PAC GP Ansor Buaran Gelar Screening Calon Anggota PKD dan Diklatsar 2025 di TPQ Roudhotul Huda Watusalam



Pekalongan – Pimpinan Anak Cabang (PAC) GP Ansor Buaran mengadakan kegiatan screening atau penjaringan awal bagi calon peserta Pelatihan Kepemimpinan Dasar (PKD) dan Pendidikan & Pelatihan Dasar (Diklatsar) Banser tahun 2025. Kegiatan ini berlangsung pada Sabtu malam di TPQ Roudhotul Huda, Watusalam Gang 6.

Screening dilakukan sebagai langkah awal memastikan bahwa calon peserta memiliki komitmen, kesiapan mental, dan motivasi yang kuat untuk mengikuti proses pendidikan kader dan pelatihan kedisiplinan Banser. Dalam proses tersebut, para calon peserta diperkenalkan dengan materi dasar keorganisasian, wawasan kebangsaan, serta tugas dan tanggung jawab seorang kader GP Ansor dan Banser.

Ketua PAC GP Ansor Buaran menyampaikan bahwa screening ini penting untuk menjaga kualitas kader di tahun mendatang.

“Ini merupakan tahap awal untuk mencetak kader yang militan, berintegritas, serta siap mengabdi untuk masyarakat dan Nahdlatul Ulama,” ujarnya.

Kegiatan berlangsung dengan tertib dan penuh antusiasme dari para calon peserta. Setelah tahap screening ini, peserta yang lolos akan mengikuti rangkaian PKD dan Diklatsar resmi yang dijadwalkan pada tahun 2025.

Dengan terselenggaranya kegiatan ini, PAC GP Ansor Buaran berharap mampu melahirkan kader-kader baru yang siap menjadi garda depan dalam perjuangan organisasi serta pengabdian di tengah masyarakat.

Gelar Budaya Hari Santri MWC NU Buaran: Cakra Wasana Silon wana Lan Siwego

 


Buaran — Dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional, Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC NU) Buaran menggelar acara Gelar Budaya dengan tema “Cakra Wasana Silon wana Lan Siwego: Menggapai Harmoni Agama dan Budaya”.

Acara yang digelar di Aula MWC NU Buaran ini berlangsung meriah dan penuh makna, menghadirkan nuansa kolaborasi antara seni, budaya, dan nilai-nilai keislaman.

Dalam sambutannya, salah satu tokoh MWC NU Buaran menyampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk memperkuat semangat santri dalam menjaga warisan budaya sekaligus memperkokoh nilai-nilai keagamaan.

> “Santri tidak hanya menjaga agama, tetapi juga menjadi penjaga kebudayaan lokal yang sarat nilai moral dan kebersamaan,” ujarnya.

Gelar budaya ini menampilkan beragam pertunjukan seni tradisional, seperti musik angklung, dan tembang Jawa yang dibawakan oleh para santri dan warga Nahdliyyin. Suasana semakin khidmat dengan penampilan simbolik “Cakra Wasana Silon wana Lan Siwego” yang mengandung filosofi harmoni antara agama dan budaya sebagai kekuatan bangsa.

Melalui kegiatan ini, MWC NU Buaran berharap semangat santri terus menyala, tidak hanya dalam bidang keilmuan dan keagamaan, tetapi juga dalam menjaga jati diri bangsa melalui pelestarian budaya lokal.

PAC GP Ansor Buaran Gelar Rutinan Rijalul Ansor di Aula Masjid Al-Uswah

 


Buaran, Pekalongan – Pimpinan Anak Cabang (PAC) Gerakan Pemuda Ansor Kecamatan Buaran kembali menggelar kegiatan Rutinan Rijalul Ansor di Aula Masjid Al-Uswah, pada [Jum'at/17  Oktober 2025].

Kegiatan yang diikuti oleh para kader Ansor dan Banser dari berbagai ranting di wilayah Buaran ini berlangsung khidmat dan penuh semangat kebersamaan. Acara diawali dengan pembacaan sholawat nariyah, dilanjutkan dengan tawassul, pembacaan maulid simtudduror, serta tausiyah keagamaan.

Dalam sambutannya, Ketua PAC GP Ansor Buaran, Adrik Hilman, menyampaikan bahwa kegiatan rutinan ini menjadi ajang memperkuat spiritualitas kader sekaligus mempererat tali silaturahmi antaranggota.

> “Rijalul Ansor bukan hanya majelis dzikir, tetapi juga ruang pembinaan rohani agar kader Ansor dan Banser tetap teguh dalam perjuangan, berakhlak, dan cinta kepada Rasulullah SAW,” ujarnya.

Acara ditutup dengan doa bersama untuk keselamatan bangsa, organisasi, serta para masyayikh Nahdlatul Ulama.

Dengan adanya kegiatan rutin seperti ini, diharapkan semangat keagamaan dan militansi kader Ansor Buaran semakin kokoh dalam mengabdi kepada agama, bangsa, dan organisasi.

Tiga Orang Tua yang Harus Dimuliakan Menurut Ajaran Islam

Dalam ajaran Islam, setiap individu tidak hanya memiliki dua orang tua yang harus dihormati, melainkan tiga sosok “orang tua” yang wajib dimuliakan. Ketiganya memiliki peran besar dalam membentuk kehidupan, karakter, dan jalan kebahagiaan seseorang.

1. Orang Tua yang Melahirkan

Mereka adalah ayah dan ibu kandung yang memiliki jasa paling besar dalam hidup kita. Terutama seorang ibu yang dengan penuh pengorbanan mengandung, melahirkan, dan merawat anaknya dengan kasih sayang tanpa batas — bahkan rela bertaruh nyawa demi kehidupan buah hatinya.


Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

> وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

"Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan 'ah' dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik."

(QS. Al-Isra’: 23)

> وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا

"Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah: 'Wahai Tuhanku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil.'"

(QS. Al-Isra’: 24)

Dari merekalah kita belajar tentang cinta, kesabaran, dan pengorbanan sejati. Mereka menanam benih keimanan (akidah tauhid), menumbuhkan ketaatan (syariah), serta memetik buah kebajikan (akhlak karimah). Maka, keberhasilan seorang anak sejatinya tidak pernah lepas dari doa dan peran orang tuanya.

2. Orang Tua yang Mengajarkan

Sosok ini adalah para guru — mereka yang dengan tulus mengajarkan ilmu, menanamkan nilai, dan menumbuhkan potensi dalam diri kita. Jika orang tua kandung melahirkan dan membesarkan, maka guru melatih dan menumbuhkan agar anak menjadi insan yang berilmu dan berakhlak.


Guru bukan sekadar penyampai pengetahuan (transfer of knowledge), tetapi juga penanam nilai-nilai kemuliaan (transfer of value), pengembang keterampilan dan kemandirian (transfer of skill), serta pengajar kebijaksanaan (transfer of wisdom).

Murid yang hebat tidak lahir begitu saja, melainkan dari tangan dan bimbingan guru yang tulus dan berilmu. Rasulullah SAW bersabda:

> لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يُجِلَّ كَبِيرَنَا، وَيَرْحَمْ صَغِيرَنَا، وَيَعْرِفْ لِعَالِمِنَا حَقَّهُ

“Tidak termasuk golongan kami orang yang tidak memuliakan yang lebih tua, tidak menyayangi yang lebih muda, dan tidak mengetahui hak orang berilmu (agar diutamakan pandangannya).”

(HR. Ahmad)

Guru adalah pencerah kehidupan, penerus tugas para nabi dalam menuntun manusia menuju jalan kebenaran.

3. Orang Tua yang Menikahkan

Sosok ketiga yang patut dimuliakan adalah mertua, yaitu orang tua dari pasangan hidup kita. Jika orang tua kandung melahirkan dan membesarkan, guru mendidik dan mengajarkan, maka mertua menyerahkan putra atau putrinya kepada kita dengan penuh keikhlasan dan harapan.

Mereka mempercayakan anak yang telah mereka rawat dan didik dengan penuh cinta, agar menjadi pendamping hidup yang membawa kebahagiaan dan keberkahan.

Rasulullah SAW bersabda:


> "Yang paling berhak atas seorang wanita adalah suaminya, dan yang paling berhak atas seorang lelaki adalah ibunya."

(HR. Tirmidzi)

Hadis ini mengajarkan agar seorang menantu menghormati dan memuliakan orang tua dari pasangan hidupnya. Sebab, pasangan yang baik dan saleh adalah hasil didikan dari kedua orang tuanya.

keutamaan kalimat tauhid “Lā ilāha illallāh”

 

Hadis Nabi ﷺ dari Abu Sa‘id al-Khudri dan Mu‘ādz bin Jabal,

Riwayat dari Abu Bakr,

Kutipan dari Ibnu Hajar, an-Nasā’ī, Ibnu Hibban, dan lainnya.

Isinya menegaskan keutamaan kalimat tauhid “Lā ilāha illallāh”, di antaranya:

Nabi Musa عليه السلام bertanya kepada Allah tentang zikir yang paling utama, lalu Allah menjawab “Lā ilāha illallāh.”

Iblis mengatakan bahwa manusia binasa karena dosa, namun selamat dengan Lā ilāha illallāh dan istighfar.

Hadis dari Mu‘ādz: “Barang siapa akhir perkataannya adalah Lā ilāha illallāh, maka ia masuk surga.”

Kalimat لَا إِلٰهَ إِلَّا الله diulang beberapa kali di halaman itu sebagai pengingat utama.

PR GP Ansor Simbang Wetan Gelar Rutinan Pembacaan Barzanji Setiap Malam Rabu


Simbang Wetan – Pimpinan Ranting (PR) Gerakan Pemuda Ansor Simbang Wetan terus menjaga tradisi keagamaan dengan menggelar kegiatan rutinan pembacaan Kitab Barzanji yang dilaksanakan setiap malam Rabu, dua minggu sekali.

Kegiatan yang dilaksanakan secara bergilir di tiap mushola/Masjid ini diikuti oleh kader Ansor dan Banser, serta masyarakat sekitar. Suasana penuh khidmat dan kebersamaan terasa saat lantunan shalawat dan puji-pujian kepada Nabi Muhammad SAW dikumandangkan bersama-sama.

Ketua PR GP Ansor Simbang Wetan, M Fuad, menyampaikan bahwa kegiatan rutinan ini menjadi sarana mempererat tali silaturahmi sekaligus memperkuat nilai-nilai keagamaan di kalangan pemuda.

> “Selain untuk meneladani akhlak Rasulullah, kegiatan ini juga menjadi wadah memperkokoh ukhuwah dan menumbuhkan semangat kebersamaan antar kader,” ujarnya.

Melalui pembacaan Barzanji, para kader Ansor berharap dapat terus menghidupkan budaya shalawat dan menjadikan kegiatan ini sebagai benteng moral di tengah masyarakat.

Kegiatan ditutup dengan doa bersama untuk keselamatan bangsa serta keberkahan bagi seluruh warga Simbang Wetan.