ORANG-ORANG YANG DAPAT MEMBERI SYAFA'AT (KAJIAN TAFSIR AL QURTHUBI)

Ilustrasi Foto : wm.edu


Berikut adalah beberapa ayat yang berbicara mengenai pertolongan atau syafaat.

1.Syafaat Dari Orang-orang yang Diridhai Allah swt. (QS. Al-Baqarah [2]: 255)

اللَّهُ لا إِلَهَ إِلا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلا نَوْمٌ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأرْضِ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلا بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلا بِمَا شَاءَ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ وَلا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ

“Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa izin-Nya. Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” Qs. Al-Baqarah [2]: 255.

Menurut al-Qurthubī, ayat ini menegaskan bahwa Allah swt mengizinkan kepada orang yang Dia kehendaki untuk memberi syafaat. Orang yang dikehendaki ini diantaranya adalah para nabi para ulama, orang-orang yang berjihad, para malaikat dan lainnya yang dimuliakan oleh Allah swt. Akan tetapi, hanyalah orang-orang yang diridhai oleh Allah swt sajalah yang kelak akan mendapatkan syafaat dari orang-orang yang dimaksud dalam ayat ini sebagaimana Firman Allah swt dalam Surat al-Anbiya’ ayat 28. 

BACA : JUGA MAKNA SALAM DALAM ISLAM

Secara lebih detail, al-Qurthubī menjelaskan bahwa kelak anak kecil akan memberikan syafaat di pintu surga kepada para kerabat dan orang-orang yang dikenalnya. Adapula syafaat yang diberikan oleh saudara seiman yang sering melakukan amal kebaikan secara bersama-sama sebagaimana ungkapan “Wahai Tuhan kami, sesungguhnya saudara-saudara kami itu shalat bersama kami dan puasa bersama kami”. Para Nabi pun kelak akan memberikan syafaat kepada umatnya masing-masing yang di dalam hatinya terdapat keimanan, bahkan ketika umatnya sudah masuk ke dalam neraka sekalipun diakibatkan oleh kemaksiatan dan dosa-dosa mereka, syafaat tersebut tetap berlaku jika Allah mengizinkan.  

Para Nabi pun kelak akan memberikan syafaat kepada umatnya masing-masing yang di dalam hatinya terdapat keimanan, bahkan ketika umatnya sudah masuk ke dalam neraka sekalipun diakibatkan oleh kemaksiatan dan dosa-dosa mereka, syafaat tersebut tetap berlaku jika Allah mengizinkan. 

Adapun syafaat Nabi Muhammad saw. adalah berupa penyegeraan proses hisab, artinya hanya Nabi saw. sajalah yang dapat memohon kepada Allah swt. agar hisab atas seluruh makhluk segera dilaksanakan.  

Terakhir adalah syafaat dari Allah swt. Yang Maha Penyayang berupa ampunan kepada orang-orang yang tenggelam dalam kesalahan dan dosa yang mana syafaat dari para nabi sekalipun tidak berguna sama sekali bagi mereka.  

Lebih lanjut menurut al-Qurthubī, pada dasarnya orang-orang yang beriman dan dikehendaki oleh Allah swt untuk memberikan syafaat, mempunyai dua syafaat, yakni syafaat kepada orang yang belum sampai ke neraka dan syafaat kepada orang yang telah masuk ke neraka.  

2.Malaikat Dapat Memberi Syafa’at (QS. Al-Anbiyā’ [21]: 28)

يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلا يَشْفَعُونَ إِلا لِمَنِ ارْتَضَى وَهُمْ مِنْ خَشْيَتِهِ مُشْفِقُونَ

“Allah mengetahui segala sesuatu yang di hadapan mereka (malaikat) dan yang di belakang mereka, dan mereka tiada memberi syafaat melainkan kepada orang yang diridai Allah, dan mereka itu selalu berhati-hati karena takut kepada-Nya.” Qs. Al-Anbiyā’ [21]: 28.

Menurut al-Qurthubī, di akhirat kelak para malaikat akan memberi syafaat, akan tetapi hanya sebatas kepada orang-orang yang diridhai Allah swt. Menurut Ibnu ‘Abbās, orang-orang yang dikehendaki oleh Allah tersebut adalah orang-orang ahli syahadat, yang selalu mengagungkan keesaan Allah. Sementara menurut Mujāhid adalah setiap hamba yang Allah melimpahkan shalawat dan salam kepadanya. 

