BAGAIMANA HUKUM SEORANG MUSLIM SHOLAT DI GEREJA?

 


Ada seorang kawan bertanya, “orang Islam (muslim) masuk dan shalat di dalam gereja, atau di tempat ibadah non muslim lainnya bagaimana hukumnya?”


Terhadap pertanyaan ini saya juga menyampaikan bahwa soal ini sudah sangat lama dibahas dan diperdebatkan di kalangan ulama klasik. Telah banyak pula orang yang menulis isu ini di media sosial, seraya mengurai perdebatan para ulama itu berikut dalil-dalilnya. Berikut ini adalah ringkasan belaka dari perdebatan para ulama itu.


Hal yang penting disampaikan awal adalah bahwa isu ini tidak disebutkan dalam Al-Qur’an. Kitab suci ini hanya menyatakan : “dirikanlah shalat”.


Lalu Al-Qur’an dalam ayat yang menyebutkan tentang perlindungan terhadap tempat-tempat ibadah :


وَلَوْلَا دَفْعُ اللَّهِ النَّاسَ بَعْضَهُمْ بِبَعْضٍ لَهُدِّمَتْ صَوَامِعُ وَبِيَعٌ وَصَلَوَاتٌ وَمَسَاجِدُ يُذْكَرُ فِيهَا اسْمُ اللَّهِ كَثِيرًا ۗ وَلَيَنْصُرَنَّ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ


“Dan sekiranya Allah tiada menolak (keganasan) sebagian manusia atas sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadat orang Yahudi dan masjid- masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa”.(Q.S Al-Hajj, 40).


Ayat ini memperlihatkan bahwa tempat-tempat ibadah agama itu eksis karena Allah melindunginya.


Jadi tentang tempatnya di mana tidak disebutkan di dalam Al-Qur’an. Nabi juga tidak menjelaskan secara jelas dan khusus mengenai masalah ini. Beliau hanya mengatakan :


وجعلت لي الأرض مسجدًًا وطهورًًا، فأيما رجل من أمتي أدركته الصلاة فليصل ”


“bumi ini dijadikan untukku sebagai masjid (tempat sujud) dan suci. Maka siapapun dari umatku masuk waktu shalat maka shalatlah”.


Ada juga hadits Nabi yang menyebutkan bahwa “Nabi saw melarang shalat di tujuh tempat yaitu tempat sampah, tempat penyembelihan, kuburan, ditengah jalan, kamar mandi, kandang unta, dan diatas bangunan baitullah”. Di situ jelas tidak disebutkan gereja atau rumah ibadah yang lain.


Jika kita membaca perbincangan ulama tentang isu itu, maka kita menemukan tiga pandangan : membolehkan, memakruhkan (kurang baik), dan mengharamkan jika di gereja itu ada gambar. Masing-masing mengemukakan argumen dari teks sumber yang berbeda-beda, atau dari teks sumber yang sama tetapi dengan pemaknaan yang berbeda atau kecenderungan yang berbeda pula.


Masuk atau Shalat di Gereja


Para ulama fiqh membedakan antara sekedar masuk ke dalam gereja (tidak shalat) dan shalat di dalam gereja. Dalam kedua kasus itu mereka berbeda pendapat. Perdebatan ini dikemukakan dalam “Al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah”,

(Ensiklopedia Fiqh).


دخول المسلم معابد الكفار

اختلف الفقهاء فى جواز دخول المسلم معابد الكفار على أقوال : ذهب الحنفية الى أنه يكره المسلم دخول البيعة والكنيسة لأنه مجمع الشيطان. لا من حيث أنه ليس له حق الدخول . ويرى المالكية والحنابلة وبعض الشافعية أن المسلم دخول بيعة وكنيسة ونحوهما . وقال بعض الشافعية فى راي اخر لا يجوز للمسلم دخولها الا بإذنهم . (الموسوعة الفقهية جز ٣٨, ص ١٥٥).


Masuk Rumah Ibadah orang kafir.


“Para ulama fiqh berbeda pendapat tentang hukum seorang muslim masuk gereja atau tempat peribadatan orang kafir. Mazhab Hanafi tidak menyukai muslim datang ke gereja, karena di situ tempat pertemuan setan. Tetapi bukan berarti tidak boleh. Mazhab Maliki, Mazhab Hambali dan sebagian Mazhab Syafi’i, membolehkan masuk gereja atau Sinagog atau tempat ibadah yang semacam itu. Sebagian pengikut mazhab Syafi’i membolehkan dengan syarat memeroleh izin mereka”. (Mausu’ah Fiqhiyyah, vol. 38/155).


الصلاة فى معابد الكفار

نص جمهور الفقهاء على أنه تكره الصلاة فى معابد الكفار إذا دخلها مختارا . أما أن دخلها مضطرا فلا كراهة. وقال الحنابلة تجوز الصلاة فيها من غير كراهة على الصحيحة من المذهب. وروى عن أحمد تكره. وقال الكسانى من الحنفية لا يمنع المسلم أن يصلى فى الكنيسة من غير جماعة لأنه ليس فيه تهاون ولا استخفاف. (الموسوعة الفقهية، ج ٣٨ ص ١٥٥).


“Shalat di tempat-tempat peribadatan orang-orang kafir”.


“Mayoritas ahli fiqh memutuskan “makruh” (kurang baik), seorang muslim shalat di tempat-tempat ibadah orang kafir jika ia menginginkannya. Tetapi tidak makruh jika terpaksa”.


“Mazhab Hambali membolehkan shalat di tempat-tempat itu, tidak makruh. Al-Kasani dari Mazhab Hanafi malah mengatakan : “tidak boleh melarang muslim shalat sendirian (tidak berjamaah) di gereja. Itu bukan melecehkan atau merendahkan kaum muslimin”. (Mausu’ah Fiqhiyyah, vol. 38/155).


Ibnu Qudamah (w. 1223 M), ahli fiqh besar dalam mazhab Hambali mengatakan :


“ولا بأس بالصلاة في الكنيسة النظيفة، رخص فيها الحسن و عمر بن عبد العزيز والشعبي والأوزاعي وسعيد بن عبد العزيز وروي عن عمر وأبي موسى , وكره ابن عباس و مالك الكنائس من أجل الصور , ولنا أن النبي صلى الله عليه و سلم صلى في الكعبة وفيها صور ثم هي داخلة في قوله عليه السلام: “فأينما أدركتك الصلاة فصل فإنه مسجد”. (المغنى 1 ص ٧٢٣)


“Tidak ada masalah seorang muslim shalat di tempat yang bersih di gereja. Ini pendapat Al-Hasan, Umar bin Abd al-Aziz, al-Sya’bi, al-Auza’i, Sa’id bin Abd al-Aziz, konon juga Umar bin Khattab dan Abu Musa al-Asy’ari. Sementara Ibnu Abbas dan Imam Malik, berpendapat “makruh” (kurang baik) karena di sana ada gambar patung. Menurut kami (tidak demikian). Nabi pernah masuk ke dalam Ka’bah yang di dalamnya ada gambar patung. Lagi pula shalat di situ termasuk dalam ucapan Nabi : jika waktu shalat telah tiba, kerjakan shalat di manapun, karena di manapun bumi Allah adalah masjid (tempat sujud)”. (Al-Mughni, I/759).


Ibnu Taimiyah konon adalah ulama yang mengharamkan. Tetapi saat ditanya mengenai kasus ini menyebut tiga alternatif : tidak boleh dan boleh. Kemudian dia mengatakan :


والثالث : وهو الصحيح المأثور عن عمر بن الخطاب وغيره وهو منصوص عن أحمد وغيره أنه إن كان فيها صور لم يصل فيها لأن الملائكة لا تدخل بيتا فيه صورة ولأن النبي صلى الله عليه وسلم لم يدخل الكعبة حتى محي ما فيها من الصور


Pendapat yang ketiga dan ini yang sahih berdasarkan kisah Umar bin al-Khattab, dan pendapat Imam Ahmad dan lainnya : jika di dalam gereja itu ada gambar, maka tidak boleh shalat, karena Malaikat tidak akan mau masuk di rumah yang di dalamnya ada gambar, dan karena Nabi tidak masuk ke Ka’bah sampai gambar yang ada di dalamnya dibuang”.


