana sebenarnya hukum menjaga gereja. Menjaga gereja adalah persoalan yang debatable, sebagian kalangan mengarahkan bahwa menjaga gereja merupakan wujud i’anah alal Ma’siyat (membantu terjadinya suatu kemaksiatan). Sebab menurut mereka, dalam upaya menjaga gereja terdapat peran mensukseskan terjadinya hal yang tidak dibenarkan menurut ajaran Islam. Benarkah logika demikian?

Menjaga gereja pada saat natal atau perayaan-perayaan hari raya non-Muslim sebenarnya sangat tidak elok jika hanya menilai dari satu sudut pandang saja yaitu membantu terselenggaranya acara non-Muslim. Bahkan penilaian demikian dianggap salah, karena tanpa dijaga oleh ormas atau aparat kepolisian pun, acara ritual non-Muslim ini tetap akan berjalan dengan semestinya sehingga penjagaan bukan merupakan pemicu terjadinya kemaksiatan. Seperti yang dijelaskan dalam Buhuts wa Qadhaya Fiqhiyyah Mu’ashirah:


 أن الإعانة على المعصية حرام مطلقا بنص القرآن, أعني قوله تعالى: ولا تعاونوا على الإثم والعدوان. وقوله تعالى:فلن أكون ظهيرا للمجرمين. ولكن الإعانة حقيقة هي ما قامت المعصية بعين فعل المعين ولا يتحقق إلا بنية الإعانة أو التصريح بها أو تعيّنها في استعمال هذا الشيء بحيث لا يحتمل غير المعصية

Artinya, “Membantu terjadinya maksiat adalah perbuatan yang haram secara mutlak dengan berlandaskan nash Al-Qur’an, yaitu “Janganlah kalian tolong-menolong terhadap dosa dan permusuhan” dan firman Allah “Aku sekali-kali tiada akan menjaadi penolong bagi orang-orang yang berdosa”. Tetapi membantu terjadinya Maksiat secara hakiki adalah berupa perbuatan yang membuat maksiat terjadi dengan perantara perbuatan orang yang membantu, dan hal ini tidak akan wujud kecuali dengan adanya niatan membantu terjadinya maksiat atau perbuatannya secara jelas ia sampaikan bahwa termasuk upaya membantu terjadinya maksiat atau perbuatannya hanya tertentu untuk digunakan maksiat, sekiranya tidak ada indikasi perbuatan lain selain maksiat,” (Lihat Muhammad Taqi bin Muhammad Syafi’ Al-‘Utsmani, Buhuts wa Qadhaya Fiqhiyyah Mu’ashirah, halaman 360).

BACA JUGA HUKUM MENGUCAPKAN SELAMAT NATAL

Berdasarkan referensi di atas dapat dipahami bahwa yang dimaksud I’anah alal Ma’shiyat adalah perbuatan yang memang berperan penting dalam terjadinya suatu kemaksiatan dan tidak ada indikasi dilakukan untuk tujuan lain selain ke arah maksiat. Sedangkan persoalan menjaga gereja sama sekali tidak tergolong kualifikasi dari keduanya, sebab tujuan menjaga gereja tak lain merupakan upaya mengamankan stabilitas negara serta menjaga keharmonisan sosial yang hukumnya adalah Fardhu Kifayah (Tim BM Himasal, Fikih kebangsaan, halaman 64).


Hukum ini dilandasi oleh ketetapan bahwa dalam konteks Indonesia yang merupakan negara yang diliputi oleh penduduk dari berbagai macam suku dan agama, perayaan hari natal adalah momentum yang sangat rawan dalam hal terjadinya ancaman gangguan kemanan, seperti terancamnya jiwa yang jelas-jelas dilindungi oleh negara. Sedangkan menjaga stabilitas keamanan negara termasuk dalam kategori fardlu kifayah. Terlebih ketika perbuatan ini dilakukan atas permintaan dari pemerintah (apparat penegak hukum), maka anjuran untuk melaksanakan hal ini akan menjadi semakin kuat. Selain itu patut dipahami bahwa suatu tindakan yang sekilas tampak dari luar dianggap sebuah perbuatan yang membantu terjadinya maksiat, namun sebenarnya tindakan itu di sisi lain ditujukan untuk sebuah kemaslahatan berupa menghindari suatu mafsadah (kerusakan) maka tindakan di atas tidak dapat disebut sebagai perbuatan maksiat tapi merupakan perbuatan yang membantu terhindarnya sebuah kerusakan dan kekacauan. Penjelasan demikian seperti yang dijelaskan dalam Qawaidul Ahkam:

 وقد تجوز المعاونة على الإثم والعدوان والفسوق والعصيان لا من جهة كونه معصية، بل من جهة كونه وسيلة إلى مصلحة –إلى أن قال - وليس هذا على التحقيق معاونة على الإثم والعدوان والفسوق والعصيان وإنما هو إعانة على درء المفاسد فكانت المعاونة على الإثم والعدوان والفسوق والعصيان فيها تبعا لا مقصودا

Artinya, 

“Terkadang diperbolehkan membantu terjadinya dosa, permusuhan, kefasikan dan kemaksiatan bukan dari aspek status perbuatan tersebut yang merupakan maksiat tapi dari aspek perbuatan tersebut adalah perantara terciptanya suatu maslahat. Hal ini secara kenyataannya bukanlah wujud membantu terjadinya dosa, permusuhan, kefasikan dan kemaksiatan tapi merupakan upaya untuk terhindar dari suatu mafsadah (kerusakan). Maka bentuk membantu terjadinya dosa, permusuhan, kefasikan dan kemaksiatan adalah hanya sebatas platform (tab’an) bukan suatu tujuan,” (Lihat Syekh Izzuddin bin Abdissalam, Qawaidul Ahkam, juz I, halaman 109-110). Berdasarkan referensi serta sudut pandang di atas, mestinya secara arif kita dapat memahami bahwa menilai tindakan menjaga gereja hanya dari luarnya saja merupakan hal yang keliru, sebab jika kita melihat nilai serta tujuan yang terkandung di dalamnya justru semakin mantap bahwa menjaga gereja adalah bentuk pelaksanaan fardhu kifayah.


Wallahu a’lam. (Ustadz Ali Zainal Abidin)

PEMUDA PEKALONGAN TURUNKAN BENDERA JEPANG


" Peninggalan sejarah merupakan benda-benda budaya manusia dari masa yang telah lampau. Peninggalan sejarah merupakan aset yang sangat penting bagi bangsa . "

Dan tahukah kalian sejarah kota kita tercinta ini , yaitu kota Pekalongan , peninggalannya dan kisah-kisah perjuangan masyarakat Pekalongan , khusunya pemuda saat itu dalam usahanya membebaskan diri dari ikatan dan cengkraman penjajah ?