3. Syafaat Malaikat Sangat Terbatas (QS. An-Najm [53]: 26) 

وَكَمْ مِنْ مَلَكٍ فِي السَّمَاوَاتِ لا تُغْنِي شَفَاعَتُهُمْ شَيْئًا إِلا مِنْ بَعْدِ أَنْ يَأْذَنَ اللَّهُ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَرْضَى

“Dan berapa banyaknya malaikat di langit, syafaat mereka sedikit pun tidak berguna kecuali sesudah Allah mengizinkan bagi orang yang dikehendaki dan diridai (Nya).” Qs. An-Najm [53]: 26.

Menurut al-Qurthubī, ayat ini merupakan celaan dari Allah SWT kepada orang yang menyembah malaikat serta berhala dan mengira bahwa semua itu dapat mendekatkannya kepada Allah swt. Al-Qurthubī menegaskan, bahwa para malaikat walaupun mempunyai kedudukan yang mulia di sisi Allah SWT, tidak dapat memberi pertolongan kecuali kepada orang yang diizinkan Allah swt untuk mendapat pertolongan. 


Kontributor : Muhammad Khoirul Umam


Referensi : Imām al-Qurthubī, al-Jāmi’ li Ahkām al-Qur’ān  (Beirut: Muassasah al-Risalah, 2006)

TIMBANGAN AMAL MANUSIA DI AKHIRAT (KAJIAN TAFSIR AL QURTHUBI)

 

foto: islamindonesia.id

Berikut adalah beberapa ayat yang berbicara mengenai proses dan keadaan ketika dilakukan penimbangan atas amal perbuatan manusia di dunia.

1. Ada yang Berwajah Putih Berseri dan Ada yang Hitam Muram (QS. Āli Imrān [3]: 106)

يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوهٌ وَتَسْوَدُّ وُجُوهٌ فَأَمَّا الَّذِينَ اسْوَدَّتْ وُجُوهُهُمْ أَكَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ فَذُوقُوا الْعَذَابَ بِمَا كُنْتُمْ تَكْفُرُونَ

“Pada hari yang di waktu itu ada muka yang putih berseri, dan ada pula muka yang hitam muram. Adapun orang-orang yang hitam muram mukanya (kepada mereka dikatakan): "Kenapa kamu kafir sesudah kamu beriman? Karena itu rasakanlah azab disebabkan kekafiranmu itu.” Qs. Āli Imrān [3]: 106.

Menurut al-Qurthubī, terkait penafsiran keadaan muka yang putih berseri dan muram, para ulama berbeda pendapat mengenai waktu konkretnya kapan keadaan tersebut akan terjadi dan untuk siapa predikat wajah putih berseri dan hitam muram tersebut. Ada yang berpendapat bahwa keadaan demikian terjadi pada hari kiamat tepat setelah manusia dibangkitkan dari kuburannya masing-masing. Pada hari itu, wajah orang beriman akan terlihat putih, sedangkan wajah orang-orang kafir akan terlihat hitam muram. 

Sedangkan ulama lain berpendapat bahawa hal itu terjadi ketika manusia membaca buku catatan amal perbuatan mereka. Ketika seorang muslim menerima buku catatan amalnya, maka dia akan melihat perbuatan-perbuatan baiknya sehingga wajahnya terlihat putih berseri-seri. Sedangkan ketika orang munafik dan orang kafir membaca buku catatan amal mereka, maka dia akan melihat di dalam buku catatan amal tersebut terdapat banyak perbuatan buruk, sehingga wajahnya pun menjadi hitam muram. 

Ada lagi pendapat mengatakan bahwa keadaan demikian terjadi ketika dilakukan penimbangan atas amal perbuatan manusia. Apabila kebaikannya lebih banyak, maka wajahnya akan terlihat putih dan jika keburukannya lebih berat maka wajahnya akan terlihat hitam. Hal ini sesuai dengan firman Allah swt:

وَامْتَازُوا الْيَوْمَ أَيُّهَا الْمُجْرِمُونَ

“Dan (dikatakan kepada orang-orang kafir): "Berpisahlah kamu (dari orang-orang mukmin) pada hari ini, hai orang-orang yang berbuat jahat.” Qs. Yāsīn [36]: 59.