Pandangan Ibnu Taimiyah ini tidak menyebutkan secara jelas apakah tidak shalat itu berarti haram atau makruh saja?. Orang bisa menafsirkan secara berbeda. Lagi pula hadits yang jadi argumennya juga problematik. Apakah setiap rumah yang ada gambarnya tidak boleh ditempati untuk shalat, karena Malaikat tidak akan masuk ke dalamnya?


Waallahu A'lam. 


Oleh : KH. Husen Muhammad 

(Di Muat oleh Fahmina.or.id)

RIJALUL ANSOR BAHAS PERKARA NAJIS YANG BISA MENJADI SUCI

 


Diantara isi kegiatan rutin MDS Rijalul Ansor Buaran yakni Kajian kitab Safinah yang dikarang oleh Syekh Salim bin Sumair Al-Hadromi.

Adapun kajian saat ini telah sampai pada bab Perkara najis berubah menjadi suci ada tiga,

الخمر اذا تخللت بنفسه.

Pertama, adalah Arak (Khomr) yang tadinya najis ketika berubuah menjadi cuka (khollan) dengan sendirinya maka hukumnya suci.

وجلد الميتة اذا دبغ

Kedua, adalah Kulit bangkai, yang tadinya najis ketika telah tersamak maka hukumnya menjadi suci.

ومقصود الدبغ نزع فضوله وهي رطوبته التي يفسده بقاؤها ويطيبه نزعها بحيث لو نقع في الماء لم يعد إليه النتن والفساد

Adapun yang dimaksud dengan menyamak adalah menghilangkan sisa- sisa kotoran yang ada di kulit bangkai, yaitu basah-basah kulit bangkai yang bila dibiarkan akan merusak kulit bangkai tersebut dan apabila dihilangkan akan menjadikan kulit tersebut bersih dan tidak rusak, sekiranya kulit bangkai tersebut direndam di dalam air maka kulit bangkai itu tidak lagi berbau busuk dan tidak rusak.

وما صار حيوانا

Ketiga, adalah perkara najis yang telah berubah menjadi hewan, maka hewan tersebut hukumnya suci.

كدود تولد من عين النجاسة ولو مغلظة لأنه لا يخلق من نفس المغلظة بل يتولد فيها كدود الخل فإنه لا يخلق من نفس الخل بل يتولد فيه

Contohnya seperti ulat yang berasal dari kotoran yang najis. Adapun alasan ketidak najisanya karena hakikat dari ulat tersebut tidaklah tercipta dari perkara atau kotoran yang najis itu sendiri, nampun dari dzat yang telah ada didalamnya.

BACA JUGA : WUDHU ORANG YANG MEMAKAI PLASTER LUKA...

Dari ketiga uraian diatas dalam istilah fiqih sering disebut dengan Istihalah (استحالة), apa itu Istihalah, Istihalah yaitu perubahan suatu perkara dari satu sifat atau bentuk ke sifat atau bentuk yang lain, dalam hal ini sucinya suatu perkara najis disebabkan karena proses Istihalah tersebut, sebagaimana yang terdapat dalam kitab Kifatul Akhyar.

اعْلَم أَن تَطْهِير الْأَشْيَاء تَارَة يكون بِالْغسْلِ وَقد مر وَقد يكون بالإستحالة وَمعنى الاستحالة انقلاب الشَّيْء من صفة إِلَى أُخْرَى

Dan Syekh Nawawi Al-Bantani dalam Syarah Kasifatus Saja' juga menambahkan perihal Istihalah ini.

قال الشرقاوي ومن الاستحالات انقلاب الدم لبناً أو منياً أو علقة أو مضغة وانقلاب البيضة فرخاً ودم الظبية مسكاً وطهر الماء القليل بالمكاثرة فإنه استحالة على الأصح.

Imam As-Syarqowi berkata, “Termasuk istihaalah (perubahan benda- benda najis menjadi suci) adalah perubahan darah yang menjadi susu atau menjadi sperma atau darah kempal ataupun daging kempal, dan perubahan telur  menjadi anak hewan, dan perubahan darah kijang menjadi misik, dan perubahan air sedikit yang najis menjadi suci sebab diperbanyak hingga air sedikit tersebut mencapai dua kulah,  sebagaimana pendapat qoul Ashoh yang menyatakan bahwa perubahan air sedikit menjadi banyak (dua kulah atau lebih) termasuk istihalat.”

 

 

Semoga bermanfaat.

MDS Rijalul Ansor PAC GP Ansor Buaran

Penulis : Iqbal

ORANG-ORANG YANG DAPAT MEMBERI SYAFA'AT (KAJIAN TAFSIR AL QURTHUBI)

Ilustrasi Foto : wm.edu


Berikut adalah beberapa ayat yang berbicara mengenai pertolongan atau syafaat.

1.Syafaat Dari Orang-orang yang Diridhai Allah swt. (QS. Al-Baqarah [2]: 255)

اللَّهُ لا إِلَهَ إِلا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلا نَوْمٌ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأرْضِ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلا بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلا بِمَا شَاءَ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ وَلا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ

“Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa izin-Nya. Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” Qs. Al-Baqarah [2]: 255.

Menurut al-Qurthubī, ayat ini menegaskan bahwa Allah swt mengizinkan kepada orang yang Dia kehendaki untuk memberi syafaat. Orang yang dikehendaki ini diantaranya adalah para nabi para ulama, orang-orang yang berjihad, para malaikat dan lainnya yang dimuliakan oleh Allah swt. Akan tetapi, hanyalah orang-orang yang diridhai oleh Allah swt sajalah yang kelak akan mendapatkan syafaat dari orang-orang yang dimaksud dalam ayat ini sebagaimana Firman Allah swt dalam Surat al-Anbiya’ ayat 28. 

BACA : JUGA MAKNA SALAM DALAM ISLAM

Secara lebih detail, al-Qurthubī menjelaskan bahwa kelak anak kecil akan memberikan syafaat di pintu surga kepada para kerabat dan orang-orang yang dikenalnya. Adapula syafaat yang diberikan oleh saudara seiman yang sering melakukan amal kebaikan secara bersama-sama sebagaimana ungkapan “Wahai Tuhan kami, sesungguhnya saudara-saudara kami itu shalat bersama kami dan puasa bersama kami”. Para Nabi pun kelak akan memberikan syafaat kepada umatnya masing-masing yang di dalam hatinya terdapat keimanan, bahkan ketika umatnya sudah masuk ke dalam neraka sekalipun diakibatkan oleh kemaksiatan dan dosa-dosa mereka, syafaat tersebut tetap berlaku jika Allah mengizinkan.  

Para Nabi pun kelak akan memberikan syafaat kepada umatnya masing-masing yang di dalam hatinya terdapat keimanan, bahkan ketika umatnya sudah masuk ke dalam neraka sekalipun diakibatkan oleh kemaksiatan dan dosa-dosa mereka, syafaat tersebut tetap berlaku jika Allah mengizinkan. 

Adapun syafaat Nabi Muhammad saw. adalah berupa penyegeraan proses hisab, artinya hanya Nabi saw. sajalah yang dapat memohon kepada Allah swt. agar hisab atas seluruh makhluk segera dilaksanakan.  

Terakhir adalah syafaat dari Allah swt. Yang Maha Penyayang berupa ampunan kepada orang-orang yang tenggelam dalam kesalahan dan dosa yang mana syafaat dari para nabi sekalipun tidak berguna sama sekali bagi mereka.  

Lebih lanjut menurut al-Qurthubī, pada dasarnya orang-orang yang beriman dan dikehendaki oleh Allah swt untuk memberikan syafaat, mempunyai dua syafaat, yakni syafaat kepada orang yang belum sampai ke neraka dan syafaat kepada orang yang telah masuk ke neraka.  