Berbagai kejadian penting , serta peristiwa bersejarah telah dialami . Korban jiwa raga dan harta tidak lagi ternilai harganya. Ini semua adalah risiko dan revolusi suatu bangsa yang ingin merdeka.

Kita sebagai rakyat Pekalongan , seharusnya mengetahui dan mengerti bagaimana ,apa dan seberapa besar darma bakti para pendahulu , generasi pelopor dalam mencapai cita-cita bangsanya yang luhur dan mulia .

Banyak hari-hari bersejarah yang selalu kita peringati pada saat terntentu . Kapan dan bulan apa saja ? Hari ulang tahun Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia , Hari Pahlawan , Hari Sumpah Pemuda, Hari Ibu , Hari Kartini dan masih banyak lagi kan ? Yang penting kita harus mengerti , mengapa semua itu diperingati , apa latarbelakangnya ? Agar kita bisa mengambil makna besar .

Tetapi kejadian yang paling bersejarah bagi kota ini adalah peristiwa 3 Oktober 1945 . Bagaimana para pemuda yang sudah haus akan kebebasan , bersama-sama dan dengan tujuan yang sama menyerbu tentara Jepang . Tentu saja , kesemuanya terukir dari hal-hal tersebut diatas ialah nilai-nilai perjuangan yang luhur . Sekarang , marilah kita pelajari bersama peristiwa 3 Oktober yang bersejarah tersebut.


3 Oktober 1945, Ada apa gerangan ?

3 Oktober 1945 merupakan hari bersejarah bagi kota Pekalongan . Kejadian bermula saat di karisedenan Pekalongan di bentuk Komite Nasional Indonesia Daerah , sebagai badan eksekutif untuk membantu kepala daerah . KNI (Komite Nasional Indonesia) untuk karisedenan Pekalongan sendiri terbentuk pada tanggal 28 Agustus 1945 , yang diketuai oleh Dr. Sumbadji.

Residen Pekalongan waktu itu dijabat oleh Mr. Besar . Pemerintahan pusat biasanya mengangkat Fuku Syuchokan yang dalam bahas Indonesianya berarti Wakil Residen . Jabatan residen ini merupakan jabatan fungsionaris tertinggi yang semula hanya dipegang oleh orang Jepang saja. Pengangkatan Mr. Besar sebagai Residen yaitu pada tanggal 23 September 1945 .

Perundingan Pengambilalihan Kekuasaan

Gerakan pengambilan kekuasaan di beberpa daerah dimulai. Bahkan di Purwoketo , tentara Jepang sudah menyerahkan kekuasaannya kepada Residen Banyumas. Sedangkan di Pekalongan sendiri baru disepakati bahwa pengambilan kekuasaan dengan cara perundingan  akan segera dilaksankan. Dr. Sumbadji menjadi utusan untuk menghadap Syuchokan Tokokami , untuk menentukan kapan dan dimanakah akan diadakan perundingan dengan tokoh-tokoh masyarakat .

 

Akibat situasi yang memanas di Pekalongan dan agar tidak terjadi insiden yang tidak diinginkan , akhirnya pihak Jepang mau berunding dengan pihak tokoh masyarakat di Pekalongan . Perundingan dilaksanakan pada tanggal 1 Oktober 1945 pukul 10.00 bertempat di Kantor Karisedenan Pekalongan. Namun perundingan tersebut ditunda oleh pihak Jepang . Rakyatpun makin marah . Akhirnya , perundingan kembali dilanjutkan pada tanggal 3 Oktober 1945 , juga pada pukul 10.00 pagi , di Markas Kempetai (sekarang Masjid Syuhada').

 

Dalam perundingan tersebut , masyarakat Pekalongan meminta tiga tuntutan :

1. Pemindahan kekuasan dan pemerintahan Jepang kepada pihak Indonesia agar dilaksanakan dengan damai dan secepatnya.

2. Menyerahkan semua senjata yang ada ditangan Jepang.

3. Meminta jaminan kepada pihak Jepang bahwa mereka akan dilindungi .

 

Perundingan berlangsung lama , masyarakat yang saat itu menyaksikan serta  memberi dukungan dan semangat kepada pihak Indonesia, sudah tidak sabar ingin mengusir Jepang dari Pekalongan. Dukungan masyarakat inilah yang mencerminkan manifestasi rasa kebanggaan dan patriotismenya dengan mendatangi tempat perundingan, yaitu markas Kempetei yang selama ini dianggap sebagai lambang kekejaman tentara Jepang di Pekalongan . Saat itulah masa yang sudah tidak sabar menyerbu markas tempat berlangsungnya perundingan tersebut , baik tua maupun muda , laki-laki dan perempuan , yang datang tidak hanya dari dalam kota saja . Namun juga dari daerah Buaran dan Comal . Sekonyong-konyong terdengar suara letusan senjata api dan teriakan untuk menyerbu tentara Jepang . Suasana menjadi kacau .

 

Penurunan Bendera Nippon

Dua orang pemuda , Rahayu dan Bismo dengan berani menurunkan bendera Jepang dan menggantinya dengan menancapkan Merah Putih diatas atap markas Kempeitai. Tindakan itu dilakukan lantaran saat perundingan mengenai pengambilan kekuasaan di Pekalongan , sama sekali tidak membuahkan hasil . Setelah penurunan dan penyobekan bendera Jepang , pertempuran antara para pejuang dan tentara Jepangpun tak terelakkan .

 

Para pejuang di daerah itu , yang sebagian besar merupakan pemuda setempat langsung menyerbu markas Jepang dengan senjata seadanya . Mereka berusaha merebut dan merampas senjata penjajah . Sebaliknya , tentara Jepang dengan senjata yang cukup lengkap , membalasnya dengan tembakan dan bom untuk melumpuhkan para pejuang . Dari pertempuran yang terjadi pada tanggal 3 Oktober 1945 , sebanyak 37 pemuda Pekalongan gugur. Sedangkan 12 lainnya mengalami cacat fisik . Pejuang yang gugur di medan perang , esoknya dimakamkan di Kampung Panjang , yang sekarang dijadikan makam pahlawan " Prawiro Rekso Negoro ".

Pada tanggal 7 Oktober 1945 , akhirnya tentara Jepang meninggalkan Pekalongan untuk bertolak ke Purwokerto. Tindakan itu dilakukan karena mendapat instruksi pemimpin Jepang di Jakarta supaya meninggalkan Pekalongan . Sejak saat itulah Jepang sudah menyerahkan kekuasaannya kepada rakyat Pekalongan dan masyarakatpun menyambutnya dengan suka cita.