Pendapat terakhir mengatakan bahwa pada hari kiamat setiap kelompok manusia akan diperintahkan untuk berkumpul di hadapan sesembahannya masing-masing. Jika mereka sampai kepada sesembahan mereka itu maka mereka menangis dan menjadi hitamlah wajah-wajah mereka. Sehingga yang tersisa adalah orang-orang yang beriman, ahli kitab dan orang-orang munafik. Allah kemudian bertanya kepada orang-orang yang beriman, “Siapa Tuhan Kalian?”, mereka menjawab, “Tuhan kami adalah Allah”, lalu Allah bertanya lagi kepada mereka, “Apakah kalian akan mengetahui-Nya jika kalian melihat-Nya?”, mereka menjawab, “Maha Suci Allah, jika Dia mengaku maka kami akan mengetahui-Nya”. Maka, mereka pun melihat-Nya dengan cara yang dikehendaki-Nya. Adapun orang-orang yang beriman, mereka bersungkur untuk bersujud kepada Allah, sehingga wajah-wajah mereka menjadi seputih salju. Tinggallah orang-orang yang munafik dan ahli kitab, mereka tidak mampu untuk bersujud sehingga mereka bersedih dan wajah mereka pun menjadi hitam. Itulah maksud dari Surat Āli Imrān ayat 106 diatas. 

Adapun orang-orang yang beriman, mereka bersungkur untuk bersujud kepada Allah, sehingga wajah-wajah mereka menjadi seputih salju.

2. Seseorang yang Banyak Pahalanya Namun Menjadi Habis Karena Perilakunya Pada Orang Lain (QS. Al-Ankabūt [29]: 13)

وَلَيَحْمِلُنَّ أَثْقَالَهُمْ وَأَثْقَالا مَعَ أَثْقَالِهِمْ وَلَيُسْأَلُنَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَمَّا كَانُوا يَفْتَرُونَ

“Dan sesungguhnya mereka akan memikul beban (dosa) mereka, dan beban-beban (dosa yang lain) di samping beban-beban mereka sendiri, dan sesungguhnya mereka akan ditanya pada hari kiamat tentang apa yang selalu mereka ada-adakan.” Qs. Al-Ankabūt [29]: 13.

Menurut al-Qurthubī, bahwa di akhirat kelak akan ada seseorang yang pada awalnya mempunyai banyak pahala, namun karena perilaku buruknya terhadap orang lain maka pahalanya menjadi habis dan bahkan menjadi semakin bertambah dosanya.  

BACA JUGA : SEMARAK HARLAH, IPNU IPPNU

Al-Qurthubī lalu mengutip perkataan Abū Amāmah al-Bahilī, “Pada hari kiamat nanti akan ada seseorang yang mempunyai banyak sekali pahala, namun banyak orang yang meminta pahalanya tersebut karena merasa pernah disakiti. Ketika masih ada orang yang meminta pertanggung jawaban kepadanya, maka Allah swt akan memerintahkan malaikat untuk terus mengurangi pahala orang tersebut hingga malaikat mengatakan bahwa pahala orang tersebut sudah habis. Maka Allah swt memerintahkan kepada malaikat untuk mengambil dosa dari orang yang pernah disakitinya lalu diberikan kepadanya. Kemudian Rasulullah saw membaca ayat  

وَلَيَحْمِلُنَّ أَثْقَالَهُمْ وَأَثْقَالا مَعَ أَثْقَالِهِمْ. 


Kontributor : M. Khoirul Umam


Referensi : Imām al-Qurthubī, al-Jāmi’ li Ahkām al-Qur’ān (Beirut: Muassasah al-Risalah, 2006)


PANDEMI BELUM BERHENTI, GP ANSOR DESA PAWEDEN GAGAS BUDIDAMBER UNTUK KETAHANAN PANGAN

 

Foto : Mediaansorbuaran.com

Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) Desa Paweden, Kecamatan Buaran, Kabupaten Pekalongan menggagas sebuah program ketahanan pangan dengan metode Budidaya Lele dalam Ember (Budidamber).

Budidamber ini dibuat sebagai salah satu bentuk upaya dalam mengisi lahan-lahan yang terlantar dan kosong (ihya’ al-mawat) sebagaimana anjuran Nabi Muhammad saw.