2.Malaikat Dapat Memberi Syafa’at (QS. Al-Anbiyā’ [21]: 28)

يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلا يَشْفَعُونَ إِلا لِمَنِ ارْتَضَى وَهُمْ مِنْ خَشْيَتِهِ مُشْفِقُونَ

“Allah mengetahui segala sesuatu yang di hadapan mereka (malaikat) dan yang di belakang mereka, dan mereka tiada memberi syafaat melainkan kepada orang yang diridai Allah, dan mereka itu selalu berhati-hati karena takut kepada-Nya.” Qs. Al-Anbiyā’ [21]: 28.

Menurut al-Qurthubī, di akhirat kelak para malaikat akan memberi syafaat, akan tetapi hanya sebatas kepada orang-orang yang diridhai Allah swt. Menurut Ibnu ‘Abbās, orang-orang yang dikehendaki oleh Allah tersebut adalah orang-orang ahli syahadat, yang selalu mengagungkan keesaan Allah. Sementara menurut Mujāhid adalah setiap hamba yang Allah melimpahkan shalawat dan salam kepadanya. 

3. Syafaat Malaikat Sangat Terbatas (QS. An-Najm [53]: 26) 

وَكَمْ مِنْ مَلَكٍ فِي السَّمَاوَاتِ لا تُغْنِي شَفَاعَتُهُمْ شَيْئًا إِلا مِنْ بَعْدِ أَنْ يَأْذَنَ اللَّهُ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَرْضَى

“Dan berapa banyaknya malaikat di langit, syafaat mereka sedikit pun tidak berguna kecuali sesudah Allah mengizinkan bagi orang yang dikehendaki dan diridai (Nya).” Qs. An-Najm [53]: 26.

Menurut al-Qurthubī, ayat ini merupakan celaan dari Allah SWT kepada orang yang menyembah malaikat serta berhala dan mengira bahwa semua itu dapat mendekatkannya kepada Allah swt. Al-Qurthubī menegaskan, bahwa para malaikat walaupun mempunyai kedudukan yang mulia di sisi Allah SWT, tidak dapat memberi pertolongan kecuali kepada orang yang diizinkan Allah swt untuk mendapat pertolongan. 


Kontributor : Muhammad Khoirul Umam


Referensi : Imām al-Qurthubī, al-Jāmi’ li Ahkām al-Qur’ān  (Beirut: Muassasah al-Risalah, 2006)

TIMBANGAN AMAL MANUSIA DI AKHIRAT (KAJIAN TAFSIR AL QURTHUBI)

 

foto: islamindonesia.id

Berikut adalah beberapa ayat yang berbicara mengenai proses dan keadaan ketika dilakukan penimbangan atas amal perbuatan manusia di dunia.

1. Ada yang Berwajah Putih Berseri dan Ada yang Hitam Muram (QS. Āli Imrān [3]: 106)

يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوهٌ وَتَسْوَدُّ وُجُوهٌ فَأَمَّا الَّذِينَ اسْوَدَّتْ وُجُوهُهُمْ أَكَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ فَذُوقُوا الْعَذَابَ بِمَا كُنْتُمْ تَكْفُرُونَ

“Pada hari yang di waktu itu ada muka yang putih berseri, dan ada pula muka yang hitam muram. Adapun orang-orang yang hitam muram mukanya (kepada mereka dikatakan): "Kenapa kamu kafir sesudah kamu beriman? Karena itu rasakanlah azab disebabkan kekafiranmu itu.” Qs. Āli Imrān [3]: 106.

Menurut al-Qurthubī, terkait penafsiran keadaan muka yang putih berseri dan muram, para ulama berbeda pendapat mengenai waktu konkretnya kapan keadaan tersebut akan terjadi dan untuk siapa predikat wajah putih berseri dan hitam muram tersebut. Ada yang berpendapat bahwa keadaan demikian terjadi pada hari kiamat tepat setelah manusia dibangkitkan dari kuburannya masing-masing. Pada hari itu, wajah orang beriman akan terlihat putih, sedangkan wajah orang-orang kafir akan terlihat hitam muram. 

Sedangkan ulama lain berpendapat bahawa hal itu terjadi ketika manusia membaca buku catatan amal perbuatan mereka. Ketika seorang muslim menerima buku catatan amalnya, maka dia akan melihat perbuatan-perbuatan baiknya sehingga wajahnya terlihat putih berseri-seri. Sedangkan ketika orang munafik dan orang kafir membaca buku catatan amal mereka, maka dia akan melihat di dalam buku catatan amal tersebut terdapat banyak perbuatan buruk, sehingga wajahnya pun menjadi hitam muram. 

Ada lagi pendapat mengatakan bahwa keadaan demikian terjadi ketika dilakukan penimbangan atas amal perbuatan manusia. Apabila kebaikannya lebih banyak, maka wajahnya akan terlihat putih dan jika keburukannya lebih berat maka wajahnya akan terlihat hitam. Hal ini sesuai dengan firman Allah swt:

وَامْتَازُوا الْيَوْمَ أَيُّهَا الْمُجْرِمُونَ

“Dan (dikatakan kepada orang-orang kafir): "Berpisahlah kamu (dari orang-orang mukmin) pada hari ini, hai orang-orang yang berbuat jahat.” Qs. Yāsīn [36]: 59.

Pendapat terakhir mengatakan bahwa pada hari kiamat setiap kelompok manusia akan diperintahkan untuk berkumpul di hadapan sesembahannya masing-masing. Jika mereka sampai kepada sesembahan mereka itu maka mereka menangis dan menjadi hitamlah wajah-wajah mereka. Sehingga yang tersisa adalah orang-orang yang beriman, ahli kitab dan orang-orang munafik. Allah kemudian bertanya kepada orang-orang yang beriman, “Siapa Tuhan Kalian?”, mereka menjawab, “Tuhan kami adalah Allah”, lalu Allah bertanya lagi kepada mereka, “Apakah kalian akan mengetahui-Nya jika kalian melihat-Nya?”, mereka menjawab, “Maha Suci Allah, jika Dia mengaku maka kami akan mengetahui-Nya”. Maka, mereka pun melihat-Nya dengan cara yang dikehendaki-Nya. Adapun orang-orang yang beriman, mereka bersungkur untuk bersujud kepada Allah, sehingga wajah-wajah mereka menjadi seputih salju. Tinggallah orang-orang yang munafik dan ahli kitab, mereka tidak mampu untuk bersujud sehingga mereka bersedih dan wajah mereka pun menjadi hitam. Itulah maksud dari Surat Āli Imrān ayat 106 diatas. 

Adapun orang-orang yang beriman, mereka bersungkur untuk bersujud kepada Allah, sehingga wajah-wajah mereka menjadi seputih salju.

2. Seseorang yang Banyak Pahalanya Namun Menjadi Habis Karena Perilakunya Pada Orang Lain (QS. Al-Ankabūt [29]: 13)

وَلَيَحْمِلُنَّ أَثْقَالَهُمْ وَأَثْقَالا مَعَ أَثْقَالِهِمْ وَلَيُسْأَلُنَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَمَّا كَانُوا يَفْتَرُونَ

“Dan sesungguhnya mereka akan memikul beban (dosa) mereka, dan beban-beban (dosa yang lain) di samping beban-beban mereka sendiri, dan sesungguhnya mereka akan ditanya pada hari kiamat tentang apa yang selalu mereka ada-adakan.” Qs. Al-Ankabūt [29]: 13.

Menurut al-Qurthubī, bahwa di akhirat kelak akan ada seseorang yang pada awalnya mempunyai banyak pahala, namun karena perilaku buruknya terhadap orang lain maka pahalanya menjadi habis dan bahkan menjadi semakin bertambah dosanya.  