                                                                               ***

Seperti itulah sekilas peristiwa heroik 3 Oktober 1945 di Pekalongan . Pun demikian , dengan untaian bunga mawar dan melati yang semerbak harum mewangi , melambangkan keharuman jiwa yang luhur . Semerbak bunga Bangsa , yang telah gugur dalam membela dan mempertahankan Ibu Pertiwi , selalu tercium di seantero persada tercinta . Tetesan darah yang membasahi bumi Nusantara , merupakan suatu bukti pengorbanan yang mulia. Merupakan suatu saksi dan prestasi yang nyata . Dan akan terus terukir dalam lembaran sejarah .

Coba renungkan kembali ... Pengibaran bendera oleh Rahayu dan Bismo merupakan simbol semangat Nasionalisme yang berkobar dari jiwa muda , mempertahankan idealisme tanpa gentar menghadapi risiko yang akan diterima .

Dalam hal ini ada kejadian yang menarik perhatian kita , yaitu adanya pengibaran Bendera Merah Putih diatap markas Kempeitai yang dilakukan oleh kedua pemuda tersebut . Apa sesungguhnya yang mendorong timbulnya peristiwa pengibaran bendera tersebut ?

Keberanian mereka patu dicatat sejarah. Karena semangat juang yang pantang menyerah , akhirnya membuahkan hasil juga . Penjajah menjadi kualahan dan payah mengahadapinya.

Itulah yang sepatutnya kita contoh. Bangsa kita tidak mau dijajah , Bangsa kita tidak mau diatur dan diperintah terus menerus . Bangsa kita haus akan kemerdekaan yang haqiqi . Bukankah kemerdekaan adalah hak segala bangsa ?

Usaha menghargai jasa pahlawannya, oleh masyarakat di buatlah monumen sebagai tanda kebesaran perjuangan rakyat mengambil alih kekuasaan dari tangan Jepang di Pekalongan . Monumen perjuangan 3 Oktober 1945 , semula didirikan dihalaman bekas markas Kempeitai dan masuk dalam situs sejarah. Namun karena beberapa faktor , monumen dipindahkan di sebrangnya , sebelah THR . Sedangkan Lokasi gedung pemuda dan monumen perjuangan 45' dan situs sejarah berupa markas kempeitai sekarang sudah menjadi masjid yang cukup megah , yang diberi nama Masjid Syuhada' .

Terakhir , marilah kita bersama-sama membangun jiwa raga dan negara Indonesia tercinta dengan penuh semangat . Maju terus pantang mundur dalam membela keadilan dan kebenaran . Bukankah pepatah mengatakan " Beranilah karena benar , takutlah karena salah " . Melangkah bersama menuju cita-cita menjunjung martabat bangsa dan negara tercinta .

 

Sumber : Wawancara dengan Bapak Suhardi (Pasi Min Kodim Manunggal 710 Pekalongan) dan ditambahkan dari berbagai sumber. 

MENGETAHUI TUHAN ADA?

klikmu.co

 

Sejak kapan dan darimana manusia mengetahui Tuhan itu ada?

 

Pertanyaan di atas adalah bukti pentingnya berfikir, bertanya, berguru, dan belajar. Bagaimana tidak, jikalaupun pertanyaan di atas disodorkan pada beberapa kalangan yang ‘enggan’ berfikir, tentu jawabannya akan menyakitkan, seperti, “kita yakini saja keberadaanNya, yang penting yakin saja, jangan repot-repot gitu, nanti keliru lo, sesat, kafir, hati-hati”. Sedangkan, potensi berfikir untuk menggali muatan yang terkandung dalam suatu pertanyaan amatlah penting, apalagi ihwal keyakinan dalam ketuhanan yang sarat nilai pembuktian. Berbeda lagi dengan kalangan yang ‘enggan’ berfikir, kalangan yang ‘enggan’ bertanya umumnya dikarenakan beberapa alasan, diantaranya, malu; merasa bisa, meremehkan pertanyaan hingga tidak mau bertanya atas apapun, meskipun dirinya benar-benar sedang dalam kondisi  ‘bingung’, akan tetapi lebih memilih bodo amat, atau boleh jadi karena sulit menemukan pertanyaan yang fundamental/pokok, sebab tidak sedikit yang kebingungan ketika diberikan tugas membuat pertanyaan terkait suatu hal, misalnya tentang ‘ada’.

Selain itu, pertanyaan di atas juga butuh ‘penguji’ yakni guru yang kompeten. Tidak semua yang kompeten itu berpendidikan tinggi, pun sebaliknya, tidak semua yang berpendidikan tinggi kompeten, meskipun sedikit. Sebab, dalam membahas kompetensi atau keahlian, maka yang dihadirkan ialah bagaimana seorang guru menguasai panggung dan mengarahkan pembelajar. Eksistensi guru sangat penting. Jikalau dalam menjawab pertanyaan di atas tanpa kehadiran guru (tidak menguji temuan jawaban melalui diskusi dengan guru), maka boleh jadi, temuan itu memiliki sisi yang berbeda dengan yang termaksud, meskipun tidak semuanya. Kehadiran guru dalam pencarian ilmu seorang pembelajar ialah menguji apa saja yang ditangkap muridnya, kemudian memberikan pilihan-pilihan jawaban yang logis dan cenderung mengarahkan. Dengan demikian, untuk menjawab pertanyaan di atas supaya teruji dan terarah, kehadiran guru adalah syarat penting.

 Kehadiran guru dalam pencarian ilmu seorang pembelajar ialah menguji apa saja yang ditangkap muridnya, kemudian memberikan pilihan-pilihan jawaban yang logis dan cenderung mengarahkan. 

Pengetahuan Tentang Tuhan

Pengetahuan seorang manusia tentang Tuhan dibentuk oleh 2 faktor, faktor internal dan faktor eksternal. Meski demikian, mayoritas mempercayai bahwa peran orangtua dalam membentuk pandangan bertuhan anaknya sebagai bakal calon manusia baru sangatlah menentukan. Artinya, mayoritas orangtua menganjurkan anaknya masuk ke dalam agama yang mereka anut dan secara langsung dipaksa patuh atas apa saja yang diperintahkan. Bahkan persoalan yang sejatinya adalah internal antar hamba dan Tuhan menjadi persoalan keluarga hingga lingkungan. Hal ini disebabkan oleh konseskuensi atas apa yang akan terjadi jika berbeda dalam hal tersebut. Sensitifitas tidak lagi diragukan tentu sangat terlihat. Kebebasan anak sebagai makhluk tidak lagi bebas setelah dikonstruksi dan dibentuk sedemikian rupa seperti keinginan orangtuanya. Tidak ada lagi pengembaraan ilmiah dalam menemukan ketuhanan yang logis yang boleh saja berbeda dengan pandangan lama orangtua juga lingkungannya.