Selain sebagai sebuah usaha dalam menyikapi krisis perekonomian masyarakat sekitar karena pandemi covid-19 yang belum juga berhenti, Budidamber ini dibuat sebagai salah satu bentuk upaya dalam mengisi lahan-lahan yang terlantar dan kosong (ihya’ al-mawat) sebagaimana anjuran Nabi Muhammad saw.

“Budidamber ini juga diharapkan mampu menarik perhatian dan minat masyarakat sekitar. Kita disini ingin menunjukkan kepada masyarakat bahwa dalam bercocok tanam tidak perlu modal besar dan tidak perlu repot dalam merawatnya sehingga bisa membantu meringankan beban kita di masa pandemi ini.” ucap Ketua Pelaksana Program, Muhammad Munib (8/3).

BACA JUGA : TELAAH KONSEP KESALEHAN

Program Budidamber Gerakan Pemuda Ansor Desa Paweden ini dijalankan oleh semua anggota di rumah masing-masing.

“Sebagai langkah awal, kita mulai dari semua anggota yang ada. Kita bersama-sama belajar bagaimana mengaplikasikannya secara tepat dan pas agar bisa dipanen dengan baik. Kita jalankan program ini dari rumah masing-masing agar adik-adik kita juga ikut belajar sejak dini. Anak kecil kan biasanya suka kasih makan ikan, ketertarikan ini yang coba kita manfaatkan agar mereka terlibat dan mau belajar” Lanjut Munib. 

Budidamber merupakan satu metode hidroponik yang tidak perlu menggunakan pompa air dan hanya bermodalkan ember 80 liter beserta beberapa gelas plastik. Ember tersebut digunakan sebagai media budidaya lele. Dalam satu ember 80 liter tersebut dapat diisi hingga 80 ekor lele usia 10 hari.

Selanjutnya tutup daripada ember tersebut, setelah diberi lubang dan diisi dengan gelas-gelas plastik pada beberapa bagian, idealnya 15 lubang  adalah media penahan bagi penanaman tumbuhan. Karena bertajuk ketahanan pangan, maka tanaman yang umumnya dipakai adalah sayur-sayuran seperti kangkung dan sawi yang dapat dipanen dalam kurun waktu 25-30 hari. Sedangkan untuk lele bisa dipanen dalam waktu 3 bulan.

Kontributor : Muhammad Khoirul Umam

BERKUMPUL BERSAMA KELUARGA DI SURGA (KAJIAN TAFSIR AL QURTHUBI)

 

Ilustrasi Foto : liputan6.com

Berikut adalah salah satu ayat yang berbicara mengenai surga dan keadaan di dalamnya.

جَنَّاتُ عَدْنٍ يَدْخُلُونَهَا وَمَنْ صَلَحَ مِنْ آبَائِهِمْ وَأَزْوَاجِهِمْ  وَذُرِّيَّاتِهِمْ وَالْمَلائِكَةُ يَدْخُلُونَ عَلَيْهِمْ مِنْ كُلِّ بَابٍ

“(yaitu) Surga ‘Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang saleh dari bapak-bapaknya, istri-istrinya dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu;.” Qs. Ar-Ra’d [13]: 23.

Dalam menafsirkan ayat ini, al-Qurthubī menggabungkannya dengan ayat sebelumnya dikarenakan masih dalam satu pembahasan tentang balasan terhadap orang-orang yang takut terhadap Allah, takut akan hisab yang buruk, orang-orang yang bersabar, mendirikan sholat, bersedekah dan menjauhi keburukan demi kebaikan. Balasan yang Allah janjikan terhadap orang-orang tersebut adalah tempat kesudahan yang baik yaitu Surga ‘Adn. 

BACA JUGA : SYIRIK TIDAK TERASA

Menurut al-Qurthubī, Surga ‘Adn merupakan bagian tengah dari surga. Kerangka atap dan atap Surga ‘Adn adalah Arasy al-Rahmān sebagaimana yang diungkapkan oleh al-Qusyairī Abū Nashr ‘Abdul Mālik.  Hal ini sesuai dengan sabda Nabi saw berikut:

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ صَالِحٍ حَدَّثَنَا فُلَيْحٌ عَنْ هِلَالِ بْنِ عَلِيٍّ عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَسَارٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ , قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَبِرَسُولِهِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَصَامَ رَمَضَانَ كَانَ حَقًّا عَلَى اللَّهِ أَنْ يُدْخِلَهُ الْجَنَّةَ جَاهَدَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَوْ جَلَسَ فِي أَرْضِهِ الَّتِي وُلِدَ فِيهَا فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَلَا نُبَشِّرُ النَّاسَ قَالَ إِنَّ فِي الْجَنَّةِ مِائَةَ دَرَجَةٍ أَعَدَّهَا اللَّهُ لِلْمُجَاهِدِينَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ مَا بَيْنَ الدَّرَجَتَيْنِ كَمَا بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ فَإِذَا سَأَلْتُمُ اللَّهَ فَاسْأَلُوهُ الْفِرْدَوْسَ فَإِنَّهُ أَوْسَطُ الْجَنَّةِ وَأَعْلَى الْجَنَّةِ أُرَاهُ فَوْقَهُ عَرْشُ الرَّحْمَنِ وَمِنْهُ تَفَجَّرُ أَنْهَارُ الْجَنَّةِ , قَالَ مُحَمَّدُ بْنُ فُلَيْحٍ عَنْ أَبِيهِ وَفَوْقَهُ عَرْشُ الرَّحْمَنِ 

“Telah bercerita kepada kami Yahyā bin Shālih telah bercerita kepada kami Fulaīh dari Hilāl bin 'Alī dari 'Athā' bin Yasār dari Abū Hurairah ra berkata; Rasulullah saw bersabda: "Barang siapa yang beriman kepada Allah, menegakkan shalat, berpuasa bulan ramadhan, maka sudah pasti Allah akan memasukkannya kedalam surga, baik apakah dia berjihad di jalan Allah atau dia hanya duduk tinggal di tempat di mana dia dilahirkan". Mereka bertanya: "Wahai Rasulullah, apakah tidak sebaiknya kami sampaikan berita gembira ini kepada orang-orang?" Beliau bersabda: "Sesungguhnya di surga itu ada seratus derajat (kedudukan) yang Allah menyediakannya buat para mujahid di jalan Allah dimana jarak antara dua derajat seperti jarak antara langit dan bumi. Untuk itu bila kalian minta kepada Allah maka mintalah surga firdaus karena dia adalah tengahnya surga dan yang paling tinggi. Aku pernah diperlihatkan bahwa diatas firdaus itu adalah singgasanannya Allah Yang Maha Pemurah dimana darinya mengalir sungai-sungai surga". Berkata Muhammad bin Fulaih dari bapaknya: "Diatasnya adalah singgasanannya Allah Yang Maha Pemurah".” (HR. Bukhari).

Al-Qurthubī kemudian melanjutkan bahwa orang-orang tersebut akan berada di Surga ‘Adn bersama dengan orang-orang shaleh dari bapak-bapaknya, istri-istrinya serta anak cucunya. Menurut al-Qurthubī, lafadz min dalam ayat tersebut dapat dibaca nashab sehingga dapat diartikan bahwa orang-orang tersebut memasuki Surga ‘Adn bersama dengan orang-orang shaleh dari bapak-bapaknya walaupun dia tidak beramal sebagaimana halnya amal shalih mereka. Allah swt. menggabungkannya bersama mereka di Surga ‘Adn sebagai penghormatan terhadap mereka. 

Ibnu ‘Abbās berkata bahwa keshalihan yang dimaksud adalah keimanan kepada Allah swt dan Rasul-Nya. Maka jika keimanan tersebut beriringan dengan sejumlah ketaatan lainnya, pastilah mereka memasukinya dengan ketaatan mereka sendiri bukan karena ikut-ikutan.  

Kelak nikmat akan disempurnakan bagi mereka dengan mengumpulkan mereka bersama dengan para keluarga dan kerabatnya di Surga

Terakhir al-Qurthubī mengutip pendapatnya al-Qusyairī yang mengatakan bahwa dalam konteks ini perlu dipertimbangkan pula adanya keimanan. Perkataan yang menyebutkan disyaratkannya amal shalih sama dengan disyaratkannya iman. Akan tetapi yang jelas, keshalihan yang dimaksud adalah perbuatan amal yang baik. Maka dapat disimpulkan bahwa kelak nikmat akan disempurnakan bagi mereka dengan mengumpulkan mereka bersama dengan para keluarga dan kerabatnya di Surga dan tentu saja bukan amal shalih semata yang memasukkan seseorang ke dalam Surga tetapi yang paling utama adalah rahmat Allah swt. 


Kontributor : Muhammad Khoirul Umam