BACA JUGA : SEMARAK HARLAH, IPNU IPPNU

Al-Qurthubī lalu mengutip perkataan Abū Amāmah al-Bahilī, “Pada hari kiamat nanti akan ada seseorang yang mempunyai banyak sekali pahala, namun banyak orang yang meminta pahalanya tersebut karena merasa pernah disakiti. Ketika masih ada orang yang meminta pertanggung jawaban kepadanya, maka Allah swt akan memerintahkan malaikat untuk terus mengurangi pahala orang tersebut hingga malaikat mengatakan bahwa pahala orang tersebut sudah habis. Maka Allah swt memerintahkan kepada malaikat untuk mengambil dosa dari orang yang pernah disakitinya lalu diberikan kepadanya. Kemudian Rasulullah saw membaca ayat  

وَلَيَحْمِلُنَّ أَثْقَالَهُمْ وَأَثْقَالا مَعَ أَثْقَالِهِمْ. 


Kontributor : M. Khoirul Umam


Referensi : Imām al-Qurthubī, al-Jāmi’ li Ahkām al-Qur’ān (Beirut: Muassasah al-Risalah, 2006)


BERKUMPUL BERSAMA KELUARGA DI SURGA (KAJIAN TAFSIR AL QURTHUBI)

 

Ilustrasi Foto : liputan6.com

Berikut adalah salah satu ayat yang berbicara mengenai surga dan keadaan di dalamnya.

جَنَّاتُ عَدْنٍ يَدْخُلُونَهَا وَمَنْ صَلَحَ مِنْ آبَائِهِمْ وَأَزْوَاجِهِمْ  وَذُرِّيَّاتِهِمْ وَالْمَلائِكَةُ يَدْخُلُونَ عَلَيْهِمْ مِنْ كُلِّ بَابٍ

“(yaitu) Surga ‘Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang saleh dari bapak-bapaknya, istri-istrinya dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu;.” Qs. Ar-Ra’d [13]: 23.

Dalam menafsirkan ayat ini, al-Qurthubī menggabungkannya dengan ayat sebelumnya dikarenakan masih dalam satu pembahasan tentang balasan terhadap orang-orang yang takut terhadap Allah, takut akan hisab yang buruk, orang-orang yang bersabar, mendirikan sholat, bersedekah dan menjauhi keburukan demi kebaikan. Balasan yang Allah janjikan terhadap orang-orang tersebut adalah tempat kesudahan yang baik yaitu Surga ‘Adn. 

BACA JUGA : SYIRIK TIDAK TERASA

Menurut al-Qurthubī, Surga ‘Adn merupakan bagian tengah dari surga. Kerangka atap dan atap Surga ‘Adn adalah Arasy al-Rahmān sebagaimana yang diungkapkan oleh al-Qusyairī Abū Nashr ‘Abdul Mālik.  Hal ini sesuai dengan sabda Nabi saw berikut:

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ صَالِحٍ حَدَّثَنَا فُلَيْحٌ عَنْ هِلَالِ بْنِ عَلِيٍّ عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَسَارٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ , قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَبِرَسُولِهِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَصَامَ رَمَضَانَ كَانَ حَقًّا عَلَى اللَّهِ أَنْ يُدْخِلَهُ الْجَنَّةَ جَاهَدَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَوْ جَلَسَ فِي أَرْضِهِ الَّتِي وُلِدَ فِيهَا فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَلَا نُبَشِّرُ النَّاسَ قَالَ إِنَّ فِي الْجَنَّةِ مِائَةَ دَرَجَةٍ أَعَدَّهَا اللَّهُ لِلْمُجَاهِدِينَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ مَا بَيْنَ الدَّرَجَتَيْنِ كَمَا بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ فَإِذَا سَأَلْتُمُ اللَّهَ فَاسْأَلُوهُ الْفِرْدَوْسَ فَإِنَّهُ أَوْسَطُ الْجَنَّةِ وَأَعْلَى الْجَنَّةِ أُرَاهُ فَوْقَهُ عَرْشُ الرَّحْمَنِ وَمِنْهُ تَفَجَّرُ أَنْهَارُ الْجَنَّةِ , قَالَ مُحَمَّدُ بْنُ فُلَيْحٍ عَنْ أَبِيهِ وَفَوْقَهُ عَرْشُ الرَّحْمَنِ 

“Telah bercerita kepada kami Yahyā bin Shālih telah bercerita kepada kami Fulaīh dari Hilāl bin 'Alī dari 'Athā' bin Yasār dari Abū Hurairah ra berkata; Rasulullah saw bersabda: "Barang siapa yang beriman kepada Allah, menegakkan shalat, berpuasa bulan ramadhan, maka sudah pasti Allah akan memasukkannya kedalam surga, baik apakah dia berjihad di jalan Allah atau dia hanya duduk tinggal di tempat di mana dia dilahirkan". Mereka bertanya: "Wahai Rasulullah, apakah tidak sebaiknya kami sampaikan berita gembira ini kepada orang-orang?" Beliau bersabda: "Sesungguhnya di surga itu ada seratus derajat (kedudukan) yang Allah menyediakannya buat para mujahid di jalan Allah dimana jarak antara dua derajat seperti jarak antara langit dan bumi. Untuk itu bila kalian minta kepada Allah maka mintalah surga firdaus karena dia adalah tengahnya surga dan yang paling tinggi. Aku pernah diperlihatkan bahwa diatas firdaus itu adalah singgasanannya Allah Yang Maha Pemurah dimana darinya mengalir sungai-sungai surga". Berkata Muhammad bin Fulaih dari bapaknya: "Diatasnya adalah singgasanannya Allah Yang Maha Pemurah".” (HR. Bukhari).

Al-Qurthubī kemudian melanjutkan bahwa orang-orang tersebut akan berada di Surga ‘Adn bersama dengan orang-orang shaleh dari bapak-bapaknya, istri-istrinya serta anak cucunya. Menurut al-Qurthubī, lafadz min dalam ayat tersebut dapat dibaca nashab sehingga dapat diartikan bahwa orang-orang tersebut memasuki Surga ‘Adn bersama dengan orang-orang shaleh dari bapak-bapaknya walaupun dia tidak beramal sebagaimana halnya amal shalih mereka. Allah swt. menggabungkannya bersama mereka di Surga ‘Adn sebagai penghormatan terhadap mereka. 

Ibnu ‘Abbās berkata bahwa keshalihan yang dimaksud adalah keimanan kepada Allah swt dan Rasul-Nya. Maka jika keimanan tersebut beriringan dengan sejumlah ketaatan lainnya, pastilah mereka memasukinya dengan ketaatan mereka sendiri bukan karena ikut-ikutan.  

Kelak nikmat akan disempurnakan bagi mereka dengan mengumpulkan mereka bersama dengan para keluarga dan kerabatnya di Surga

Terakhir al-Qurthubī mengutip pendapatnya al-Qusyairī yang mengatakan bahwa dalam konteks ini perlu dipertimbangkan pula adanya keimanan. Perkataan yang menyebutkan disyaratkannya amal shalih sama dengan disyaratkannya iman. Akan tetapi yang jelas, keshalihan yang dimaksud adalah perbuatan amal yang baik. Maka dapat disimpulkan bahwa kelak nikmat akan disempurnakan bagi mereka dengan mengumpulkan mereka bersama dengan para keluarga dan kerabatnya di Surga dan tentu saja bukan amal shalih semata yang memasukkan seseorang ke dalam Surga tetapi yang paling utama adalah rahmat Allah swt. 


Kontributor : Muhammad Khoirul Umam


APAKAH ORANG KAFIR DIHISAB ? (KAJIAN TAFSIR AL QURTHUBI)

 

Foto : Viva.com

 Berikut adalah beberapa ayat yang berbicara mengenai proses hisab yang banyak menyita perhatian al-Qurthubī.

1. Allah Tidak Akan Menghisab Orang-orang Kafir (QS. Al-Qashash [28]: 78)

قَالَ إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَى عِلْمٍ عِنْدِي أَوَلَمْ يَعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ قَدْ أَهْلَكَ مِنْ قَبْلِهِ مِنَ الْقُرُونِ مَنْ هُوَ أَشَدُّ مِنْهُ قُوَّةً وَأَكْثَرُ جَمْعًا وَلا يُسْأَلُ عَنْ ذُنُوبِهِمُ الْمُجْرِمُونَ

“Karun berkata: "Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku". Dan apakah ia tidak mengetahui, bahwasanya Allah sungguh telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya, dan lebih banyak mengumpulkan harta? Dan tidaklah perlu ditanya kepada orang-orang yang berdosa itu, tentang dosa-dosa mereka.” Qs. Al-Qashash [28]: 78.