BACA JUGA : SEKILAS TENTANG AKHIRAT MENURUT QURAISH SHIHAB

 Dalam hal ini, boleh dikatakan bahwa pengetahuan manusia tentang Tuhan ‘sangat’ dipengaruhi oleh faktor eksternal. Keluarga, lingkungan tempat tinggal hingga peran teman sebaya. menjadi power tersendiri atas apa yang diharapkan orangtua. Semacam ada pemaksaan dalam ruang pergaulan yang dibatasi oleh produksi pengetahuan dan pemahaman orangtua sampai kemudian terimplementasikan dalam pilihan-pilihan dalam anggapan yang penuh konstruk. Sehingga, persoalan agama agaknya dijadikan persoalan yang dihindari, bahkan, perbedaan dalam cara beragama dan bertuhan tidak minat untuk didekati dalam rangka menemukan kelogisan beragama, melainkan dijauhi dengan alasan berbagai konstruk yang telah dipendam.

Dalam hal ini, boleh dikatakan bahwa pengetahuan manusia tentang Tuhan ‘sangat’ dipengaruhi oleh faktor eksternal.

Sejak saat itu, tepatnya ketika menjadi anak dalam sebuah keluarga, tentu dari orangtua, lingkungan dan teman sebaya, meski tidak dibenarkan hal demikian merata atau 100 persen, melainkan menjadi problem mayoritas dan dinormalkan. Ruang diskusi tidak lagi diminati kecuali jika terdapat kisah menarik yang penuh ibroh. Sedangkan, dalam konsep ketuhanan benar-benar belum bisa bebas menentukan mana yang benar dan mana yang keliru. Akhirnya, tidak dapat membuktikan apa saja hal-hal yang menjadikan seseorang menetap dalam sebuah agama. Tidak ada lagi hal menarik tentang pembahasan keberadaan Tuhan, karena Tuhan memang ada dalam pengetahuan yang diproduksi, sedangkan dalam pemahaman 0 persen (tidak dapat membuktikan). Oleh sebabnya, Tuhan ‘ada’ hanya semacam dogma tanpa landasan hingga dinormalkan dan dibenarkan dalam pendawaman.

Hal-hal di atas merupakan bentuk keresahan yang fakta dan besar untuk dijelajahi dan dijejaki dengan harapan, manusia muda mampu mencerahkan dirinya dalam tanggungjawabnya atas pikiran dan hati dalam dirinya. Tentu, jika telah menemukan wahyuNya, maka idealnya ada semacam pembatasan diksi atas wahyu yang sarat ketuhanan. Akhirnya, semua problem menjadi semakin besar dan menonjol dalam ranah ini yang mungkin saja berakibat pada kontradiksi tatanan diri; menolak pandangan akan tetapi melakukan apa yang tertolak dalam pandangan atau melakukan sesuatu tanpa dasar kelogisan berfikir dan tujuan. Dari sini, maka diperoleh 3 jawaban penting atas pertanyaan di atas yakni bahwasanya ada 2 faktor yang mempengaruhi produksi pengetahuan manusia tentang Tuhan, yang kemudian bercabang menjadi 3 bagian, diantaranya ialah diri sendiri, keluarga, lingkungan pergaulan. 3 bagian tersebut menjadi jawaban atas pertanyaan di atas.


Penulis : M. Khusnun Ni'am 

Mahasiswa Filsafat Islam UIN Sunan Kalijaga

MEREKAM SEKILAS GAGASAN GUS DUR DAN MEMBACA KONTRIBUSINYA TERHADAP KEMANUSIAAN DAN KEINDONESIAAN

 


Sebelum tulisan ini benar tertata sedemikian rupa, penulis menyadari betul bahwa masih banyak hal menarik dan sesuatu yang berbeda daripada tokoh Islam Indonesia yang dikaji dalam ulasan ini. Tentunya, apa yang tersampaikan melalui ulasan ini merupakan gambaran kecil daripada kontribusi besar yang digagaskan dan diaplikasikan oleh dirinya selama mengabdi di Indonesia. Oleh sebabnya, ulasan ini hadir berupaya menghidupkan kembali semangat juang yang digagaskan maupun hal-hal lain yang dapat dijadikan inspirasi dan pengetahuan oleh generasi sekarang. Sangat disayangkan apabila generasi sekarang, khususnya Islam tidak mengemas dan mempelajari riwayat besar para pemikir Islam Indonesia yang luar biasa. Dari hal tersebut, maka ulasan ini akan mengangkat dan menghidupkan kembali beberapa poin yang ditemukan mengenai hal-hal yang menarik dan layak dijadikan Inspirasi.

MEREKAM SEPAK TERJANG GUS DUR

Siapa yang tidak kenal Gus Dur?

Pertanyaan ini layak diajukan untuk mengungkap seberapa jauh sepak terjang Gus Dur dalam pengetahuan generasi sekarang. Tentunya, ketidakkenalan dengan Gus Dur adalah suatu problem sendiri yang perlu dikaji, khususnya penduduk Indonesia. Bagaimana tidak, Gus Dur merupakan presiden ke-4 Indonesia yang selama karir kepresidennya dilumuti oleh kontroversi-kontroversi yang menarik dari tindakannya, yang tentunya berbeda daripada para presiden Indonesia sebelumnya.

Terlepas daripada kontroversi dalam tindakannya, sebelum menjadi Presiden pun Gus Dur sering tidak mengalir mengikuti arus, melainkan sebaliknya ‘melawan arus’, dari arus politik, budaya, hingga nilai-nilai ajaran yang dianut oleh umumnya warga Indonesia. Sejak masa Orde Baru, perjuangan dan kepeduliannya dalam membela kaum minoritas dan pemikirannya yang modern sering dianggap sebagai perlawanan Gus Dur pada pemerintahan Orde Baru.

Selain itu, Gus Dur juga merupakan cendekiawan Islam dari Indonesia yang namanya melambung bersama gagasan-gagasan cemerlangnya di Nusantara. Panggilan ‘Gus’ merupakan sebutan kehormatan untuk putra kiai, sedangkan ‘Dur’ panggilan dari namanya yakni Abdurrahman. Adapun Wahid diambil dari nama ayahnya yakni Wahid Hasyim, seorang Tokoh Nasionalis Indonesia dan mujtahid Islam Nusantara, seperti yang diungkap oleh Dr. Kiai Aguk Irawan (Pengasuh Baitul Kilmah Yogya) dalam karyanya Sang Mujtahid Islam Nusantara.

Dari silsilah, Gus Dur bukanlah lahir dari keluarga sembarangan. Artinya, darah dari para pejuang Islam Indonesia mengalir dalam tubuhnya dan pemikiran cerdas para tokoh besar Indonesia secara tidak langsung mengalir, berpengaruh dan membentuk dirinya. Kakeknya merupakan pendiri ormas besar Islam yang jumlah anggotanya kemungkinan mencapai puluhan hingga ratusan juta diberbagai wilayah dan negara, khususnya di Indonesia dewasa kini. Selain itu jelajah pengembaraan keilmuannya tidak dapat diremehkan, dari pesantren hingga Kairo, Mesir dan beberapa wilayah lain yang mungkin belum terulas.

Bukan itu saja, secara kemampuan, Gus Dur merupakan satu-satunya Presiden Indonesia yang cakap dalam menguasai beberapa bahasa dari bahasa Arab kuno, Arab modern, Inggris dan Perancis. Tentu, ini sangat menarik, jika kita mengetahui bagaimana fungsi bahasa yang begitu penting dalam menyampaikan sesuatu. Kecakapan Gus Dur dalam beberapa bahasa tersebut dapat disaksikan oleh siapapun di youtube sebagai bukti kecerdasannya.

Selain itu, untuk mengenal perjalanannya secara keilmuan dan lain-lain, dapat ditemukan dalam buku yang ditulis oleh Dr. Kiai Aguk Irawan dalam bukunya Peci Miring atau dituangkan pula oleh Greg Barton dalam bukunya yang international bestseller berjudul Biografi Gus Dur. Berbagai karya tulis yang terbukakan, dari artikel, jurnal, skripsi, tesis, disertasi hingga buku secara tidak langsung menghidupkan kembali sosok Gus Dur dalam uraian dan pendetailan tafsir para tokoh Islam. Hal tersebut merupakan bukti bahwa sepak terjang dan kontribusi Gus Dur tidaklah dapat dianggap sepele dan layak diangkat dan dijadikan inspirasi bangsa.

 Baca juga : GUS DUR KU, GUS DUR MU, GUS DUR KITA

MENJEJAKI SEKILAS KONTRIBUSI GUS DUR

Kajian-kajian keislaman di perguruan tinggipun hingga kini kemungkinan dapat ditemukan kajian-kajian baru mengenai Gus Dur. Ini membuktikan bahwa meskipun secara jasad atau fisik Gus Dur telah wafat atau dikuburkan, namun namanya tidak lekang dari zaman. Artinya, buah pemikirannya tidak henti-hentinya dikaji oleh para akademisi hingga ahli. Sehingga, konseptual yang digagaskan Gus Dur semenjak hidup, baik verbal maupun tulisan merupakan salah satu referensi besar sejauhmana Gus Dur begitu cerdas.

Gus Dur dikenal sebagai tokoh pluralis Islam. Bahkan bisa dikatakan juga, bahwa Gus Dur merupakan penggagas pluralisme Islam di Indonesia. Terbukti dari berbagai litertaur menyebutkan bahwa secara total pemikiran pluralis Gus Dur ialah memperjuangkan hak setiap individu dan kelompok. Baginya pluralisme ialah memberikan hak setiap individu untuk memilih apa yang diyakininya dalam beragama, hak asasi manusia, jaminan keamanan serta kesamaan derajat dimata hukum. Keselarasan ini dicantumkan oleh dirinya dalam buku yang ditulis para cendekiawan Indonesia, termasuk salah satunya ialah Gus Dur dalam buku Ideologi Pancasila Ketuhanan Yang Maha Esa. Dalam buku tersebut, Gus Dur membongkar paradigma fanatisme ke arah pluralis, artinya Gus Dur memberikan gagasan yang benar-benar pure dan selaras dalam ajaran Islam.

Buah pemikirannya dalam mengulas sisi prinsipil ketuhanan dapat dilihat dalam karyanya yang berjudul Tuhan Tidak Perlu Dibela. Dilain hal, karya tersebut juga membawa pesan besar bahwa secara tegas Gus Dur menolak agama dijadikan ideologi negara. Menurut Gus Dur, menjadikan agama sebagai ideologi negara di dalam masyarakat yang beragam atau pluralis hanya akan memunculkan problematika besar atau disintegrasi pada ranah sektarianisme. Baginya, Islam semestinya diterapkan sebagai etika sosial atau sebuah sistem nilai moral yang juga dapat dipahami bahwa Islam semestinya dijadikan sebagai komplementer dalam berkehidupan di suatu negata. Sehingga, cara tertepat bagi Gus Dur dalam merumuskan kepemimpinan atau ideologi negara ialah dengan musyawarah untuk mencapai mufakat.

 Dalam bukunya Tuhan Tidak Perlu Dibela tersiratkan berbagai gagasan Gus Dur tentang pluralisme yang secara tegas menggagaskan demokrasi. Baginya demokrasi memungkinkan terbentuknya pola hubungan perpolitikan yang setara atau seimbang dalam mendukung pluralisme bangsa. Tegaknya pluralisme bangsa bukan dibuktikan hanya melalui hidup berdampingan tanpa masalah, melainkan lebih. Artinya, Gus Dur menggagaskan bahwa terlaksananya pluralisme yang begitu apik akan melahirkan kesadaran untuk saling mengenal dan berinteraksi secara ikhlas. Dari hal tersebut, maka akan terterapkan pola “take and giver”, karena salah satu inti pokok dari demokrasi ialah kebebasan untuk saling memberi dan menerima.

Secara tidak langsung, etika sosial Gus Dur samalnya diartikan membumikan Islam dalam rangka kontekstualisasi norma dan nilai Islam ditengah dinamika dan problematika kemanusiaan dan keindonesiaan. Dengan demikian, Islam akan benar-benar menjadi jawaban dari setiap problematikan yang tengah melanda, dari kebangsaan hingga kemanusiaan tanpa kehilangan spirit etisnya agama yang agung yakni Islam.

Dari berbagai ulasan di atas, ada beberapa inspirasi yang dapat diketahui dan dipahami dari sepak terjang Gus Dur dalam pemikirannya, dari gagasan besarnya tentang pluralisme, ketuhanan yang Maha Esa, etika sosial, membumikan Islam, gagasan demokrasi hingga berbagai tokoh yang ikut serta menghidupkan kembali Gus Dur melalui karyanya. Melalui ulasan ini, penulis mengajak siapapun untuk kembali bercengkrama dengan bacaan dan buku yang mungkin sudah gersang dan menjamur dalam kelanggengan yang tentunya tidak baik untuk konsumsi pengetahuan dan keilmuan individu. Oleh sebab itu, mari kembali memproduksi dan mulai mencintai pengetahuan darimanapun arahnya, salahsatunya dengan membaca dan memiliki buku.