Al-Qurthubī mengutip pendapatnya al-Hasan yang mengatakan bahwa Allah pasti akan menanyai semua manusia, termasuk orang-orang kafir. Akan tetapi, pertanyaan yang akan ditanyakan kepada orang-orang kafir yang sudah jelas dosa-dosanya akan berbeda dengan pertanyaan yang diajukan kepada orang-orang beriman pada umumnya. Pertanyaan untuk orang-orang kafir lebih bersifat memojokkan dan menegaskan keburukan yang telah mereka lakukan sehingga segala alasan dan permintaan maaf mereka tidak akan diterima oleh Allah swt.[1]

Al-Qurthubī lalu mengutip perkataan Mujāhid dan Qatadah untuk mempertegas hal tersebut. Mereka mengatakan bahwa pada hari kiamat nanti malaikat tidak akan menanyai orang-orang yang sudah terlihat jelas dosa dan kesalahannya sehingga orang-orang tersebut akan langsung dimasukkan ke dalam neraka tanpa dihisab terlebih dahulu.[2]


BACA JUGA : MENGETAHUI TUHAN ADA?

2. Allah Akan Menghisab Orang-orang Kafir Pada Tempat Tertentu dan Tidak Akan Menghisab Mereka Pada Tempat Lainnya (QS. Al-A’raf [7]: 6)

فَلَنَسْأَلَنَّ الَّذِينَ أُرْسِلَ إِلَيْهِمْ وَلَنَسْأَلَنَّ الْمُرْسَلِينَ

“Maka sesungguhnya Kami akan menanyai umat-umat yang telah diutus rasul-rasul kepada mereka dan sesungguhnya Kami akan menanyai (pula) rasul-rasul (Kami).” Qs. Al-A’raf [7]: 6.

Menurut al-Qurthubī, ayat ini adalah dalil bahwa orang-orang kafir akan dihisab amal perbuatannya karena Allah sendiri sudah menegaskan bahwa menghisab mereka adalah suatu kepastian sebagaimana yang disebutkan dalam Surat Al-Ghāziyyah ayat 26. [3]

Pernyataan al-Qurthubī ini memang terkesan kontradiktif dengan Surat al-Qashash ayat 78 diatas yang menyatakan bahwa orang-orang kafir tidaklah perlu ditanyai tentang dosa-dosa mereka.

Pernyataan al-Qurthubī ini memang terkesan kontradiktif dengan Surat al-Qashash ayat 78 diatas yang menyatakan bahwa orang-orang kafir tidaklah perlu ditanyai tentang dosa-dosa mereka. Dalam mengkompromikan perbedaan ini, al-Qurthubī menegaskan bahwa pada dasarnya konteks ayat tersebut berbeda, karena di akhirat kelak akan ada tempat untuk mereka ditanyai tentang perbuatan dan dosa-dosa mereka sebagai perhitungan dan akan ada tempat dimana mereka tidak akan ditanyai apapun di dalamnya. Adapun pertanyaan yang dilontarkan kepada mereka dapat berbentuk pengakuan, penghinaan dan juga kecaman sebagaimana yang sudah dijelaskan dalam penafsiran Surat al-Qashash ayat 78.[4]


 Kontributor : Muhammad Khoirul Umam




[1] Imām al-Qurthubī, al-Jāmi’ li Ahkām al-Qur’ān Juz 16 (Beirut: Muassasah al-Risalah, 2006), hlm. 321.

[2] Imām al-Qurthubī, al-Jāmi’ li Ahkām al-Qur’ān Juz 16... hlm. 321.

[3] Imām al-Qurthubī, al-Jāmi’ li Ahkām al-Qur’ān Juz 9 (Beirut: Muassasah al-Risalah, 2006), hlm. 155.

[4] Imām al-Qurthubī, al-Jāmi’ li Ahkām al-Qur’ān Juz 9... hlm. 155.


MENGETAHUI TUHAN ADA?

klikmu.co

 

Sejak kapan dan darimana manusia mengetahui Tuhan itu ada?

 

Pertanyaan di atas adalah bukti pentingnya berfikir, bertanya, berguru, dan belajar. Bagaimana tidak, jikalaupun pertanyaan di atas disodorkan pada beberapa kalangan yang ‘enggan’ berfikir, tentu jawabannya akan menyakitkan, seperti, “kita yakini saja keberadaanNya, yang penting yakin saja, jangan repot-repot gitu, nanti keliru lo, sesat, kafir, hati-hati”. Sedangkan, potensi berfikir untuk menggali muatan yang terkandung dalam suatu pertanyaan amatlah penting, apalagi ihwal keyakinan dalam ketuhanan yang sarat nilai pembuktian. Berbeda lagi dengan kalangan yang ‘enggan’ berfikir, kalangan yang ‘enggan’ bertanya umumnya dikarenakan beberapa alasan, diantaranya, malu; merasa bisa, meremehkan pertanyaan hingga tidak mau bertanya atas apapun, meskipun dirinya benar-benar sedang dalam kondisi  ‘bingung’, akan tetapi lebih memilih bodo amat, atau boleh jadi karena sulit menemukan pertanyaan yang fundamental/pokok, sebab tidak sedikit yang kebingungan ketika diberikan tugas membuat pertanyaan terkait suatu hal, misalnya tentang ‘ada’.

Selain itu, pertanyaan di atas juga butuh ‘penguji’ yakni guru yang kompeten. Tidak semua yang kompeten itu berpendidikan tinggi, pun sebaliknya, tidak semua yang berpendidikan tinggi kompeten, meskipun sedikit. Sebab, dalam membahas kompetensi atau keahlian, maka yang dihadirkan ialah bagaimana seorang guru menguasai panggung dan mengarahkan pembelajar. Eksistensi guru sangat penting. Jikalau dalam menjawab pertanyaan di atas tanpa kehadiran guru (tidak menguji temuan jawaban melalui diskusi dengan guru), maka boleh jadi, temuan itu memiliki sisi yang berbeda dengan yang termaksud, meskipun tidak semuanya. Kehadiran guru dalam pencarian ilmu seorang pembelajar ialah menguji apa saja yang ditangkap muridnya, kemudian memberikan pilihan-pilihan jawaban yang logis dan cenderung mengarahkan. Dengan demikian, untuk menjawab pertanyaan di atas supaya teruji dan terarah, kehadiran guru adalah syarat penting.

 Kehadiran guru dalam pencarian ilmu seorang pembelajar ialah menguji apa saja yang ditangkap muridnya, kemudian memberikan pilihan-pilihan jawaban yang logis dan cenderung mengarahkan. 

Pengetahuan Tentang Tuhan

Pengetahuan seorang manusia tentang Tuhan dibentuk oleh 2 faktor, faktor internal dan faktor eksternal. Meski demikian, mayoritas mempercayai bahwa peran orangtua dalam membentuk pandangan bertuhan anaknya sebagai bakal calon manusia baru sangatlah menentukan. Artinya, mayoritas orangtua menganjurkan anaknya masuk ke dalam agama yang mereka anut dan secara langsung dipaksa patuh atas apa saja yang diperintahkan. Bahkan persoalan yang sejatinya adalah internal antar hamba dan Tuhan menjadi persoalan keluarga hingga lingkungan. Hal ini disebabkan oleh konseskuensi atas apa yang akan terjadi jika berbeda dalam hal tersebut. Sensitifitas tidak lagi diragukan tentu sangat terlihat. Kebebasan anak sebagai makhluk tidak lagi bebas setelah dikonstruksi dan dibentuk sedemikian rupa seperti keinginan orangtuanya. Tidak ada lagi pengembaraan ilmiah dalam menemukan ketuhanan yang logis yang boleh saja berbeda dengan pandangan lama orangtua juga lingkungannya.

BACA JUGA : SEKILAS TENTANG AKHIRAT MENURUT QURAISH SHIHAB

 Dalam hal ini, boleh dikatakan bahwa pengetahuan manusia tentang Tuhan ‘sangat’ dipengaruhi oleh faktor eksternal. Keluarga, lingkungan tempat tinggal hingga peran teman sebaya. menjadi power tersendiri atas apa yang diharapkan orangtua. Semacam ada pemaksaan dalam ruang pergaulan yang dibatasi oleh produksi pengetahuan dan pemahaman orangtua sampai kemudian terimplementasikan dalam pilihan-pilihan dalam anggapan yang penuh konstruk. Sehingga, persoalan agama agaknya dijadikan persoalan yang dihindari, bahkan, perbedaan dalam cara beragama dan bertuhan tidak minat untuk didekati dalam rangka menemukan kelogisan beragama, melainkan dijauhi dengan alasan berbagai konstruk yang telah dipendam.

Dalam hal ini, boleh dikatakan bahwa pengetahuan manusia tentang Tuhan ‘sangat’ dipengaruhi oleh faktor eksternal.

Sejak saat itu, tepatnya ketika menjadi anak dalam sebuah keluarga, tentu dari orangtua, lingkungan dan teman sebaya, meski tidak dibenarkan hal demikian merata atau 100 persen, melainkan menjadi problem mayoritas dan dinormalkan. Ruang diskusi tidak lagi diminati kecuali jika terdapat kisah menarik yang penuh ibroh. Sedangkan, dalam konsep ketuhanan benar-benar belum bisa bebas menentukan mana yang benar dan mana yang keliru. Akhirnya, tidak dapat membuktikan apa saja hal-hal yang menjadikan seseorang menetap dalam sebuah agama. Tidak ada lagi hal menarik tentang pembahasan keberadaan Tuhan, karena Tuhan memang ada dalam pengetahuan yang diproduksi, sedangkan dalam pemahaman 0 persen (tidak dapat membuktikan). Oleh sebabnya, Tuhan ‘ada’ hanya semacam dogma tanpa landasan hingga dinormalkan dan dibenarkan dalam pendawaman.

Hal-hal di atas merupakan bentuk keresahan yang fakta dan besar untuk dijelajahi dan dijejaki dengan harapan, manusia muda mampu mencerahkan dirinya dalam tanggungjawabnya atas pikiran dan hati dalam dirinya. Tentu, jika telah menemukan wahyuNya, maka idealnya ada semacam pembatasan diksi atas wahyu yang sarat ketuhanan. Akhirnya, semua problem menjadi semakin besar dan menonjol dalam ranah ini yang mungkin saja berakibat pada kontradiksi tatanan diri; menolak pandangan akan tetapi melakukan apa yang tertolak dalam pandangan atau melakukan sesuatu tanpa dasar kelogisan berfikir dan tujuan. Dari sini, maka diperoleh 3 jawaban penting atas pertanyaan di atas yakni bahwasanya ada 2 faktor yang mempengaruhi produksi pengetahuan manusia tentang Tuhan, yang kemudian bercabang menjadi 3 bagian, diantaranya ialah diri sendiri, keluarga, lingkungan pergaulan. 3 bagian tersebut menjadi jawaban atas pertanyaan di atas.


Penulis : M. Khusnun Ni'am 

Mahasiswa Filsafat Islam UIN Sunan Kalijaga

SEKILAS TENTANG AKHIRAT MENURUT QURAISH SHIHAB

 

Foto : griyaalquran.id

Fase kehidupan di akhirat kelak sebagaimana yang diungkapkan oleh Quraish Shihab dimulai ketika malaikat Israfīl meniupkan sangkakalanya untuk kedua kalinya sebagai tanda dibangkitkannya kembali semua manusia dari zaman Nabi Adam as. sampai zaman ketika dunia berakhir atau kiamat. Setelah seluruh manusia dihidupkan kembali maka semuanya akan digiring ke sebuah tempat yang disebut dengan padang mahsyar. Ketika terjadi huru-hara yang demikian dahsyatnya di Padang Mahsyar itulah Nabi Muhammad saw muncul sebagai sosok yang sangat menentukan nasib para manusia melalui syafaatnya.[1]

BACA JUGA : SANG MUFASSIR DARI ANDALUSIA

Dari Padang Mahsyar, manusia digiring satu persatu untuk menghadapi perhitungan Allah atau Hisab. Pada fase ini manusia dimintai pertanggungjawaban atas segala perbuatannya sewaktu hidup di dunia dulu. Setelah amal demi amal telah dihadirkan dan dipertanggungjawabkan, maka Allah menghadirkan apa yang dinamakan Mizan atau timbangan untuk mencari tahu kadar berat kebaikan dan keburukan masing-masing manusia. Dalam fase inilah, sekali lagi Allah menunjukkan bahwa Dia memang benar-benar Dzat Yang Maha Pemurah dengan memberikan toleransi kepada manusia-manusia yang meski mempunyai dosa, namun dosanya tidak lebih berat daripada pahalanya. [2]

Sekali lagi Allah menunjukkan bahwa Dia memang benar-benar Dzat Yang Maha Pemurah dengan memberikan toleransi kepada manusia-manusia yang meski mempunyai dosa, namun dosanya tidak lebih berat daripada pahalanya.

Setelah semua manusia diadili di pengadilan Allah swt, maka semuanya dipersilahkan melanjutkan perjalanan menuju ke tempat masing-masing melalui apa yang diistilahkan dengan nama Shirath atau jalan menuju surga yang membentang di atas jurang neraka, dimana neraka yang terdalam terdapat pada permulaan jalan dan neraka terdangkal yang paling ringan kadar siksanya terdapat di ujung jalan. Dari jalan inilah nasib masing-masing manusia ditentukan. Ada yang melewati jalan itu dengan cepat seperti kilat, ada yang seperti angin kencang, ada yang seperti terbangnya burung dan ada yang dengan merangkak. Orang-orang yang durhaka akan terjatuh ke dalam jurang neraka sesuai dengan kadar kedurhakaannya masing-masing dan orang yang bertakwa akan melewati jalan tersebut dengan selamat dan sampai ke surga-Nya.[3]

Berdasarkan penjelasan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa fase kehidupan di akhirat nanti menurut Quraish Shihab berturut-turut adalah:

  1. Kebangkitan Kembali
  2. Padang Mahsyar
  3. Syafa’at
  4.  Hisab
  5.  Mizan
  6. Shirath
  7.  Neraka
  8. Surga

 

Kontributor: Muhammad Khoirul Umam

[1] M. Quraish Shihab, Kehidupan Setelah Kematian; Surga yang Dijanjikan al-Qur’an (Jakarta: Lentera Hati, 2008), hlm. 115.

[2] M. Quraish Shihab, Kehidupan Setelah Kematian... hlm. 115.

[3] M. Quraish Shihab, Kehidupan Setelah Kematian... hlm. 115.


MEREKAM SEKILAS GAGASAN GUS DUR DAN MEMBACA KONTRIBUSINYA TERHADAP KEMANUSIAAN DAN KEINDONESIAAN

 


Sebelum tulisan ini benar tertata sedemikian rupa, penulis menyadari betul bahwa masih banyak hal menarik dan sesuatu yang berbeda daripada tokoh Islam Indonesia yang dikaji dalam ulasan ini. Tentunya, apa yang tersampaikan melalui ulasan ini merupakan gambaran kecil daripada kontribusi besar yang digagaskan dan diaplikasikan oleh dirinya selama mengabdi di Indonesia. Oleh sebabnya, ulasan ini hadir berupaya menghidupkan kembali semangat juang yang digagaskan maupun hal-hal lain yang dapat dijadikan inspirasi dan pengetahuan oleh generasi sekarang. Sangat disayangkan apabila generasi sekarang, khususnya Islam tidak mengemas dan mempelajari riwayat besar para pemikir Islam Indonesia yang luar biasa. Dari hal tersebut, maka ulasan ini akan mengangkat dan menghidupkan kembali beberapa poin yang ditemukan mengenai hal-hal yang menarik dan layak dijadikan Inspirasi.