Penulis : M. Khusnun Niam

GUS DUR KU, GUS DUR MU, GUS DUR KITA

Bertentangan dengan dalil, benarkah?

"Aku berkata kepada Sufyan Ats-Tsauri.", kata seorang Syaikh besar, Sufyan ibn 'Uyainah pada suatu hari, "Nasihatilah aku." Ats-Tsauri pun menjawab, "Sedikitlah mengenal manusia." "YarhamukalLaah. Semoga Allah merahmatimu.", balas Ibnu 'Uyaynah. "Bukankah telah datang khabar, 'Perbanyaklah mengenal manusia. Sungguh, ada syafa'at (pertolongan) pada setiap mukmin.'"

Kedua imam tersebut pun berdialog. Ats-Tsauri menyarankan Ibnu Uyaynah sedikit mengenal manusia, sementara Ibnu 'Uyaynah menganggap saran Ats-Tsauri bertentangan dg khabar. Lalu, dijawablah oleh Ats-Tsauri bahwa Ibnu Uyaynah hanya akan melihat sesuatu yang dia tidak sukai, melainkan dari orang yang ia kenal. Sementara dari orang yang tidak dikenal, beliau tidak akan merasakan hal tersebut.

Artinya, semakin banyak kita mengenal seseorang, maka semakin banyak pula ia akan melihat apa yang dia tidak suka dari orang tersebut. Itulah inti nasihat Sufyan Ats Tsauri. (Minhajul Abidin Imam Al Ghazali)

Dialog di atas hanyalah salah satu contoh di mana ulama salafush shalih terkadang memberikan pernyataan yang terlihat "bertentangan" dengan dalil. Sangat terlihat, bagaimana awalnya Ibnu Uyaynah menyanggah nasihat Ats-Tsauri agar ia sedikit mengenal manusia, sementara terdapat khabar anjuran memperbanyak mengenal manusia.

Apakah benar bahwa Ats-Tsauri menentang dalil? Ternyata tidak. Justru nasihat beliau berdasar perenungan mendalam tentang berbagai dalil dan kondisi diri serta sosial di sekitarnya.

Hal inilah yang tepat dialami oleh seorang guru bangsa yang bernama Abdurrahman Ad-Dakhil, atau yang akrab dipanggil Gus Dur. Beliau dikenal memberikan statemen yang terlihat "asing" dan "bertentangan" dengan nash yang ada, namun sebenarnya keluar dari kedalaman ilmu dan ketajaman pemikiran yang beliau miliki.

Masih bisa dijelaskan

Statemen dan perilaku Gus Dur sebenarnya masih sangat bisa dijelaskan. Sebagai contoh, ketika beliau dianggap getol menyuarakan pluralisme, sebagian orang menganggap beliau mengatakan semua agama itu sama. Padahal, beliau sendiri menyampaikan bahwa semua agama tidak sama. Persamaan ada pada derajat manusia, sehingga kita perlu menganggap pemeluk agama lain sebagai sesama manusia.

Beliau pun keluar masuk gereja. Orang menganggap beliau dibaptis. Padahal, seperti diceritakan oleh banyak orang, beliau berkepentingan untuk menyampaikan ayat ayat Allah kepada para pendeta dan ummat kristiani. Beliau pun berkepentingan untuk menjaga iman para pegawai seperti satpam, tukang sapu, cleaning servis yang bisa saja muslim.

Ketika beliau ingin mendirikan Kedutaan Besar di Israel, banyak pihak menuding beliau pro Zionis. Anggapan ini sangat keliru. Beliau 100 persen mendukung perjuangan pejuang Palestina. Justru dengan adanya kedutaan besar di Israel, maka terbuka peluang untuk berjuang lewat jalur diplomasi. Bukankah kita diajari sejarah, bahwa sebagian ijtihad ulama kita dahulu dalam melawan penjajah Belanda adalah dengan justru koopratif kepada mereka?

Kiranya, masih banyak perilaku beliau yang menimbulkan banyak kontroversi, namun sebenarnya timbul dari pemikiran beliau yang sangat mendalam. Akan sangat panjang jika semuanya dituliskan. Cukup beberapa contoh di atas menjadi hujjah bahwa beliau tidak asal berbuat dan mengeluarkan statemen.

Berani dan Konsisten, namun Luwes dalam hal yang Tidak Prinsip.

Salah satu ciri khas beliau adalah keras dan konsisten dalam masalah pokok. Beliau dengan tegas dan kekeh terus mempertahankan NKRI sebagai bentuk negara, dan tidak segan segan mengambil keputusan yang berani. Jika ada praktek politik, pemerintahan, maupun kemasyarakatan yang bertentangan dengan Pancasila dan UUD 45, maka tidak segan beliau kritik dan lawan.

Beliau dengan entengnya ingin membubarkan kementrian sosial, karena dianggap sebagai lumbung koruptor. Dengan santainya mengangkat mentri tanpa lobi politik. Beliau percaya diri meskipun bersebrangan dengan koalisi politiknya sekalipun. Hingga terkenal jargon yang sering kita dengar dan menggema di mana mana, "Gitu aja kok repot."

Baca juga : MEREKAM SEKILAS GAGASAN GUS DUR DAN MEMBACA KONTRIBUSINYA


Paket Komplit yang Suka Asal Dicomot

Salah satu kritik yang ingin saya ajukan kepada kawan kawan pengagum Gus Dur adalah kita sering mencomot sebagian sisi Gus Dur, dan melupakan sisi yang lain.

Kita menganggap beliau bapak pluralisme, menghormati semua agama, dan suka bercanda. Anggapan itu tentu benar, namun Gus Dur tidak hanya itu.

Beliau sangat rutin membaca Al Quran, bahkan di sela sela kesibukan dan istirahat beliau. Beliau hobi bersedekah sirr (rahasia) yang banyak sekali orang tidak tahu. Beliau berwawasan luas, banyak membaca, dan banyak berfikir. Pula, di atas segala kecerdasan dan pengaruh beliau, beliau adalah orang yang selalu merasa menjadi santri yang harus taat kepada guru guru beliau. Sami'naa wa atha'naa. Itulah sebagian kecil dimensi beliau yang banyak orang tahu, namun mereka lupakan. Selayaknya, kita, sebagai pengagum beliau, melihat beliau seutuhnya, selengkapnya, hingga kita tidak salah sangka dalam menilai beliau.

Bapak Bangsa. Bapak Kita Semua

Akhir Risalah, kita patut berbangga memiliki tokoh yang dicintai oleh banyak kalangan, bukan hanya oleh ummat muslim, namun juga oleh saudara kita yang non muslim. Laku beliau menjadi contoh, prinsip beliau menjadi teladan. Maka, layaknya Abdurrahman Ad-Dakhil dari Dinasti Umayyah yang berhasil memimpin dan memajukan Spanyol, kita pun memiliki Abdurrahman Ad-Dakhil bin Wahid Hasyim yang memajukan cara berfikir manusia di Indonesia. Mungkin, 1000 tahun lagi pun kita tidak akan menemukan orang seperti beliau. Oleh karena itu, kita patut berbangga karena Indonesia memiliki beliau

WalLaahu A'lam

 

Penulis : Muhammad Ibnu Salamah


HIKAYAT SAYYIDINA ABU BAKR ASH SHIDDIQ



Nama aslinya adalah 'Abdul Ka'bah, Putra Abi Quhafah. Islam telah menemukannya dan Rasulullah mengubah namanya menjadi Abdullah. Akan tetapi, kaum muslimin lebih mengenalnya sebagai Abu Bakr. Hal ini karena cepatnya beliau (bakr) menerima setiap risalah yang utusan Allah bawa
.
Beliau bergelar Ash-Shiddiq (yang membenarkan risalah) setelah sebuah jawaban beliau lontarkan tentang Isra Mi'raj Nabi Muhammad yang tidak masuk akal. Perjalanan dari Makkah ke Baitul Maqdis di Palestina, dilanjut dengan naik ke langit hanya dalam satu malam memurtadkan sebagian kaum muslimin yang lemah imannya.
.
Tapi, tidak dengan Abu Bakr. "Bahkan yang lebih aneh dari itu pun, aku mempercayainya." Jawabnya mantap. Sebuah garansi pembenaran akan semua risalah kenabian yang telah purna.
.
Beliau tidak sekaya Utsman, apalagi Abdurrahman bin Auf. Beliau juga tidak segagah Umar ibnul Khattab, maupun Khalid bin Walid. Tidak pula sealim Ibnul Abbas, Ibnu Umar, Ali ibn Abi Thalib, maupun Abdullah bin Mas'ud. Iya. Beliau adalah seorang yang sedang sedang saja.
Akan tetapi, lihatlah sabda Rasulullah tentang beliau, ‘Jika iman seluruh umatku ditimbang di satu sisi neraca" sabda Nabi suatu ketika, "dan iman Abu Bakar ditimbang di sisi lain dari neraca tersebut, niscaya iman Abu Bakar lebih berat dari iman seluruh umatku (selain Abu Bakar)."
Beliau adalah seseorang yang menghibahkan seluruh hidupnya untuk Islam. Ketika menjadi khalifah pun, beliau membuat Umar Ibnul Khattab berujar, "Sungguh, kau telah membuat sulit khalifah setelahmu, Wahai Abu Bakr." Kalimat ini terlontar setelah melihat beliau merawat janda lumpuh dan buta dengan sembunyi-sembunyi. Abu Bakr, pengamal tanpa berharap dipuji.

Beliau mengajarkan kecintaan yang total kepada Rasulullah
Beliau mengajarkan kepada kita beramal bukan dengan jumlah atau kuantitas, melainkan dengan kualitas. Beliau mengajarkan kecintaan yang total kepada Rasulullah. Beliau lah yang paling awal menyadari kepergian Rasulullah dengan berteriak "Ayah dan ibuku menjadi tebusanmu!" ketika turun surat An-Nashr di akhir kehidupan Sang Rasul. Tapi, beliau lah yang paling tenang ketika Sang Rasul benar-benar wafat.
Salaamun 'Alaika, Yaa Abaa Bakr. Semoga keberkahan yang Allah turunkan atas beliau mengalir pula atas kita. Menggugah iman kita akan kecintaan yang lempang terhadap Allah dan Rasulullah, shallallaahu 'alaihi wa sallam.
.
Aamiin

Penulis : Muhammad Ibnu Salamah

TITIK TEMU ANTARA HIJRAHNYA KANJENG NABI , NU DAN NKRI (OLEH KH. HUDALLOH RIDLWAN NA'IM)

 

Buaran - Dalam acara pelantikan Pengurus NU Kelurahan Sapugarut periode 2020 - 2025 dan Peringatan HUT RI serta Tahun Baru Islam, KH. Hudalloh Ridlwan Na'im atau yang akrab dipanggil Gus Huda selaku Sekjend PWNU Jawa Tengah berkesempatan menyampaikan mauidhoh hasanah yang pointnya sudah kami rangkum. Ada titik temu antara hijrahnya kanjeng Nabi , NU dan NKRI . (20/8)

Dalam ceramahnya beliau menyampaikain bahwa adanya peringatan ini menandakan bahwa adanya wujud dan kejadian haqiqi yang dialami Kanjeng Nabi. Serta merupakan peristiwa yang di peringati dan di rayakan setiap tahun adalah wujud sebagai rasa cinta dengan apa yang di peringati itu dalam hal ini Hijriyatun Nabi SAW , dan semoga kehadiran kita semua menjadi bukti kecintaan klyang haqiqi kepada Kanjeng Nabi SAW. Karena kelak di akhirat akan ada manusia ahli maksiat tapi akan di masukkan surga karena kecintaannya kepada Kanjeng Nabi, atau mencintai orang-orang yang mencintai kanjeng Nabi SAW. Peringatan semacam ini menjadi wasilah atau cara memupuk dan menumbuhkan rasa Mahabbah ilar Rosulillah SAW.

Ciri orang mencintai Nabi adalah dengan mencintai para ulama. Sebab para ulama inilah yang menjaga, membawa dan mengembangkan ilmu dan ajaran Nabi SAW . Gus Huda menambahkan orang yang suka mengolok ulama berarti tandanya bohong kalau mengakui kecintaan terhadap kanjeng Nabi SAW.