MEREKAM SEPAK TERJANG GUS DUR

Siapa yang tidak kenal Gus Dur?

Pertanyaan ini layak diajukan untuk mengungkap seberapa jauh sepak terjang Gus Dur dalam pengetahuan generasi sekarang. Tentunya, ketidakkenalan dengan Gus Dur adalah suatu problem sendiri yang perlu dikaji, khususnya penduduk Indonesia. Bagaimana tidak, Gus Dur merupakan presiden ke-4 Indonesia yang selama karir kepresidennya dilumuti oleh kontroversi-kontroversi yang menarik dari tindakannya, yang tentunya berbeda daripada para presiden Indonesia sebelumnya.

Terlepas daripada kontroversi dalam tindakannya, sebelum menjadi Presiden pun Gus Dur sering tidak mengalir mengikuti arus, melainkan sebaliknya ‘melawan arus’, dari arus politik, budaya, hingga nilai-nilai ajaran yang dianut oleh umumnya warga Indonesia. Sejak masa Orde Baru, perjuangan dan kepeduliannya dalam membela kaum minoritas dan pemikirannya yang modern sering dianggap sebagai perlawanan Gus Dur pada pemerintahan Orde Baru.

Selain itu, Gus Dur juga merupakan cendekiawan Islam dari Indonesia yang namanya melambung bersama gagasan-gagasan cemerlangnya di Nusantara. Panggilan ‘Gus’ merupakan sebutan kehormatan untuk putra kiai, sedangkan ‘Dur’ panggilan dari namanya yakni Abdurrahman. Adapun Wahid diambil dari nama ayahnya yakni Wahid Hasyim, seorang Tokoh Nasionalis Indonesia dan mujtahid Islam Nusantara, seperti yang diungkap oleh Dr. Kiai Aguk Irawan (Pengasuh Baitul Kilmah Yogya) dalam karyanya Sang Mujtahid Islam Nusantara.

Dari silsilah, Gus Dur bukanlah lahir dari keluarga sembarangan. Artinya, darah dari para pejuang Islam Indonesia mengalir dalam tubuhnya dan pemikiran cerdas para tokoh besar Indonesia secara tidak langsung mengalir, berpengaruh dan membentuk dirinya. Kakeknya merupakan pendiri ormas besar Islam yang jumlah anggotanya kemungkinan mencapai puluhan hingga ratusan juta diberbagai wilayah dan negara, khususnya di Indonesia dewasa kini. Selain itu jelajah pengembaraan keilmuannya tidak dapat diremehkan, dari pesantren hingga Kairo, Mesir dan beberapa wilayah lain yang mungkin belum terulas.

Bukan itu saja, secara kemampuan, Gus Dur merupakan satu-satunya Presiden Indonesia yang cakap dalam menguasai beberapa bahasa dari bahasa Arab kuno, Arab modern, Inggris dan Perancis. Tentu, ini sangat menarik, jika kita mengetahui bagaimana fungsi bahasa yang begitu penting dalam menyampaikan sesuatu. Kecakapan Gus Dur dalam beberapa bahasa tersebut dapat disaksikan oleh siapapun di youtube sebagai bukti kecerdasannya.

Selain itu, untuk mengenal perjalanannya secara keilmuan dan lain-lain, dapat ditemukan dalam buku yang ditulis oleh Dr. Kiai Aguk Irawan dalam bukunya Peci Miring atau dituangkan pula oleh Greg Barton dalam bukunya yang international bestseller berjudul Biografi Gus Dur. Berbagai karya tulis yang terbukakan, dari artikel, jurnal, skripsi, tesis, disertasi hingga buku secara tidak langsung menghidupkan kembali sosok Gus Dur dalam uraian dan pendetailan tafsir para tokoh Islam. Hal tersebut merupakan bukti bahwa sepak terjang dan kontribusi Gus Dur tidaklah dapat dianggap sepele dan layak diangkat dan dijadikan inspirasi bangsa.

 Baca juga : GUS DUR KU, GUS DUR MU, GUS DUR KITA

MENJEJAKI SEKILAS KONTRIBUSI GUS DUR

Kajian-kajian keislaman di perguruan tinggipun hingga kini kemungkinan dapat ditemukan kajian-kajian baru mengenai Gus Dur. Ini membuktikan bahwa meskipun secara jasad atau fisik Gus Dur telah wafat atau dikuburkan, namun namanya tidak lekang dari zaman. Artinya, buah pemikirannya tidak henti-hentinya dikaji oleh para akademisi hingga ahli. Sehingga, konseptual yang digagaskan Gus Dur semenjak hidup, baik verbal maupun tulisan merupakan salah satu referensi besar sejauhmana Gus Dur begitu cerdas.

Gus Dur dikenal sebagai tokoh pluralis Islam. Bahkan bisa dikatakan juga, bahwa Gus Dur merupakan penggagas pluralisme Islam di Indonesia. Terbukti dari berbagai litertaur menyebutkan bahwa secara total pemikiran pluralis Gus Dur ialah memperjuangkan hak setiap individu dan kelompok. Baginya pluralisme ialah memberikan hak setiap individu untuk memilih apa yang diyakininya dalam beragama, hak asasi manusia, jaminan keamanan serta kesamaan derajat dimata hukum. Keselarasan ini dicantumkan oleh dirinya dalam buku yang ditulis para cendekiawan Indonesia, termasuk salah satunya ialah Gus Dur dalam buku Ideologi Pancasila Ketuhanan Yang Maha Esa. Dalam buku tersebut, Gus Dur membongkar paradigma fanatisme ke arah pluralis, artinya Gus Dur memberikan gagasan yang benar-benar pure dan selaras dalam ajaran Islam.

Buah pemikirannya dalam mengulas sisi prinsipil ketuhanan dapat dilihat dalam karyanya yang berjudul Tuhan Tidak Perlu Dibela. Dilain hal, karya tersebut juga membawa pesan besar bahwa secara tegas Gus Dur menolak agama dijadikan ideologi negara. Menurut Gus Dur, menjadikan agama sebagai ideologi negara di dalam masyarakat yang beragam atau pluralis hanya akan memunculkan problematika besar atau disintegrasi pada ranah sektarianisme. Baginya, Islam semestinya diterapkan sebagai etika sosial atau sebuah sistem nilai moral yang juga dapat dipahami bahwa Islam semestinya dijadikan sebagai komplementer dalam berkehidupan di suatu negata. Sehingga, cara tertepat bagi Gus Dur dalam merumuskan kepemimpinan atau ideologi negara ialah dengan musyawarah untuk mencapai mufakat.

 Dalam bukunya Tuhan Tidak Perlu Dibela tersiratkan berbagai gagasan Gus Dur tentang pluralisme yang secara tegas menggagaskan demokrasi. Baginya demokrasi memungkinkan terbentuknya pola hubungan perpolitikan yang setara atau seimbang dalam mendukung pluralisme bangsa. Tegaknya pluralisme bangsa bukan dibuktikan hanya melalui hidup berdampingan tanpa masalah, melainkan lebih. Artinya, Gus Dur menggagaskan bahwa terlaksananya pluralisme yang begitu apik akan melahirkan kesadaran untuk saling mengenal dan berinteraksi secara ikhlas. Dari hal tersebut, maka akan terterapkan pola “take and giver”, karena salah satu inti pokok dari demokrasi ialah kebebasan untuk saling memberi dan menerima.

Secara tidak langsung, etika sosial Gus Dur samalnya diartikan membumikan Islam dalam rangka kontekstualisasi norma dan nilai Islam ditengah dinamika dan problematika kemanusiaan dan keindonesiaan. Dengan demikian, Islam akan benar-benar menjadi jawaban dari setiap problematikan yang tengah melanda, dari kebangsaan hingga kemanusiaan tanpa kehilangan spirit etisnya agama yang agung yakni Islam.

Dari berbagai ulasan di atas, ada beberapa inspirasi yang dapat diketahui dan dipahami dari sepak terjang Gus Dur dalam pemikirannya, dari gagasan besarnya tentang pluralisme, ketuhanan yang Maha Esa, etika sosial, membumikan Islam, gagasan demokrasi hingga berbagai tokoh yang ikut serta menghidupkan kembali Gus Dur melalui karyanya. Melalui ulasan ini, penulis mengajak siapapun untuk kembali bercengkrama dengan bacaan dan buku yang mungkin sudah gersang dan menjamur dalam kelanggengan yang tentunya tidak baik untuk konsumsi pengetahuan dan keilmuan individu. Oleh sebab itu, mari kembali memproduksi dan mulai mencintai pengetahuan darimanapun arahnya, salahsatunya dengan membaca dan memiliki buku.


Penulis : M. Khusnun Niam

GUS DUR KU, GUS DUR MU, GUS DUR KITA

Bertentangan dengan dalil, benarkah?

"Aku berkata kepada Sufyan Ats-Tsauri.", kata seorang Syaikh besar, Sufyan ibn 'Uyainah pada suatu hari, "Nasihatilah aku." Ats-Tsauri pun menjawab, "Sedikitlah mengenal manusia." "YarhamukalLaah. Semoga Allah merahmatimu.", balas Ibnu 'Uyaynah. "Bukankah telah datang khabar, 'Perbanyaklah mengenal manusia. Sungguh, ada syafa'at (pertolongan) pada setiap mukmin.'"

Kedua imam tersebut pun berdialog. Ats-Tsauri menyarankan Ibnu Uyaynah sedikit mengenal manusia, sementara Ibnu 'Uyaynah menganggap saran Ats-Tsauri bertentangan dg khabar. Lalu, dijawablah oleh Ats-Tsauri bahwa Ibnu Uyaynah hanya akan melihat sesuatu yang dia tidak sukai, melainkan dari orang yang ia kenal. Sementara dari orang yang tidak dikenal, beliau tidak akan merasakan hal tersebut.

Artinya, semakin banyak kita mengenal seseorang, maka semakin banyak pula ia akan melihat apa yang dia tidak suka dari orang tersebut. Itulah inti nasihat Sufyan Ats Tsauri. (Minhajul Abidin Imam Al Ghazali)

Dialog di atas hanyalah salah satu contoh di mana ulama salafush shalih terkadang memberikan pernyataan yang terlihat "bertentangan" dengan dalil. Sangat terlihat, bagaimana awalnya Ibnu Uyaynah menyanggah nasihat Ats-Tsauri agar ia sedikit mengenal manusia, sementara terdapat khabar anjuran memperbanyak mengenal manusia.

Apakah benar bahwa Ats-Tsauri menentang dalil? Ternyata tidak. Justru nasihat beliau berdasar perenungan mendalam tentang berbagai dalil dan kondisi diri serta sosial di sekitarnya.

Hal inilah yang tepat dialami oleh seorang guru bangsa yang bernama Abdurrahman Ad-Dakhil, atau yang akrab dipanggil Gus Dur. Beliau dikenal memberikan statemen yang terlihat "asing" dan "bertentangan" dengan nash yang ada, namun sebenarnya keluar dari kedalaman ilmu dan ketajaman pemikiran yang beliau miliki.

Masih bisa dijelaskan

Statemen dan perilaku Gus Dur sebenarnya masih sangat bisa dijelaskan. Sebagai contoh, ketika beliau dianggap getol menyuarakan pluralisme, sebagian orang menganggap beliau mengatakan semua agama itu sama. Padahal, beliau sendiri menyampaikan bahwa semua agama tidak sama. Persamaan ada pada derajat manusia, sehingga kita perlu menganggap pemeluk agama lain sebagai sesama manusia.

Beliau pun keluar masuk gereja. Orang menganggap beliau dibaptis. Padahal, seperti diceritakan oleh banyak orang, beliau berkepentingan untuk menyampaikan ayat ayat Allah kepada para pendeta dan ummat kristiani. Beliau pun berkepentingan untuk menjaga iman para pegawai seperti satpam, tukang sapu, cleaning servis yang bisa saja muslim.

Ketika beliau ingin mendirikan Kedutaan Besar di Israel, banyak pihak menuding beliau pro Zionis. Anggapan ini sangat keliru. Beliau 100 persen mendukung perjuangan pejuang Palestina. Justru dengan adanya kedutaan besar di Israel, maka terbuka peluang untuk berjuang lewat jalur diplomasi. Bukankah kita diajari sejarah, bahwa sebagian ijtihad ulama kita dahulu dalam melawan penjajah Belanda adalah dengan justru koopratif kepada mereka?

Kiranya, masih banyak perilaku beliau yang menimbulkan banyak kontroversi, namun sebenarnya timbul dari pemikiran beliau yang sangat mendalam. Akan sangat panjang jika semuanya dituliskan. Cukup beberapa contoh di atas menjadi hujjah bahwa beliau tidak asal berbuat dan mengeluarkan statemen.

Berani dan Konsisten, namun Luwes dalam hal yang Tidak Prinsip.

Salah satu ciri khas beliau adalah keras dan konsisten dalam masalah pokok. Beliau dengan tegas dan kekeh terus mempertahankan NKRI sebagai bentuk negara, dan tidak segan segan mengambil keputusan yang berani. Jika ada praktek politik, pemerintahan, maupun kemasyarakatan yang bertentangan dengan Pancasila dan UUD 45, maka tidak segan beliau kritik dan lawan.

Beliau dengan entengnya ingin membubarkan kementrian sosial, karena dianggap sebagai lumbung koruptor. Dengan santainya mengangkat mentri tanpa lobi politik. Beliau percaya diri meskipun bersebrangan dengan koalisi politiknya sekalipun. Hingga terkenal jargon yang sering kita dengar dan menggema di mana mana, "Gitu aja kok repot."

Baca juga : MEREKAM SEKILAS GAGASAN GUS DUR DAN MEMBACA KONTRIBUSINYA


Paket Komplit yang Suka Asal Dicomot

Salah satu kritik yang ingin saya ajukan kepada kawan kawan pengagum Gus Dur adalah kita sering mencomot sebagian sisi Gus Dur, dan melupakan sisi yang lain.

Kita menganggap beliau bapak pluralisme, menghormati semua agama, dan suka bercanda. Anggapan itu tentu benar, namun Gus Dur tidak hanya itu.

Beliau sangat rutin membaca Al Quran, bahkan di sela sela kesibukan dan istirahat beliau. Beliau hobi bersedekah sirr (rahasia) yang banyak sekali orang tidak tahu. Beliau berwawasan luas, banyak membaca, dan banyak berfikir. Pula, di atas segala kecerdasan dan pengaruh beliau, beliau adalah orang yang selalu merasa menjadi santri yang harus taat kepada guru guru beliau. Sami'naa wa atha'naa. Itulah sebagian kecil dimensi beliau yang banyak orang tahu, namun mereka lupakan. Selayaknya, kita, sebagai pengagum beliau, melihat beliau seutuhnya, selengkapnya, hingga kita tidak salah sangka dalam menilai beliau.

Bapak Bangsa. Bapak Kita Semua

Akhir Risalah, kita patut berbangga memiliki tokoh yang dicintai oleh banyak kalangan, bukan hanya oleh ummat muslim, namun juga oleh saudara kita yang non muslim. Laku beliau menjadi contoh, prinsip beliau menjadi teladan. Maka, layaknya Abdurrahman Ad-Dakhil dari Dinasti Umayyah yang berhasil memimpin dan memajukan Spanyol, kita pun memiliki Abdurrahman Ad-Dakhil bin Wahid Hasyim yang memajukan cara berfikir manusia di Indonesia. Mungkin, 1000 tahun lagi pun kita tidak akan menemukan orang seperti beliau. Oleh karena itu, kita patut berbangga karena Indonesia memiliki beliau

WalLaahu A'lam

 

Penulis : Muhammad Ibnu Salamah