Termasuk masuknya Islam ke Indonesia di bawa oleh Ulama yang menggunakan cara kanjeng Nabi SAW. Bohong kalo ada orang mengaku kembali ke Al Quran dan Hadits tanpa melalui para Ulama. Para pedagang Gujarat punya andil membawa ajaran Islam ke Indonesia itu betul tapi bukan satu-satunya. Karena ada andil para ulama, Syaikh Ibrahim Asmaraqandi, Syaikh Jumadil Qubra sampai kepada para walisanga dan para penerusnya. Jika membuka sejarah, satusatunya yang selalu memberi perlawanan kepada para penjajah adalah para ulama dan para santri . Sebab andaikata tidak ada semangat Islam, maka rasa Nasionalisme bangsa Indonesia akan pudar. Islam di sini yang di maksud adalah sebagaimana Islamnya para Walisanga . Maka, para penjajah dulu mencoba melemahkan ajaran KeIslaman dari dua Arah , luar dan dalam . Dari arah luar dengan cara pemurtadan . Membuat pemahaman keislaman menjadi kabur dengan memasukkan ajaran-ajaran baru dan menanamkan keraguan-keraguan terhadap para pemeluknya . Salah satu contohnya adalah amaliyah yang sudah di ajarkan para ulama terdahulu di bid'ahkan dan disesatsesatkan, padahal sudah di lakukan sejak ribuan tahun yang lalu . Masalah furu'iyyah seperti membaca Qunut ketika subuh sudah selesai di bahas sejak Zaman Madzahibul Arba'ah.

Gus Huda juga menjelaskan bahwa Ki Ageng Gribik dan Pangeran Diponegoro adalah pejuang yang berlatar belakang santri penerus ajaran walisanga dan Rasululloh . Untuk mempertahankan Ajaran Rasululloh dan mempertahankan Tanah Air Indonesia, para ulama berperan besar dalam perjuangannya, bersama menjaga tradisi ajaran Rasululloh sebagai wujud cinta . Para pendahulu, para ulama selama bertahun-tahun tidak pernah pudar semangatnya dalam menjaga NKRI. Kekuatan yang sudah bertahun-tahun tertanam itu, di himpun kembali dan dipertahankan oleh Hadrotusysyaikh KH. Hasyim As'ary pendiri Nahdlatul Ulama' .

Dalam sejarah, Negara Inggris pada saat itu tidak memiliki latar belakang kalah perang dengan bermacam amunisi dan tetara terlatihnya, namun bingung ketika melawan pejuang Tanah Air. Pada saat itu, Jendral Soedirman ketika di Mintai masukan oleh Ir. Sukarno menjawab bahwa yang bisa menselesaikan peperangan melawan sekutu yang di pimpin Inggris ini adalah Hadrotusysyaikh KH. Hasyim As'ary dengan backing pasukannya seperti Hizbulloh, Sabilillah yang kesemuanya adalah barisan para santri penerus perjuangan Rosululloh. Dan Mbah Hasyim mengeluarkan Resolusi Jihad tanpa gentar. Membuktikan bahwa Mbah Hasyim juga menguasai strategi peperangan .

Maka kenapa para santri dulu pinter silat dan jadug , karena pada saat itu santri termasuk benteng terdepan dalam perlawanan terhadap penjajah . Juga tidak berlebihan jika disebut bahwa Tentara NU , para Banser khususnya adalah sisa-sisa tentara Rasululloh karena memang misi pertamanya menjaga ajaran Rasululloh. Semua yang dilakukan adalah bukti Mahabbah yang agung kepada Rosululloh. Baginda Nabi SAW adalah pribadi yang sangat mencintai Umatnya. Maka, hal-hal yang kita lakukan untuk menyenangkan umat kanjeng nabi adalah salah satu cara menggapai ridho dan kecintaan kanjeng Nabi SAW. Beliau tidak hanya membela orangorang yang benar, orang yang teraniyaya dan sering di bully atas kesalahannyapun tetap di bela, dengan wujud melarang untuk membicarakan (menghibah) kesalahan orang lain itu.

Perjuangan kita mempertahankan dan mencintai NKRI adalah wujud dari keimanan. Seabagaimana Mbah Wahab dalam menggubah syair Ya Lal Wathon menggunakan diksi Hubbul Wathon Minal Iman, bukan Hifdzul Wathon (Menjaga Tanah Air) juga bukan Ri'ayatul Wathon (Nguri-uri), karena begitu pentingnya rasa cinta. Maka dengan kita berjuang di NU bukan untuk siapa-siapa, melainkan untuk Rosululloh SAW.

Perjuangan kita mempertahankan dan mencintai NKRI adalah wujud dari keimanan.

Di NU ada 18 Lembaga , yang bertujuan memberikan pelayanan terhadap umat kanjeng Nabi SAW . Dan Gus Huda beratanya, kenapa masjid dan mushola kita jaga serta kita bela ? Agar umatnya kanjeng Nabi dapat melaknsanakan syariatnya dengan baik dan benar. Dan kenapa madrasah diniyyah dan pesantren kita pertahankan ? Untuk menjaga ajaran-ajaran Rasululloh .


Hadrotusysyaikh KH. Hasyim As’ari dawuh  “Siapa yang mengurus NU, saya anggap santriku, siapa yang menjadi santriku saya doakan khusnul khotimah beserta keluarganya”. Kenapa diksi yang di gunakan adalah mengurus NU , bukan menjadi pengurus NU , bukan siapa yang puluhan tahun mesantren ? Karena mengurus NU sama saja mengurus dan mempertahankan tradisi ajaran Rasululloh SAW, yang sangat mulia. Maka , para santri yang boyongan namun hanya fokus memgajar tanpa mengenalkan NU kepada Masyarakat sama saja membunuh pesantren . Karena tradisi pesantren selalu di pertahankan oleh NU . Jika masyarakat tidak mengenal NU, bagaimana mungkin mau belajar dan mondok di pesantren NU?

Siapa yang mengurus NU, saya anggap santriku, siapa yang menjadi santriku saya doakan khusnul khotimah beserta keluarganya”. (Hadrotusysyaikh KH. Hasyim As’ari)

Gus Huda juga menambahkan, InsyaAllah jika seluruh akar rumput, NU di ranting-ranting sudah hidup dan berjalan maka pelayanan di masyarakat akan semakin baik dan maju . Dan menurut beliau menjadi pengurus NU adalah kenikmatan dan anugrah yang telah di berikan oleh Allah untuk bisa berkhidmah dan mendekat kepada Rasululloh SAW . Maka, manfaatkan waktu menjadi pengurus sebaik mungkin .

Beliau juga mengutip dawuh KH. Bisry Syansuri “ Sopo wonge gelem ngurusi Nu, Maka akan bahagia dunia dan akhirat “. Karena, Jika NU kuat maka Indonesia Kuat , dan sebaliknya . Maka, kebangkitan NU tidak bisa lepas dari kebangkitan Nasionalisme dan negara . Dan mengamalkan Qonun Asasi dengan menjalankan progam kerja dan kegiatan adalah wujud dari mengamalkan Wasiat dan keputusan para ulama.

Kontributor : M. Wamiq Hammadallah